“Setiap Orang Arab Harus Dibunuh”: Bukti Baru Tegaskan Operasi Teror Zionis yang Mendorong Nakba 1948

Penduduk Palestina duduk dengan latar belakang Kamp Pengungsi Jaramana di Damaskus, Suriah pada tahun 1948, setelah diusir dan tanahnya dirampas oleh Israel. (Foto: Wikimedia Commons)

Yerusalem, SPNA – Dokumen-dokumen baru dari Israel telah muncul yang menegaskan bahwa milisi Zionis menggunakan pembantaian, pemerkosaan, dan pengusiran untuk melakukan pembersihan etnis terhadap sekitar 800.000 penduduk Palestina demi mendirikan negara Israel pada 1948.

Haaretz melaporkan pada Jumat (27/02/2026) bahwa dokumen-dokumen tersebut berisi kesaksian langsung tentang perang 1948 (yang oleh penduduk Palestina dikenal sebagai Nakba) yang ditulis oleh para komandan milisi Zionis, yang kemudian menjadi inti dari militer Israel.

Dokumen-dokumen itu ditemukan setelah seseorang meninggalkan kotak-kotak berisi ribuan dokumen di samping sebuah tempat sampah di lingkungan Tel Aviv dua tahun lalu.

Menurut surat kabar Israel tersebut, penemuan dokumen ini “sepenuhnya mematahkan narasi Israel yang menyatakan bahwa penduduk Arab di negara itu melarikan diri atas kehendak mereka sendiri atas perintah para pemimpin mereka.”

Dokumen-dokumen tersebut mencakup catatan perang yang ditulis oleh Yitzhak Broshi, komandan Batalion ke-12 Golani. Broshi menjelaskan bahwa ia memerintahkan untuk meratakan desa Arab a-Zabah, sebuah komunitas Badui di Galilea Hilir, dan membunuh setiap orang yang ditemukan di sana. “Setiap orang Arab di antara Zabahim harus dibunuh,” demikian bunyi perintahnya.

Dalam kasus lain, Broshi memerintahkan pasukannya untuk mencari warga Arab yang bersembunyi di wilayah Gunung Turan di Galilea Hilir setelah wilayah itu ditaklukkan. “Bunuh siapa pun yang bersembunyi,” demikian isi perintah tersebut.

Haaretz mencatat bahwa meskipun hampir 80 tahun telah berlalu sejak Nakba, yang oleh orang Israel disebut sebagai “Perang Kemerdekaan,” banyak materi di arsip Israel masih dirahasiakan. Akibatnya, “ingatan sejarah di Israel adalah sebuah penipuan”.

“Sekarang dapat dipastikan, berdasarkan rentang bukti yang mengesankan, bahwa IDF (tentara Israel) secara sistematis dan dengan kekerasan mengusir orang Arab selama Perang Kemerdekaan. Pengusiran itu dilakukan melalui pembantaian, pembunuhan, dan berbagai tindakan yang bertujuan meneror penduduk sipil ini dan mempercepat pelarian mereka,” simpul Haaretz.

“Bagaimana Anda mengusir sebuah desa?” tanya Maxim Cohen, seorang komandan Brigade Carmeli. “Anda memotong telinga salah satu orang Arab di depan mata semua orang, dan mereka semua akan melarikan diri. Dalam praktiknya, tidak ada desa yang dikosongkan tanpa menusuk seseorang di perut atau dengan cara-cara serupa. Kami menang hanya berkat ketakutan orang Arab, dan mereka takut hanya pada tindakan yang tidak sesuai hukum”.

Haim Ben-David, yang kemudian berpangkat mayor jenderal dan menjadi sekretaris militer perdana menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, menjelaskan bahwa perintah untuk membunuh dan mengusir penduduk sipil Palestina selama perang 1948 diberikan secara lisan, bukan tertulis.

“Dalam perintah operasional kami, kami berhati-hati untuk tidak menyebutkan pembunuhan. Perintah terkait tindakan disampaikan secara lisan kepada para komandan batalion,” jelas Ben-David.

Yisrael Carmi, komandan batalion di Brigade ke-7, menyatakan bahwa selama penaklukan Beersheba pada Oktober 1948, ia memerintahkan agar setiap penduduk Palestina yang menolak pengusiran dieksekusi.

“Saya menaklukkan kota itu,” kesaksian Carmi. “Dalam pembersihan wilayah tersebut, saya memerintahkan untuk memusnahkan siapa pun yang muncul di jalan, baik mereka melawan maupun tidak. Perintah diberikan untuk menghancurkan segalanya. Setelah penaklukan kantor polisi—setelah penyerahan diri—pembunuhan berhenti. Hingga saat itu, semua orang dibunuh—perempuan, anak-anak, semuanya. Lalu perintah diberikan agar orang-orang pergi ke Hebron. Siapa pun yang tidak pergi ‘disingkirkan.’”

