Yerusalem, SPNA – Pemukim Israel di Tepi Barat Palestina yang diduduki sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan perang dengan penduduk Palestina, di mana pemimpin pemukim terkemuka, Yossi Dagan, memimpin upaya tersebut. Pada Selasa (05/11/2024), Masar News melaporkan bahwa Dagan telah memperoleh lebih dari 500 senapan kaliber tinggi dan senjata canggih untuk mempersenjatai tim keamanan darurat dalam menghadapi kemungkinan ketegangan yang meningkat.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk memperkuat pertahanan pemukim ilegal Israel yang tinggal di tanah Palestina yang diduduki secara ilegal di Tepi Barat dan sebagai langkah mempersiapkan diri menghadapi eskalasi potensi konflik di wilayah tersebut.
Yossi Dagan memperoleh senapan sniper canggih setelah menggalang dana hampir satu juta shekel atau setara 4,2 miliar lebih, dari para pendukung Dewan Samaria di seluruh dunia. Pembelian ini mencerminkan pergeseran besar dalam pendekatan pemukim, yang menunjukkan kesiapan mereka untuk berperang.
Pemukim Israel Menimbun Senjata: Lebih dari 120.000 Senjata Diberikan di Tepi Barat Sejak Genosida Gaza
Sejalan dengan persiapan Yossi Dagan, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengungkapkan bahwa lebih dari 120.000 senjata api telah didistribusikan kepada pemukim Yahudi di Tepi Barat sejak dimulainya konflik Gaza pada tahun 2023. Ben Gvir mengumumkan hal ini di akun X miliknya, dengan mengonfirmasi bahwa puluhan ribu pemukim lainnya telah menerima persetujuan bersyarat untuk memiliki senjata api.
Ben-Gvir menekankan bahwa Israel akan terus mempersenjatai pemukimnya, dengan mengatakan, “Kami berniat untuk terus mempersenjatai Israel. Itu yang sudah kami lakukan, dan itu yang akan terus kami lakukan!” Komentar ini menunjukkan bahwa pemerintah Israel berencana untuk semakin memperkuat kehadiran pemukim ilegal Israel di tanah Palestina di Tepi Barat.
Bezalel Smotrich Mendesak Aneksasi Penuh Tepi Barat dan Jalur Gaza
Pada pekan lalu, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, membuat seruan kontroversial agar Israel secara resmi menganeksasi dan merampas seluruh tanah Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ia berargumen bahwa Israel harus menegaskan kontrolnya dengan membangun pemukiman-pemukiman Israel baru di dalam wilayah Palestina dan secara paksa mengusir penduduk Palestina yang menolak untuk hidup di bawah pemerintahan Israel.
Dalam sebuah pernyataan di Middle East Summit, sebuah konferensi di Yerusalem yang dihadiri oleh tokoh Evangelis AS, Smotrich menyatakan bahwa Israel harus mengirimkan pesan yang jelas kepada dunia bahwa negara Palestina tidak akan dibentuk.
Menurut Bezalel Smotrich, rencana ini akan membutuhkan pembentukan kota-kota dan pemukiman Israel baru di pusat Tepi Barat, yang akan dihuni oleh ratusan ribu pemukim Yahudi, dengan mengabaikan dan mengusir penduduk Palestina.
Smotrich percaya bahwa menempatkan pemukim Israel sebanyak-banyaknya di wilayah Palestina adalah kunci untuk mempertahankan kontrol Israel atas wilayah Palestina.
“Di mana tidak ada kehadiran sipil (pemukim Israel), tidak ada kehadiran militer jangka panjang. Tidak ada keamanan, dan ada ancaman eksistensial terhadap Negara Israel dan warganya. Kita tidak boleh membiarkan ini terjadi,” kata Bezalel Smotrich.
Genosida Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (04/11), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 43.259 orang dan 101.827 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 768 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 3.002 penduduk Lebanon dan lebih dari 13.492 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: The Cradle, Mondoweiss)