Pakar: Di Israel “Kebohongan” Adalah Budaya

Jalur Gaza, SPNA – Pakar militer dan strategis Timur Tengah, Jenderal Fayez Dweiri mengungkapkan bahwa kebohongan sudah menjadi budaya di Israel. 

“Kebohongan sudah menjadi bagian dari budaya Israel, terutama dalam konteks peperangan dan politik, sejak zaman dahulu. Bahkan dalam sejarah mereka, mereka telah memutarbalikkan kebenaran, seperti yang terjadi dalam penyebaran cerita-cerita palsu di dalam kitab ajaran mereka,” ujar Dweiri dalam wawancara bersama Al-Jazeera, Senin (22/04/2025).

Fayez al-Duwairi adalah pensiunan jenderal Angkatan Darat Yordania dan analis militer terkemuka, dikenal luas lewat analisisnya di media seperti Al Jazeera. Ia lahir pada 3 Maret 1952 di Irbid, Yordania, dan memiliki karier militer panjang di bidang teknik militer serta strategi perang, termasuk pelatihan di Pakistan dan AS. Setelah pensiun pada 2005, ia aktif memberikan komentar strategis tentang konflik di Timur Tengah, khususnya isu Palestina, dan pernah disebut secara langsung oleh pejuang Hamas dalam konteks Operasi “Badai Al-Aqsa”. (Sumber: Manhom.com).
Fayez al-Duwairi adalah pensiunan jenderal Angkatan Darat Yordania dan analis militer terkemuka, dikenal luas lewat analisisnya di media seperti Al Jazeera. Ia lahir pada 3 Maret 1952 di Irbid, Yordania, dan memiliki karier militer panjang di bidang teknik militer serta strategi perang, termasuk pelatihan di Pakistan dan AS. Setelah pensiun pada 2005, ia aktif memberikan komentar strategis tentang konflik di Timur Tengah, khususnya isu Palestina, dan pernah disebut secara langsung oleh pejuang Hamas dalam konteks Operasi “Badai Al-Aqsa”. (Sumber: Manhom.com).

Menurutnya, kebohongan yang disebarkan oleh Israel bukan hanya sekedar strategi perang, tetapi juga merupakan kebiasaan yang sudah mengakar dalam cara mereka berinteraksi dengan dunia luar.

Dia lebih lanjut menyoroti perilaku penuh kebohongan yang terlihat dalam narasi resmi yang disampaikan oleh pemerintah dan militer Israel, termasuk dalam hal jumlah tentara yang terlibat dalam operasi di Gaza dan klaim-klaim yang dibuat mengenai keberadaan terowongan Hamas. 

“Semua data yang mereka sebutkan seringkali keliru, bahkan dalam hal jumlah korban yang mereka klaim,” tegasnya. 

Dweiri juga menyentil keras perilaku politisi Israel, terutama Benjamin Netanyahu, yang ia sebut-sebut lebih sebagai seorang pemimpin yang ahli dalam merangkai kebohongan demi kursi jabatan.

Di balik klaim tentang upaya militer untuk membasmi Hamas, Dweiri menyatakan bahwa Israel sebenarnya tidak memiliki niat untuk menghentikan perang atau mencari kesepakatan damai. 

“Israel tidak tertarik untuk mengakhiri perang ini. Prioritas mereka bukanlah untuk memulangkan para sandera atau menyelesaikan konflik, melainkan untuk terus melanjutkan pembantaian yang tidak berujung ini,” jelas Dweiri. 

“Pasukan Israel kini mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Mereka terjebak dalam perang yang tak ada habisnya dan mulai merasakan tekanan besar, baik secara fisik maupun psikologis,” ujarnya. 

Tentara cadangan yang dipanggil kembali ke medan perang, banyak di antaranya adalah pria muda yang belum lulus pelatihan militer. Mereka tertekan oleh keputusan pemerintah yang tidak peduli dengan nyawa mereka. Hal ini akan semakin memperburuk moral tentara dan memperburuk keretakan dalam struktur militer Israel.

Batalyon Golani, salah satu unit paling terkenal di Israel, kehilangan hampir 13 tentara dalam beberapa pekan terakhir, yang menunjukkan tingginya angka korban dari kalangan militer yang terlibat langsung dalam pertempuran. Ini menunjukkan bahwa Israel tidak hanya mengeksploitasi kebohongan untuk mendukung agenda politik mereka, tetapi juga mengorbankan tentara mereka dalam perang yang tampaknya tidak akan pernah berakhir.

(T.RS/S:Al-Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya