Damaskus, SPNA – Israel melancarkan 100 serangan udara ke wilayah Suriah, termasuk ibu kota Damaskus. Laporan media setempat dan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris mengungkapkan, lebih dari 100 serangan menargetkan lokasi-lokasi militer. Salah satu target utama adalah pusat penelitian yang diduga terkait produksi senjata kimia.
Israel berdalih serangan ini bertujuan mencegah senjata jatuh ke tangan kelompok ekstremis setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad. Namun, langkah ini memicu kecaman internasional. Dewan Keamanan PBB telah mengadakan pertemuan khusus untuk membahas situasi di Suriah, menekankan pentingnya menjaga integritas wilayah dan memastikan perlindungan bagi warga sipil.
Israel juga meningkatkan aktivitas di Dataran Tinggi Golan yang diduduki sejak 1967. Militer Israel merilis foto pasukan mereka di zona demiliterisasi, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut keruntuhan rezim Assad sebagai “hari bersejarah” di Timur Tengah.
Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel hanya mengambil langkah sementara di wilayah tersebut, sembari menghancurkan senjata strategis seperti rudal dan sistem pertahanan udara. Menteri Pertahanan Israel, Yirael Katz, menyebut tindakan ini penting untuk melindungi warga Israel.
Reaksi dan Implikasi Regional
Keruntuhan rezim Assad membawa perubahan besar dalam dinamika regional. Kelompok oposisi Islam Hayat Tahrir al-Sham (HTS) kini menguasai sebagian besar Suriah.
Di sisi lain, keterlibatan Hizbullah dan Rusia dalam perang Suriah menjadi sorotan. Dengan fokus Rusia pada invasi Ukraina dan keterlibatan Hizbullah di perang Gaza, HTS dan kelompok pemberontak lainnya mengambil keuntungan untuk memperkuat posisi mereka. Sementara itu, serangan udara Israel yang semakin intens memperburuk situasi keamanan di kawasan.
Serangan Israel ini bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, Israel telah melancarkan ratusan serangan terhadap target di Suriah yang dianggap terkait dengan Iran dan Hizbullah. Intensitas serangan meningkat sejak perang di Gaza pada Oktober 2023, menyusul serangan lintas perbatasan oleh kelompok bersenjata dari Lebanon dan Suriah.
Langkah-langkah Israel di Suriah, meskipun diklaim untuk alasan keamanan, tetap memicu kecaman dan kekhawatiran global. Banyak pihak menilai tindakan ini melanggar hukum internasional dan semakin memperumit upaya perdamaian di kawasan tersebut.
(T.RS/S:BBC)
#