Manchester, SPNA – Manajer Manchester City Pep Guardiola secara terbuka mengecam berbagai krisis kemanusiaan di dunia, termasuk “genosida di Palestina,” serta mendesak masyarakat global agar tidak diam terhadap ketidakadilan.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers jelang laga semifinal Piala Liga Inggris melawan Newcastle United. seperti dilansir Anadolu Ajansı.
Guardiola menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan yang terjadi di sejumlah wilayah; Palestina, Ukraina, Rusia, hingga Sudan, merupakan tanggung jawab bersama umat manusia. “Tidak pernah dalam sejarah manusia kita memiliki segalanya terlihat begitu jelas di depan mata. Ini adalah masalah kita sebagai manusia,” ujarnya.
Pelatih berusia 55 tahun itu menekankan bahwa sikapnya tidak berkaitan dengan politik atau keberpihakan, melainkan soal perlindungan terhadap nyawa manusia. “Penyelamatan korban perang harus menjadi prioritas utama, terutama ketika banyak orang terpaksa melarikan diri dari negara mereka dan mempertaruhkan hidup saat menyeberangi laut.”
Guardiola juga mengaku sangat terpukul melihat penderitaan warga sipil di era modern yang seharusnya ditandai kemajuan teknologi. Menurutnya, kemudahan akses informasi membuat tragedi tersebut mustahil untuk diabaikan dan justru memperkuat tanggung jawab moral masyarakat untuk bertindak.
Selain konflik bersenjata, ia turut menyoroti penembakan fatal terhadap Renee Good dan Alex Pretti oleh agen federal Amerika Serikat, yang memicu gelombang protes. Guardiola mempertanyakan bagaimana tindakan semacam itu bisa dibenarkan dan menyerukan perbaikan sosial demi masa depan generasi berikutnya.
Komentar tersebut datang tak lama setelah ia menyatakan dukungan bagi anak-anak Palestina dalam sebuah acara amal di Barcelona dan berjanji akan terus menggunakan platform publiknya untuk membela para korban konflik global.
Pernyataan Guardiola menjadi sorotan karena kembali menempatkan figur olahraga papan atas dalam perdebatan kemanusiaan internasional, sekaligus menegaskan seruannya agar dunia tidak berpaling ketika ribuan orang tak bersalah menjadi korban perang.
(T.RS/S:MEMO)