Gaza, SPNA – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), pada Jumat (14/11/2025), memperingatkan bahwa sembilan dari sepuluh penduduk Gaza mengalami berbagai bentuk malnutrisi, karena pembatasan Israel terus menghalangi masuknya bantuan kemanusiaan penting ke wilayah yang terkepung tersebut.
Juru bicara UNRWA, Adnan Abu Hasna, dalam jumpa pers mengatakan Israel melarang “ratusan jenis bantuan” masuk ke Gaza. Ia menambahkan bahwa tidak ada bantuan yang dapat melalui penyeberangan Zikim di Gaza utara, demikian menurut laporan Middle East Monitor (MEMO).
Abu Hasna menegaskan bahwa Gaza berada di ambang “bencana kemanusiaan besar,” terutama dengan datangnya musim dingin dan semakin parahnya kondisi tenda-tenda darurat yang menampung keluarga-keluarga pengungsi setelah berbulan-bulan konflik intens.
Pernyataannya sejalan dengan peringatan sebelumnya dari Doctors Without Borders (MSF), yang menyebut bahwa meski ada gencatan senjata, situasi kemanusiaan di Gaza tetap berada dalam kondisi kritis.
Lebih dari 900.000 Orang Mengungsi
Koordinator darurat MSF, Caroline Seguin, menuduh otoritas Israel menghalangi masuknya pasokan medis, paket kebersihan, bahan perlindungan, dan barang penting lainnya. Ia menggambarkan tingkat penderitaan yang terjadi sebagai sesuatu yang “sepenuhnya dapat dicegah”.
Seguin menjelaskan bahwa ribuan pengungsi tinggal di tenda yang penuh sesak dan memburuk, tanpa air maupun listrik, dengan tumpukan sampah yang terus meningkat serta lonjakan penyakit kulit, pernapasan, dan pencernaan seiring turunnya suhu.
Juru bicara Kota Khan Younis, Saeb Laqqan, pada Kamis memperingatkan bahwa lebih dari 900.000 penduduk Palestina yang terusir kini tinggal di tenda-tenda darurat di kawasan pesisir al-Mawasi. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam akan keselamatan mereka karena depresi cuaca sedang mendekat, demikian menurut Al Mayadeen.
Laqqan menekankan perlunya mendesak otoritas Israel agar mengizinkan masuknya peralatan penting yang dibutuhkan pemerintah kota untuk menjalankan tugasnya dan melindungi para pengungsi dalam kondisi darurat ini.
UNICEF menyebut pekan ini bahwa sejumlah barang penting masih dilarang masuk ke Gaza, termasuk 938.000 botol susu formula bayi dan suku cadang untuk mengoperasikan truk air, menurut laporan Al Mayadeen.
“Itu hampir satu juta botol yang seharusnya bisa diberikan kepada anak-anak yang selama ini mengalami berbagai tingkat malnutrisi,” kata juru bicara UNICEF, Ricardo Pires.

Musim Dingin di Dalam Tenda
Sementara itu, penduduk Gaza menghadapi musim dingin di tenda-tenda yang hampir tidak memberi perlindungan dari udara dingin, setelah rumah-rumah mereka hancur akibat serangan militer Israel selama dua tahun terakhir.
UNRWA pada Kamis mengonfirmasi bahwa 282.000 rumah di Gaza hancur atau rusak akibat pemboman Israel, menurut Al Jazeera Arabic.
Badan tersebut menjelaskan bahwa angka ini berdasarkan data dari Mekanisme Bantuan Kemanusiaan untuk Shelter yang dikelola bersama oleh UNHCR dan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).
Kondisi Penuh Sesak
UNRWA mencatat puluhan ribu keluarga Palestina terpaksa tinggal di tenda-tenda ketika musim dingin tiba, hidup dalam kondisi berdesakan, tanpa privasi, dan dengan akses sangat terbatas terhadap layanan dasar.