Mordechai Maklef, seorang perwira operasi, menjelaskan, “Tujuannya adalah untuk mengusir.”

“Tidak mungkin mengusir 114.000 orang yang tinggal (di Galilea) tanpa teror. Harus ada unsur teror awal agar mereka pergi.”

Dalam upaya menyembunyikan sejarah ini, Israel hanya merilis satu juta berkas dari total 17 juta berkas di Arsip Negara Israel serta Arsip Angkatan Darat dan Pertahanan.

Staf arsip diberi tahu untuk menyembunyikan “materi yang dapat merusak citra (tantara) sebagai tentara pendudukan tanpa landasan moral, [yang menunjukkan] perilaku kekerasan terhadap penduduk Arab dan tindakan kejam (pembunuhan).”

Mereka juga diminta mencegah publikasi dokumen yang menunjukkan “pengusiran orang Arab” dan “perintah untuk melukai penyusup (orang Arab yang mencoba kembali ke desa mereka).”

Meskipun dokumen yang mengungkap pembunuhan dan pengusiran penduduk Palestina untuk mendirikan negara Israel telah muncul, beberapa pemimpin Israel secara pribadi mengakui apa yang telah dinyatakan penduduk Palestina selama beberapa dekade.

Dalam rapat kabinet yang diadakan setelah perang 1948, menteri dalam negeri Israel saat itu, Yitzhak Gruenbaum, membahas bagaimana perintah “untuk membersihkan wilayah” telah dikeluarkan.

“Siapa pun yang melihat dari luar semua persoalan ini tidak dapat menemukan penjelasan atas pelarian orang Arab. Masuk akal bahwa mereka dipaksa melarikan diri karena (orang-orang) merampok, memperkosa, membunuh, dan mengusir,” katanya.

Salah satu pembantaian terbesar selama Nakba terjadi di kota Dawayima, di wilayah Lachish di Negev utara. Menurut kesaksian seorang tentara, Meir Efron, kepada partai politik Mapam, “Tidak ada pertempuran dan tidak ada perlawanan. Para penakluk pertama membunuh 80 hingga 100 orang Arab (laki-laki), perempuan, dan anak-anak.”

“Seorang komandan memerintahkan penjinak ranjau untuk memasukkan dua perempuan Arab lanjut usia ke dalam sebuah rumah, lalu meledakkannya bersama mereka di dalam. Seorang tentara lain membanggakan bahwa ia telah memperkosa seorang perempuan Arab lalu menembaknya. Seorang perempuan yang menggendong bayi yang baru lahir bekerja sebagai pembersih. Ia bekerja selama satu atau dua hari, dan pada akhirnya mereka menembaknya dan bayinya.”

Haaretz mencatat bahwa menurut ratusan kesaksian penduduk Palestina yang dikumpulkan oleh sejarawan Palestina Salah Abd al-Jawad, setidaknya 100 pembantaian terhadap penduduk sipil Palestina terjadi selama Nakba, di satu dari setiap lima desa yang direbut oleh militer Israel yang baru terbentuk.

Dalam enam pembantaian tersebut, pasukan Israel membunuh antara 50 hingga 100 korban.

Penelitian Jawad menemukan pola empat tahap selama penaklukan wilayah yang kemudian menjadi Israel: pasukan Israel mengepung desa-desa dari tiga arah, meneror penduduk Palestina dengan tembakan dan pengeboman; mereka mengizinkan sebagian penduduk melarikan diri ke negara tetangga; membunuh penduduk Palestina yang tidak pergi, terutama laki-laki berusia 15 hingga 50 tahun; serta meledakkan dan membakar rumah-rumah, sering kali dengan orang-orang masih berada di dalamnya. Pasukan Israel disebut menggunakan metode serupa di Gaza sejak 2023.

“Itulah pola yang berlangsung selama ini. Israel menyebabkan kematian sekitar 100.000 penduduk Palestina di Jalur Gaza setelah 7 Oktober, tetapi tidak satu pun tentara didakwa atas pembunuhan atau pembunuhan tidak disengaja. Hingga tulisan ini dibuat, satu tentara diadili karena penjarahan,” tulis Haaretz.

“Penyangkalan atas kejahatan 1948 telah memicu puluhan tahun konflik. Apa yang akan ditimbulkan oleh penyangkalan atas kejahatan di Gaza terhadap kita?” tanya surat kabar Israel tersebut.

(T.FJ/S: The Cradle)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya