Tel Aviv, SPNA – Di suatu tempat di bawah kompleks beton di Ramla, tenggara Tel Aviv, puluhan warga Palestina dari Gaza hidup tanpa cahaya matahari, tanpa kabar keluarga, dan tanpa tahu kapan hari akan berganti. Mereka bukan tahanan yang sudah divonis. Mereka bahkan tidak pernah didakwa, apalagi diadili.
Fasilitas itu bernama Penjara Rakefet, dari bahasa Ibrani yang berarti “bunga siklamen”. Penjara bawah tanah ini menjadi simbol kekejaman penahanan Israel terhadap warga Gaza pasca perang 2023.
Berdasarkan hasil investigasi The Guardian, sedikitnya seratus orang ditahan di ruang bawah tanah ini. Beberapa di antaranya adalah warga sipil: seorang perawat berusia 34 tahun yang ditangkap di rumah sakit tempat ia bekerja, serta seorang pedagang makanan remaja yang disergap di pos pemeriksaan militer. Keduanya ditahan berbulan-bulan tanpa tuduhan dan tanpa melihat cahaya matahari.
“Mereka bukan tahanan keamanan tinggi, mereka adalah warga sipil,” kata Janan Abdu, pengacara dari Public Committee Against Torture in Israel (PCATI), yang mewakili dua di antara mereka. “Seorang berusia 18 tahun hanya menjual makanan. Ia diambil begitu saja di jalan.”
Rakefet dibangun pada awal 1980-an untuk menahan penjahat paling berbahaya di Israel. Namun, penjara ini ditutup hanya beberapa tahun kemudian karena dianggap tidak manusiawi. Mantan kepala Dinas Penjara Israel, Rafael Suissa, menulis dalam memoarnya bahwa “menahan manusia di bawah tanah 24 jam sehari terlalu kejam, terlalu tidak manusiawi untuk ditanggung siapa pun.”
Penjara itu terkubur dalam arsip sejarah sampai Itamar Ben-Gvir, menteri keamanan dalam negeri dari kelompok sayap kanan ekstrem, memerintahkan pembukaannya kembali setelah serangan 7 Oktober 2023. Ia menyebut Rakefet sebagai “tempat alami bagi para teroris, di bawah tanah.”
Dalam kunjungan yang disiarkan televisi, Ben-Gvir berpose di lorong sempit dengan pintu-pintu biru bernomor. Di baliknya, manusia hidup dalam gelap dan pengap.
Semua fasilitas di Rakefet, dimulai dari sel, ruang pertemuan pengacara, hingga lapangan olahraga kecil berada sepenuhnya di bawah tanah. Tidak ada jendela. Tidak ada ventilasi alami. Tidak ada siang dan malam.
Penjara ini semula hanya mampu menampung 15 orang, namun kini diisi sekitar 100 tahanan. Di dalam sel yang sempit itu, tiga hingga empat orang disatukan dalam ruangan tanpa udara. Para pengacara yang mengunjungi menggambarkan udara di sana “menyesakkan dan lembab seperti kuburan.”
Mereka hanya diizinkan keluar dari sel beberapa menit setiap dua hari. Kasur disita setiap pukul empat pagi, baru dikembalikan malam hari. “Kami bertemu mereka dalam keadaan tangan dan kaki dibelenggu, kepala ditekan ke lantai,” ujar Abdu.
Menurut pengacara Saja Misherqi Baransi, rekan Abdu di PCATI, dua kliennya telah mendekam sembilan bulan di bawah tanah. “Begitu kami duduk, perawat itu bertanya, ‘Di mana saya? Mengapa saya di sini?’ Ia bahkan tidak tahu nama penjara tempat ia disekap,” kata Baransi.
Pria itu terakhir melihat sinar matahari pada 21 Januari 2025, saat dipindahkan ke Rakefet setelah sebelumnya berpindah dari satu pusat penahanan militer ke lainnya, termasuk kamp bersejarah Sde Teiman.
Para tahanan melaporkan pola kekerasan brutal mereka terima dari pemukulan, serangan anjing, penjaga yang menginjak tubuh mereka, hingga penolakan perawatan medis. Mereka hanya menerima makanan jika sudah sangat lapar. Pengadilan Tinggi Israel bahkan memutuskan bulan ini bahwa pemerintah “tidak menyediakan makanan yang layak bagi tahanan Palestina.”
“Meski perang dinyatakan berakhir, mereka masih diperlakukan dengan cara yang melanggar hukum kemanusiaan internasional,” kata pernyataan resmi PCATI.
Direktur PCATI, Tal Steiner, menyebut kondisi di Rakefet sebagai bentuk penyiksaan terselubung. “Menahan orang tanpa cahaya selama berbulan-bulan memiliki dampak ekstrem terhadap kesehatan mental,” ujarnya.
Tubuh kehilangan ritme biologisnya. Produksi vitamin D menurun. Tidur menjadi kacau. Sistem kekebalan tubuh melemah. “Sangat sulit menjaga kewarasan dalam kondisi sekejam itu,” katanya.
Bahkan aktivis HAM yang rutin mengunjungi penjara Israel sebelumnya tidak tahu keberadaan Rakefet. “Kami baru mendengar namanya setelah Ben-Gvir mengumumkan pembukaannya,” kata Steiner.
Kementerian Kehakiman Israel menolak berkomentar dan melempar tanggung jawab ke militer. Militer mengalihkannya kembali ke Dinas Penjara Israel (IPS). IPS hanya menjawab singkat: “Kami beroperasi sesuai hukum dan di bawah pengawasan resmi.”
Data rahasia Israel sendiri, yang dikutip The Guardian, menunjukkan bahwa mayoritas warga Gaza yang ditahan selama perang adalah warga sipil, bukan anggota kelompok bersenjata.
Rakefet kini menjadi simbol kebijakan penahanan tanpa dasar hukum. Ribuan orang masih ditahan di berbagai fasilitas Israel, bahkan setelah gencatan senjata dan pembebasan massal lebih dari 1.700 tahanan Gaza.
Namun, di ruang gelap Rakefet, seorang perawat dan ratusan orang lain tetap terkubur dalam senyap. Mereka tidak tahu apakah keluarga mereka masih hidup, atau apakah dunia di atas tanah masih mengingat mereka. Dalam kata-kata yang ditinggalkan oleh salah satu tahanan muda kepada pengacaranya:
“Kau adalah orang pertama yang kulihat sejak aku ditangkap. Tolong datang lagi, agar aku tahu aku belum mati.”
(T.RS/S:TheGuardian)