PBB: Israel Tolak Mentah-mentah 90 Persen Bantuan ke Gaza Utara Selama November

Gaza, SPNA – Dalam sebuah pernyataan terbaru, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagaimana dilansir The Cradle, pada Rabu (27/11/2024), mengungkapkan bahwa Israel “secara langsung menolak” 82 dari 91 upaya pengiriman bantuan ke wilayah utara Jalur Gaza yang diblokade Israel sejak 26 Oktober.

Georgios Petropoulos, kepala kantor kemanusiaan PBB di Gaza, menyampaikan pernyataan ini, menyoroti dampak parah yang dirasakan oleh warga sipil yang sangat membutuhkan sumber daya dasar.

Penolakan pengiriman bantuan yang terus-menerus ini terjadi di tengah konflik yang sedang berlangsung dan kondisi sulit yang dihadapi oleh warga Palestina. Petropoulos mengungkapkan bahwa banyak upaya telah gagal karena “lokasi atau pasokan tertentu yang ditolak”. Strategi ini telah membuat banyak orang dalam keadaan menderita, kekurangan pangan, air, dan perlengkapan medis.

Pencurian dan Geng Kriminal Memperburuk Krisis di Gaza

Menambah krisis kemanusiaan, bantuan yang berhasil sampai ke Gaza sering kali dirampok oleh geng kriminal. Geng-geng ini beroperasi dengan relatif bebas, terutama setelah Israel mulai menargetkan anggota pasukan polisi Gaza yang berusaha mengamankan pengiriman bantuan lebih awal tahun ini.

Georgios Petropoulos menggambarkan situasi ini sebagai “perampokan kriminal yang terorganisir, sistematis,” yang menyebabkan kekerasan semakin meningkat di Gaza. Menurut mantan kepala penyelidikan polisi Hamas, kontrol keamanan di Gaza telah turun di bawah 20 persen, dan ada rencana untuk mengembalikannya ke 60% dalam waktu satu bulan ke depan.

Pencurian Terjadi di Hadapan Tentara Israel dan Drone Pengawas

PBB dan BBC melaporkan bahwa pencurian sering terjadi di depan tentara dan drone pengawas Israel. Meski pencurian tersebut terlihat jelas, militer Israel dilaporkan gagal melakukan upaya campur tangan atau seperti sengaja membiarkannya, yang semakin memperburuk penderitaan warga Gaza. Barang-barang yang dicuri diduga disimpan di gudang-gudang atau area terbuka yang dikuasai oleh militer Israel.

Krisis Kemanusiaan Makin Dalam: Kelaparan dan Penderitaan di Gaza

Akibat blokade yang terus berlangsung dan penolakan pengiriman bantuan, kelaparan dan malnutrisi meningkat pesat di Gaza. Warga Gaza, Umm Ahmed, berbicara kepada BBC, menggambarkan penderitaan yang dialami keluarganya setiap hari: “Anak-anak saya sangat lapar setiap hari. Kami tidak mampu membeli kebutuhan dasar. Ini penderitaan yang terus-menerus. Tidak ada makanan, tidak ada air, tidak ada produk pembersih, tidak ada apapun”.

Dengan penuh harapan, Umm Ahmed menyatakan, “Kami tidak meminta banyak, hanya ingin hidup dengan layak. Kami butuh makanan. Kami butuh barang-barang dan didistribusikan dengan adil. Itu saja yang kami minta.”

Krisis kemanusiaan ini terus berkembang seiring komunitas internasional hanya dapat menyaksikan, sementara rakyat Gaza terus memohon bantuan di tengah pemboman dan serangan terus menerus dari Israel yang terus menargetkan penduduk sipil.

Genosida Berlanjut dan Korban Jiwa Meningkat

Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Senin (25/11), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 44.235 orang dan 104.638 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.

Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 796 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.

Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 3.767 penduduk Lebanon dan lebih dari 15.669 terluka sejak 8 Oktober 2023.

(T.FJ/S: The Cradle, Mondoweiss)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!