Jalur Gaza, SPNA – Qatar menegaskan bahwa proses menuju tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata Gaza masih berlangsung intensif, di tengah meningkatnya tekanan serta pelanggaran Israel yang terus terjadi di wilayah Gaza.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, dalam konferensi pers di Doha pada Selasa (02/12/2025), menyatakan bahwa para mediator regional dan internasional bekerja keras untuk menjaga agar gencatan senjata tidak runtuh, sekaligus mendorong proses menuju fase lanjutan yang lebih jelas dan terstruktur.Ia menekankan bahwa setiap pelanggaran Israel terhadap perjanjian saat ini “merupakan ancaman langsung terhadap stabilitas jeda perang dan mempersempit peluang mencapai solusi yang lebih permanen.”
Dalam skema awal, tahap kedua diperkirakan mencakup pertukaran tahanan dalam jumlah lebih besar, peningkatan akses bantuan kemanusiaan, serta pembahasan langkah-langkah yang dapat mengarah pada penghentian jangka panjang permusuhan.
Sayangnya, hingga kini Israel mensyaratkan agar seluruh jenazah warganya dikembalikan terlebih dahulu sebelum diskusi substansial dapat dilanjutkan. Israel mengklaim masih ada dua jenazah tentara yang belum diterima, sedangkan Hamas menegaskan telah menyerahkan seluruh tawanan hidup berjumlah 20 orang dan 28 jenazah yang telah teridentifikasi.
Situasi kemanusiaan di Gaza tetap berada pada titik kritis. Sejak perang dimulai pada 8 Oktober 2023, lebih dari 70.000 warga Palestina terbunuh dan lebih dari 170.000 lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal akibat runtuhnya bangunan pemukiman, sementara krisis pangan, air bersih, dan obat-obatan mengancam kehidupan 2,4 juta penduduk yang saat ini hidup dalam kondisi yang digambarkan organisasi internasional sebagai “tidak layak dan tidak manusiawi.”
Walaupun gencatan senjata sementara diberlakukan sejak 10 Oktober, berbagai pelanggaran yang dilakukan Israel mengakibatkan korban baru dan memicu kekhawatiran bahwa jeda pertempuran dapat sewaktu-waktu runtuh.
Qatar dan PBB menegaskan bahwa menjalankan fase kedua kesepakatan bukan lagi soal negosiasi politik, tetapi soal menyelamatkan nyawa.
Puluhan ribu warga Gaza masih hidup tanpa makanan cukup, tanpa tempat tinggal aman, dan tanpa layanan kesehatan yang berfungsi. Karena itu, mereka menekankan bahwa tanpa peningkatan cepat dan besar dalam bantuan kemanusiaan, penegakan gencatan senjata yang lebih ketat, serta kompromi realistis dari kedua pihak, krisis kemanusiaan di Gaza akan terus memburuk meski proses diplomasi tetap berjalan.