Juru bicara Sekjen PBB, Stéphane Dujarric, mengatakan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) telah melakukan sejumlah asesmen di berbagai wilayah Gaza dalam beberapa pekan terakhir, termasuk daerah yang masih dihuni warga atau menjadi lokasi pengungsian, termasuk area di dekat “Garis Kuning,” tempat pasukan darat Israel tetap berada.
Ia menambahkan bahwa tim di lapangan melaporkan komunitas di sekitar Garis Kuning sangat membutuhkan bantuan dan penting untuk segera memulihkan layanan dasar.
Agresi pada Anak
Lebih dari sembilan dari sepuluh anak di Gaza menunjukkan tanda-tanda perilaku agresif yang terkait dengan lebih dari dua tahun serangan militer Israel, demikian laporan UN News mengutip lembaga-lembaga kesejahteraan anak.
Asesmen yang dilakukan mitra perlindungan anak di Gaza dan dipublikasikan oleh OCHA menunjukkan 93 persen anak menunjukkan perilaku agresif dan 90 persen menunjukkan kekerasan terhadap anak yang lebih kecil.
“Kesedihan dan penarikan diri hampir sama umum (86 persen), diikuti gangguan tidur (79 persen) serta penolakan luas untuk belajar (69 persen),” demikian laporan tersebut.
Laporan itu mencatat bahwa dari 2,1 juta penduduk Gaza, sekitar satu juta kini tinggal di 862 lokasi pengungsian.
Banyak kamp pengungsian sangat padat, meningkatkan risiko bagi anak-anak dan perempuan, terutama mereka yang hidup dengan disabilitas dari kekerasan, pengabaian, serta akses yang berbahaya terhadap fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan (WASH).
Menurut UNRWA, sekitar 75.000 orang tinggal di sekitar 100 lokasi shelter resmi badan tersebut dan area sekitarnya.

Kecemasan Meningkat
Mitra bantuan PBB juga melaporkan bahwa anak-anak mengalami kecemasan tinggi, perubahan perilaku, dan kekhawatiran yang meningkat terkait minimnya ruang aman.
Berdasarkan laporan OCHA, dalam empat minggu sejak gencatan senjata yang difasilitasi AS diberlakukan, mitra kemanusiaan telah memberikan layanan perlindungan anak kepada lebih dari 132.000 orang di seluruh Gaza. Ini mencakup hampir 1.600 anak penyandang disabilitas dan 45.000 pengasuh.
Bantuan tersebut mencakup konseling psikologis individual, sesi kelompok, kegiatan manajemen stres, dukungan psikososial rekreasional, serta rujukan untuk bantuan lanjutan.
“Targetnya adalah menjangkau lebih dari 100.000 anak setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan hampir satu juta anak di Jalur Gaza,” demikian laporan itu.
Korban Jiwa yang Mencengangkan
Sejak 7 Oktober 2023, militer Israel dengan dukungan Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa melancarkan perang yang digambarkan sebagai genosida terhadap penduduk Gaza. Operasi ini telah membunuh lebih dari 69.000 penduduk Palestina dan melukai lebih dari 170.000 orang. Sebagian besar penduduk telah mengungsi, dan kehancuran infrastruktur dinilai belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II. Sekitar 10.000 lainnya masih hilang.
Selain serangan militer, blokade Israel memicu kelaparan buatan yang menyebabkan ratusan penduduk Palestina, di mana mayoritasnya Adalah anak-anak meninggal, sementara ratusan ribu lainnya berada dalam risiko tinggi.
Meski mendapat kecaman internasional luas, sedikit tindakan yang diambil untuk meminta pertanggungjawaban Israel. Negara tersebut kini tengah diselidiki atas dugaan genosida oleh Mahkamah Internasional (ICJ), sementara sejumlah pejabat, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, berstatus buron oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
(T.FJ/S: UN News, UNRWA, Aljazeera, Palestine Chronicle)