Siapa Rumeysa Ozturk? Mahasiswi Turki yang Terancam Dideportasi dari AS Karena Bela Palestina

Rumeysa Ozturk, warga negara Turki yang menempuh Pendidikan doctor di AS namun saat ini ditahan di penjara di Louisiana (Fot oleh Reem Alattas, Credit: MiddleEastEye)

Jalur Gaza, SPNA – Rumeysa Ozturk, warga negara Turki berusia 30 tahun yang tengah menempuh program studi doktor di AS dengan visa pelajar, kini ditahan di South Louisiana Processing Center di Louisiana. 

Ozturk dituduh mendukung Hamas, meskipun hingga kini Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) belum mengungkapkan bukti atas tuduhan tersebut. Ozturk juga tidak menghadapi dakwaan pidana apa pun.

Penangkapannya terjadi pada 25 Maret 2025, ketika agen ICE bertopeng dan berpakaian sipil mendekatinya di jalan dekat rumahnya di Massachusetts sebelum membawanya ke tahanan.

Presiden Donald Trump sebelumnya berjanji akan mendeportasi mahasiswa asing yang terlibat dalam aksi pro-Palestina, menuduh mereka antisemitisme, mendukung Hamas, dan menjadi ancaman bagi keamanan nasional.

Siapa Rumeysa Ozturk?

Ozturk adalah mahasiswi doktor di Departemen Studi Anak dan Perkembangan Manusia Eliot-Pearson, Tufts University. Sebelumnya, ia meraih gelar master dari Teachers College, Columbia University, dengan fokus pada psikologi perkembangan dan media anak, lulus pada 2020.

Sebagai penerima hibah bergengsi Fulbright Scholar, Ozturk datang ke AS untuk memperdalam ilmunya dengan misi mempererat pemahaman antara masyarakat Amerika dan komunitas global.

Mengapa Ia Menjadi Sasaran?

Teman dan rekan akademiknya meyakini bahwa Ozturk ditargetkan karena aktivitasnya mendukung Palestina. Salah satu faktor utama yang diduga menjadi pemicu adalah artikelnya di Tufts Daily, surat kabar kampus, yang diterbitkan pada Maret 2024.

Dalam artikel itu, Ozturk dan beberapa penulis lain menyerukan agar Tufts University mengakui adanya genosida terhadap rakyat Palestina, mengungkap serta menarik investasinya dari perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Israel

Tak lama setelah artikel itu terbit, foto dan informasi pribadi Ozturk diunggah ke Canary Mission, sebuah situs web yang menargetkan individu dan organisasi yang dianggap anti semit. Kritikus menuduh situs ini digunakan untuk mendiskreditkan mahasiswa pro-Palestina dan menekan kritik terhadap Israel.

Rumeysa Ozturk di mata sahabatnya

Reem Alattas, teman dekat Ozturk sejak masa kuliah di Columbia University, menggambarkannya sebagai sosok yang baik dan penuh empati. Ia mengenang bagaimana Ozturk membantunya saat terjangkit Covid-19 pada Maret 2020 dengan mengantarkan kebutuhan medis dan bahan makanan, meskipun harus menghadapi resiko tertular.

“Saya masih ingat betul, dia meletakkan semua barang di luar pintu saya, mengetuk, lalu mundur beberapa langkah untuk memastikan saya mengambilnya sebelum pergi. Ia jelas takut tertular, tetapi tetap ingin membantu saya,” kata Alattas.

Tak hanya itu, Ozturk juga dikenal sebagai sosok yang penuh perhatian. Alattas menceritakan bagaimana Ozturk dan teman-temannya mengatur pesta kejutan untuk ulang tahunnya di tengah kesibukan ujian akhir.

Rekan-rekan akademiknya juga mengecam penahanan Ozturk. Reyyan Bilge, asisten profesor di Northeastern University yang mengenalnya selama satu dekade, menyebut Ozturk sebagai mahasiswa yang cerdas, pekerja keras, dan penuh empati.

“Saya tidak menyangka ICE akan menargetkan mahasiswa dengan visa yang sah. Ini benar-benar tidak masuk akal,” ujar Bilge.

Reaksi dan Dampak Penahanan Ozturk

Seorang hakim federal di Massachusetts telah memerintahkan agar Ozturk tidak boleh dideportasi untuk sementara waktu. Namun, penahanannya tetap menuai kritik luas dari komunitas akademik dan aktivis.

Tufts University juga mengeluarkan pernyataan yang menggambarkan Ozturk sebagai pribadi yang berharga dengan dedikasi luar biasa terhadap dunia pendidikan dan sesama mahasiswa.

Rekan-rekan mahasiswa juga menyuarakan dukungan mereka, menekankan bahwa Ozturk adalah sosok yang menginspirasi dan peduli terhadap perlindungan anak serta hak asasi manusia.

Ketakutan di Kalangan Mahasiswa Internasional

Kasus Ozturk mempertegas kekhawatiran mahasiswa internasional di AS yang merasa rentan terhadap deportasi meskipun memiliki visa yang sah.

“Sangat menyedihkan menyadari hal ini bisa terjadi pada seseorang seperti dia. Bagaimana jika saya bukan warga negara AS? Bagaimana jika anak-anak saya bukan warga negara AS? Apa gunanya tinggal di sini jika kami terus-menerus merasa terancam?” ungkap Bilge.

Sementara itu, komunitas akademik dan aktivis terus menuntut kejelasan dari pemerintah AS serta keadilan bagi Rumeysa Ozturk.

(T.RS/S:MiddleEastEye)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya