Jenin, SPNA – Pasukan tentara Israel dan kelompok teroris pemukim Israel telah terlibat dalam serangan terhadap penduduk Palestina di seluruh Tepi Barat yang diduduki sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas diberlakukan pada hari Minggu.
Serangan oleh pemukim pecah hampir segera setelah gencatan senjata dimulai, dengan anggota kelompok sayap kanan Israel dilaporkan menargetkan beberapa desa tempat tinggal wanita Palestina dan anak-anak yang dibebaskan dari penjara. Rumah-rumah Palestina lainnya tampaknya menjadi sasaran acak.
Secara terpisah, militer Israel melancarkan operasi bernama “Tembok Besi” di kota Jenin dan kamp pengungsi Jenin yang berdekatan.
Serangan militer ini terjadi setelah serangan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan keamanan Otoritas Palestina (PA) di kamp pengungsi Jenin, yang menargetkan pejuang Palestina lokal dengan dalih untuk mengembalikan hukum dan ketertiban. Namun, banyak penduduk Palestina yang melihatnya sebagai penindakan terhadap kelompok-kelompok bersenjata Palestina yang melawan penjajah Israel.
Berapa Banyak Korban Jiwa?
Serangan militer Israel di Jenin telah membunuh 12 orang, 10 orang dibunuh ketika serangan di seluruh wilayah Jenin pada hari Selasa (21/01) dan dua orang pada Rabu malam.
Masih belum jelas berapa banyak dari penduduk yang meninggal dunia pada hari Selasa yang merupakan penduduk sipil, namun sebuah pernyataan dari PA mengatakan bahwa pasukan Israel telah “melepaskan tembakan kepada warga sipil dan pasukan keamanan, mengakibatkan cedera pada beberapa warga sipil dan sejumlah personel keamanan”. PA menambahkan bahwa setidaknya 35 orang terluka.
Kematian pada Rabu terjadi di Burqin, sebuah kota yang terletak di sebelah barat Kota Jenin. Jaringan berita Palestina Al Quds Today melaporkan bahwa Muhammad Abu Al-Asaad dan Qutaiba Al-Shalabi meninggal dunia dalam “pertempuran bersenjata dengan pasukan (penjajah) Israel”. Sayap bersenjata Hamas mengatakan kedua pria tersebut adalah anggota Hamas, meskipun militer Israel menyatakan mereka terafiliasi dengan Jihad Islam Palestina (PIJ).
Sementara itu, setidaknya 21 penduduk Palestina telah terluka dalam serangan yang dilakukan oleh pemukim Israel di seluruh Tepi Barat sejak gencatan senjata dimulai pada hari Minggu (19/01).
Di mana Kekerasan Terjadi?
Kekerasan yang dilakukan oleh pemukim tampaknya terfokus pada setidaknya enam desa: Sinjil, Turmus Aya, Ein Siniya, dan Zl-Lubban Ashaqiya (dekat Ramallah) serta Funduq dan Jinsafut (kedua-duanya dekat Nablus). Menurut The Guardian, keenam desa tersebut diidentifikasi sebagai tempat tinggal perempuan dan anak-anak yang dibebaskan oleh pemerintah Israel sebagai bagian dari gencatan senjata dengan Hamas.
Di kota Jenin, militer telah mengepung rumah sakit yang dikelola pemerintah dan kamp pengungsi di sekitarnya, dan dilaporkan memerintahkan evakuasi ratusan orang. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menggambarkan operasi di Jenin sebagai “pergeseran dalam strategi keamanan”. Ia mengatakan bahwa upaya ini adalah bagian dari rencana militer Israel untuk Tepi Barat yang diduduki dan merupakan “pelajaran pertama dari metode serangan berulang di Gaza”.
Palang Merah Palestina (PRCS) mengatakan bahwa tentara Israel melarang mereka mengevakuasi korban yang terluka dan jenazah korban.
Puluhan pos pemeriksaan militer dan penghalang telah didirikan di seluruh Tepi Barat, menyebabkan kemacetan bagi penduduk sipil yang berlangsung antara enam hingga delapan jam.
Apakah Jenin Pernah Menjadi Sasaran Sebelumnya?
Ya, Jenin pernah menjadi sasaran sebelumnya.
Israel telah lama menuduh Iran menyelundupkan senjata ke kelompok bersenjata di Jenin dan, khususnya, di kamp pengungsi tersebut. Jenin telah lama menjadi pusat perlawanan Palestina, dan berkembangnya kelompok bersenjata independen, Brigade Jenin, telah sangat mengkhawatirkan Israel.
Pada bulan Desember, PA melancarkan konfrontasi terbesar dan paling brutal dengan kelompok bersenjata di Tepi Barat sejak pengusirannya dari Gaza oleh Hamas pada 2007.
Banyak analis berpendapat bahwa PA berusaha memposisikan dirinya sebagai administrator alami untuk Gaza pasca-perang, namun PA dituduh meniru taktik yang digunakan oleh pasukan Israel dalam serangan-serangan sebelumnya di Jenin dan tempat lain: mengepung kamp dengan kendaraan lapis baja, menembak secara sembarangan ke arah penduduk sipil, menangkap dan menyiksa pemuda, serta memutus pasokan air dan listrik bagi warga sipil di dalamnya.
Sebelum serangan oleh PA, telah terjadi berbagai serangan terhadap Jenin oleh militer Israel. Jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, dibunuh tentara Israel dalam salah satu serangan pada Mei 2022.
