Gaza, SPNA – Meskipun pejuang Palestina, khususnya Hamas, setuju untuk berdamai, Israel berulang kali memilih eskalasi daripada sebaliknya. Sejak Oktober 2023 silam, bulan yang sama terjadinya perang genosida Israel di Jalur Gaza, pihak Palestina telah beberapa kali menerima tawaran gencatan senjata yang terus ditolak Israel. Berikut ini adalah sejumlah upaya gencatan senjata yang gagal sejak Oktober 2023:
Oktober 2023
Hamas menerima tawaran gencatan senjata dari mediator seperti Qatar, mendesak Israel untuk tidak menghentikan bantuan kemanusiaan. Israel menolak tawaran itu dan melanjutkan serangan udara yang menyebabkan semakin banyaknya korban sipil. Setidaknya 500 penduduk sipil Palestina dibunuh dalam eskalasi ini.
November 2023
Setelah Israel mengebom Gaza pada November 2023, membunuh lebih dari 100 penduduk sipil Palestina, Hamas menyetujui gencatan senjata selama 72 jam. Israel menolak, dengan alasan “gencatan senjata tidak sesuai dengan kepentingan mereka,” dan terus menargetkan wilayah sipil di Gaza dengan serangan udara.
Desember 2023
Hamas menerima kesepakatan gencatan senjata lainnya, kali ini dimediasi oleh PBB dan Mesir. Meskipun Hamas menerima kesepakatan tersebut, Israel menolak kesepakatan tersebut. Israel menolak untuk menghentikan operasi militer sebagai syarat gencatan senjata. Hal ini menyebabkan gelombang kehancuran lainnya di Gaza.
Januari 2024
Setelah serangan udara Israel membunuh lebih dari 80 penduduk sipil Palestina dalam beberapa hari pertama 2024, Hamas menyatakan kesediaannya untuk menghentikan tembakan dengan imbalan akses bantuan kemanusiaan. Israel kembali menolak tawaran tersebut, melanjutkan serangannya dan semakin memperketat pengepungan terhadap Gaza.
Maret 2024
Akibat Gaza menghadapi krisis kemanusiaan, Hamas menyetujui gencatan senjata singkat untuk pengiriman bantuan. Israel menolak usulan tersebut, menuduh Hamas menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai “alat tawar-menawar”. Israel terus melanjutkan serangan udara dan mencegah bantuan kemanusiaan vital mencapai penduduk sipil Palestina yang semakin menderita.
April 2024
Pada awal April 2024, setelah serangkaian serangan mematikan oleh pasukan Israel di Gaza, Hamas menerima gencatan senjata yang ditengahi Mesir. Israel menolaknya dan melanjutkan operasi dengan kedok “antiterorisme”. Genosida Israel semakin menelan lebih banyak korban sipil yang disengaja.
Mei 2024
Hamas menawarkan banyak gencatan senjata pada bulan Mei 2024, di tengah operasi mematikan Israel di Gaza. Israel menolak setiap kali, dengan menyatakan tujuannya untuk menghancurkan infrastruktur militer pejuang Palestina. Korban penduduk sipil Palestina semakin meningkat dengan cepat.
Juni 2024
Di tengah meningkatnya korban sipil di Jalur Gaza, Hamas menyerukan gencatan senjata karena alasan kemanusiaan. Israel menolak tawaran tersebut, melanjutkan serangan udara dan menghalangi bantuan internasional memasuki Gaza, yang semakin memperdalam krisis kemanusiaan.
Agustus 2024
Hamas menerima usulan gencatan senjata jangka pendek yang ditujukan untuk memberikan bantuan kepada warga sipil, akan tetapi Israel menolaknya mentah-mentah. Israel menuntut lebih banyak waktu untuk mengejar tujuan militernya. Meskipun seruan dari masyarakat internasional untuk perdamaian, kekerasan terus berlanjut.
September 2024
Mesir, AS, dan Qatar semuanya menengahi kesepakatan gencatan senjata pada September 2024 yang disetujui Hamas. Namun, Israel menolak kesepakatan tersebut, dengan alasan bahwa kesepakatan tersebut tidak mengatasi “semua masalah keamanan Israel”, meskipun ada desakan internasional yang sangat kuat untuk perdamaian.
Oktober 2024
Hamas menerima gencatan senjata 48 jam yang diusulkan oleh PBB untuk memungkinkan pasokan penting masuk ke Gaza. Israel menolak tawaran itu, dengan alasan “masalah keamanan”. Pengeboman terus berlanjut dan infrastruktur Gaza semakin hancur.
November 2024
Meskipun tekanan internasional meningkat, Hamas menerima usulan gencatan senjata yang dimediasi oleh Mesir dan PBB. Israel menolaknya, dengan mengklaim bahwa Hamas tidak memenuhi persyaratan tertentu, sambil melanjutkan serangannya, yang mengakibatkan lebih banyak kematian di kalagan penduduk sipil Palestina.
Desember 2024
Hamas sekali lagi menerima gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Turki setelah pemboman besar-besaran di Jalur Gaza. Israel menolak dan melanjutkan serangannya, serta menolak jeda apa pun. Jumlah korban jiwa di kalangan sipil di Gaza terus meningkat.
Israel Tidak Dapat Dipercaya
Mengingat penolakan Israel yang konsisten terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2023, jelas bahwa Israel tidak dapat dipercaya untuk melakukan de-eskalasi. Setiap kali Hamas menerima, Israel menolak, menunjukkan pola jelas dalam memprioritaskan eskalasi militer dan terorisme dibandingkan perdamaian.
Pada Rabu malam (15/01/2025), Perdana Menteri Qatar dan Menteri Luar Negeri Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani mengumumkan bahwa kesepakatan pertukaran tahanan dan gencatan senjata di Jalur Gaza telah dicapai antara Israel dan Hamas.
Meskipun demikian, Israel sama sekali tidak bisa dipercaya. Kementerian Kesehatan Palestina dan Pertahanan Sipil di Jalur Gaza, pada Kamis (16/01/2024), mengumumkan bahwa sejak pengumuman perjanjian gencatan senjata, tentara Israel telah membunuh 71 penduduk Palestina, termasuk lebih dari 19 anak-anak.
Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, pada Kamis (16/01/2025), mengumumkan bahwa pemboman dan serangan genosida Israel di Jalur Gaza, yang telah berlangsung sejak Oktober 2023, telah membunuh 46.788 penduduk Palestina dan 110.453 lainnya mengalami luka-luka.
Sebelumnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan bahwa hampir 70 persen perempuan dan anak-anak merupakan korban jiwa dalam perang Israel di Jalur Gaza antara November 2023 dan April 2024.
(T.FJ/S: X/Stairway3dom, RT Arabic)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!