Jalur Gaza, SPNA – Pemerintah Israel secara resmi menyetujui rencana operasi militer untuk merebut kendali penuh atas seluruh wilayah Jalur Gaza. Keputusan ini diambil dalam rapat kabinet, Senin (05/05/2025), yang mendapatkan dukungan bulat dari seluruh menteri.
Tak lama setelah pengesahan rencana tersebut, militer Israel mengumumkan pemanggilan puluhan ribu pasukan cadangan. Langkah ini mengindikasikan bahwa operasi darat besar-besaran tengah dipersiapkan dalam waktu dekat.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan kali ini akan jauh lebih besar dan pasukan Israel akan tetap berada di Gaza selama diperlukan.
Ia juga menyebut strategi lama berupa serangan terbatas dan penarikan mundur tidak lagi akan digunakan. “Kami akan melakukan hal yang sebaliknya,” ujarnya seperti dilansir Al-Jazeera.
Kebijakan ini diambil meskipun misi utama Israel untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera belum tercapai, meskipun IDF telah melakukan pembantaian brutal terhadap 52.000 rakyat Gaza selama 19 bulan.
Di tengah manuver militer ini, kondisi Gaza semakin memburuk dan mencekam. Selama dua bulan terakhir, Israel memberlakukan blokade total. Gaza berubah menjadi penjara, tanpa akses makanan, minuman dan air bersih. Tidak hanya itu, obat-obatan juga dilarang masuk.
Situasi ini membuat dua juta warga Gaza hidup dalam kelaparan, merebaknya wabah penyakit, dan kehancuran total. Lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan WHO menyebut Gaza kini menghadapi salah satu krisis kemanusiaan paling parah abad ini.
Trump: Kami Bantu Rakyat Gaza Makan, Setelah Kami Lihat Mereka Mati
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump enggan memberikan pernyataan langsung soal perluasan agresi Israel. Sebaliknya Trump justru menyalahkan Hamas, dan hanya menyatakan secara singkat bahwa AS akan membantu rakyat Gaza mendapatkan makanan.
Trump dijadwalkan mengunjungi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar pekan depan. Israel dilaporkan berusaha memanfaatkan momentum ini untuk menekan Hamas agar menyetujui kesepakatan pertukaran sandera. Namun militer Israel telah mengisyaratkan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, operasi darat besar-besaran akan segera dilancarkan.