Israel juga menargetkan Jenin pada Juli 2023, sebelum pecahnya perang di Gaza. Dalam serangan tersebut, militer Israel membunuh 12 orang dan melukai sekitar 100 orang, salah satu kerugian terbesar sejak operasi militer terkenal pada 2002, selama Intifada kedua. Lima puluh dua penduduk Palestina, setengah di antaranya penduduk sipil, dan 23 tentara Israel yang menyerang tewas dalam serangan itu.
Amnesty International dan Human Rights Watch keduanya menuduh Israel melakukan kejahatan perang selama serangan 2002 tersebut.
Apakah kekerasan terbaru ini terkait dengan gencatan senjata Gaza?
Ya dan tidak.
Sementara sebagian besar pasukan militer Israel sibuk di Gaza dan Lebanon, pemukim Israel melancarkan serangan paling brutal dalam catatan sejarah di Tepi Barat.
“Gencatan senjata tidak cukup bagi Israel. Kesepakatan sandera tidak terasa seperti kemenangan yang dijanjikan,” kata Murad Jadallah, anggota kelompok hak asasi manusia Al-Haq dari Ramallah, Tepi Barat.
Ia mengisyaratkan bahwa akibat dari kekecewaan Israel yang tampak setelah lebih dari 47.000 orang dibunuh Israel kini sedang terjadi di Tepi Barat dan Jenin.
Secara keseluruhan, menurut data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), pemukim Israel telah melakukan setidaknya 1.860 serangan terhadap penduduk Palestina dan harta benda meraka 7 Oktober 2023.
“Ini bukan yang namanya gencatan senjata. Sejak Israel dan Hamas mengumumkan gencatan senjata sementara di Jalur Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera dan tahanan, Israel justru meningkatkan kekerasannya terhadap penduduk Palestina di Tepi Barat,” kata Shai Parness dari kelompok hak asasi manusia Israel B’Tselem kepada Al Jazeera.
Parness menyebut bahwa alih-alih menahan tembakan terhadap penduduk Palestina, tindakan Israel menunjukkan bahwa mereka tidak berniat untuk penghentian permusuhan. Sebaliknya, mereka hanya mengalihkan fokus dari Gaza ke wilayah lain yang mereka kontrol di Tepi Barat.
Apa Rencana Israel untuk Tepi Barat?
Faktor-faktor seperti komposisi pemerintah Israel yang didominasi oleh kelompok sayap kanan dan terpilihnya pemerintahan Amerika Serikat yang sangat pro-Israel di bawah Presiden Donald Trump menandakan masa-masa sulit bagi Tepi Barat.
Sementara Presiden Joe Biden, pendahulu Trump, memberikan dukungan tanpa syarat terhadap perang Israel di Gaza yang hingga saat ini telah membunuh 47.283 orang, beberapa kekhawatiran juga diungkapkan oleh pemerintahannya terkait kekerasan tak terkendali yang dilakukan oleh pemukim di Tepi Barat. Pemerintahan Biden melihat kekerasan tersebut berpotensi mengancam stabilitas wilayah tersebut.
Meskipun demikian, pencabutan sanksi oleh Trump yang sebelumnya pernah dijatuhkan oleh pemerintahan Biden terhadap para pemukim teroris Israel memberikan gambaran awal tentang apa yang diinginkan banyak pihak di dalam sayap kanan Israel dan kebijakan Amerika Serikat yang lebih mengakomodasi ambisi pemukim di Tepi Barat.
Di dalam Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini menghadapi pemberontakan dari kalangan kanan, dengan Menteri Keamanan Nasional ultranasionalis Itamar Ben-Gvir mengundurkan diri dari kabinet koalisi Netanyahu terkait kesepakatan gencatan senjata. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, yang tidak menyembunyikan ambisinya untuk mencaplok Tepi Barat, tetap berada dalam pemerintahan, tetapi berjanji akan mengundurkan diri jika gencatan senjata Gaza mengarah pada berakhirnya perang.
“Smotrich kini memiliki kekuatan dan pengaruh lebih besar dari sebelumnya. Pada akhirnya, ia ingin mengesampingkan administrasi sipil Israel dan menjadikan Tepi Barat dikelola secara eksklusif oleh para pemukim,” ujar Jadallah mengenai negosiasi untuk mempertahankan Smotrich di dalam pemerintahan.
Jadallah menjelaskan pandangannya mengenai langkah-langkah awal menuju aneksasi total Tepi Barat oleh Israel.
Bukti dari pendekatan baru terhadap Tepi Barat dan para pemukim sudah mulai terlihat sebelum tercapainya gencatan senjata dan pengukuhan Presiden Trump.
Pada hari Jumat, Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, Katz, mengumumkan bahwa semua pemukim yang masih ditahan di bawah penahanan administrative, proses penahanan individu tanpa batas waktu dan tanpa dakwaan, akan dibebaskan. Penahanan administratif ini umumnya digunakan untuk para tahanan Palestina, meskipun sebelumnya juga pernah diterapkan pada beberapa warga Israel.
Dalam pernyataannya mengenai pembebasan para pemukim tersebut, Katz menyatakan bahwa “lebih baik bagi keluarga pemukim Yahudi untuk bahagia daripada keluarga para teroris yang dibebaskan”. Pernyataannya ini merujuk pada perempuan dan anak-anak Palestina yang dibebaskan oleh Israel pada hari Minggu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
(T.FJ/S: Aljazeera)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!