Peringatan PBB: 1.4 Juta Rakyat Gaza di Ambang Kelaparan Massal

Jalur Gaza, SPNA – PBB memperingatkan ancaman kelaparan massal semakin membayangi Jalur Gaza seiring memburuknya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. 

Sedikitnya 1,4 juta warga Palestina, atau sekitar 67% dari total penduduk Gaza mengalami krisis pangan, dan lebih dari 200.000 jiwa dilaporkan berada dalam kondisi kelaparan.

Kondisi tersebut turut memicu krisis kesehatan yang semakin serius. PBB mencatat lebih dari 11 ribu orang menderita penyakit berat yang berkaitan dengan kekurangan gizi, menandakan dampak kelaparan tidak lagi hanya mengancam ketersediaan pangan, namun juga keselamatan jiwa masyarakat.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) di Wilayah Palestina menyatakan situasi ketahanan pangan di Jalur Gaza saat ini berstatus darurat dan terus bergerak menuju fase kelima dalam Klasifikasi Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC) seperti dilansir Al Jazeera, Selasa (04/08). 

Fase kelima merupakan tingkat tertinggi dalam klasifikasi tersebut dan menjadi indikator terjadinya kelaparan atau bencana kelaparan (famine) secara resmi apabila kriteria yang ditetapkan terpenuhi.

Atas kondisi itu, OCHA mendesak agar distribusi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza tetap dipertahankan, setidaknya untuk saat ini. PBB mengingatkan bahwa distribusi bantuan masih menghadapi berbagai hambatan, baik akibat blokade Israel ditambah keterbatasan pendanaan. Dukungan masyarakat internasional dinilai sangat penting demi menyelamatkan rakyat Gaza dari kelaparan massal. 

Sementara itu, Kepala Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Palestina menyatakan krisis kemanusiaan terus memburuk akibat berlanjutnya serangan Israel meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sejak Oktober 2025. Menurutnya, serangan yang terus berlangsung dan menelan lebih dari 1.100 warga Palestina, sekaligus memperparah penderitaan warga  sipil.

Di sektor kesehatan, Kementerian Kesehatan Gaza menyerukan lembaga-lembaga PBB dan organisasi kemanusiaan internasional agar segera menyuplai kebutuhan obat-obatan serta perlengkapan medis ke wilayah tersebut.

(T.RS/S:Al-Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya