Sekjen PBB: Gaza Jadi Ladang Kematian akibat Kebiadaban Israel

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, kanan, berbicara dengan Duta Besar Inggris untuk PBB Barbara Woodward sebelum pertemuan Dewan Keamanan PBB, 24 Maret 2025. (Foto AP/Richard Drew)

New York, SPNA – Sekjen PBB,  António Guterres, mengutuk keras genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza. Dalam pidato dari markas besar PBB di New York, Rabu (09/04/2025), Guterres menyebut Gaza telah berubah menjadi “ladang pembantaian” akibat blokade brutal Israel yang melumpuhkan akses bantuan makanan dan medis.

Dalam pernyataan yang dilansir Al-Jazeera (09/04/2025), Guterres mengecam hancurnya kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah membuka peluang bagi pembebasan sandera dan pengiriman bantuan kemanusiaan. 

“Ketika gencatan senjata masih berlangsung, bantuan kemanusiaan berhasil menjangkau hampir seluruh wilayah Gaza.  Namun semua itu berakhir saat gencatan senjata dihancurkan oleh ambisi dan pembantaian yang dilakukan Israel.”

“Harapan rakyat Palestina di Gaza dan keluarga para sandera di Israel tenggelam kembali,” ujar Guterres. Ia menegaskan kembali seruannya untuk pembebasan semua sandera segera dan tanpa syarat, menghentikan perang secara permanen, serta menjamin akses bantuan kemanusiaan. 

Menurutnya, blokade total Israel terhadap Jalur Gaza telah mengacaukan sistem keamanan dan secara sistematis menggagalkan upaya distribusi bantuan kemanusiaan. “Klaim adanya cukup makanan untuk seluruh penduduk Gaza adalah ilusi yang jauh dari realita di lapangan. kebutuhan pokok di Gaza berada pada level yang sangat rendah,” tegasnya.

Dalam bagian pidatonya yang paling tajam, Guterres menegaskan bahwa Israel sebagai negara pendudukan memiliki kewajiban hukum internasional yang sangat jelas berdasarkan Konvensi Jenewa Keempat. Ia merujuk pada tiga pasal penting yang menyatakan bahwa Israel wajib menjamin suplai makanan dan bantuan medis kepada warga sipil, memelihara layanan kesehatan dan rumah sakit di wilayah yang diduduki, serta mengizinkan dan memfasilitasi rencana-rencana bantuan untuk warga sipil yang kekurangan kebutuhan dasar.

“Tidak satupun dari kewajiban ini yang dijalankan hari ini,” kata Guterres dengan nada geram karena bantuan kemanusiaan tertahan di perbatasan, peralatan medis rusak, dan pasokan pangan membusuk tanpa bisa masuk ke Gaza. Di saat yang sama, pekerja kemanusiaan PBB terus menjadi sasaran serangan militer Israel.

Lebih lanjut, Guterres mendesak dilakukannya penyelidikan independen terhadap pembunuhan para pekerja kemanusiaan, termasuk staf PBB sendiri, yang tewas dalam serangan Israel. “Dunia mungkin kehabisan kata-kata untuk menggambarkan penderitaan di Gaza, tetapi kita tidak akan pernah lari dari kebenaran,” tegasnya.

Pidato Guterres disampaikan menyusul kebrutalan militer Israel yang menelan lebih dari 50.800 warga Palestina sejak Oktober 2023, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Gaza berubah menjadi ladang genosida modern yang dilakukan terang-terangan, dengan dunia yang seolah bungkam atau tak berdaya.

Sementara itu, Israel kini menghadapi tekanan hukum internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Galant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. 

(T.RS/S:Al-Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya