Ramallah, SPNA – Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, Dr. Mustafa Barghouti, memberikan pernyataan tegas menyoroti genosida dan pembersihan etnis yang sedang dijalankan oleh Israel.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Kamis (03/04/2025), Barghouti menekankan bahwa yang sedang terjadi saat ini bukan sekadar konflik dengan Hamas, melainkan upaya sistematis untuk menghapus eksistensi bangsa Palestina secara keseluruhan.

Dr. Barghouti mengatakan bahwa narasi yang dibentuk oleh media Israel dan Barat telah memutarbalikkan fakta dengan menggambarkan rakyat Palestina sebagai korban tanpa menyinggung pelaku utama, yaitu pemerintah Israel.
“Apa yang terjadi di Gaza lebih dari sekadar serangan terhadap Hamas. Israel tengah membuat kamp konsentrasi raksasa yang menampung seluruh warga Gaza di tengah kehancuran total. Tujuannya jelas: menjadikan Gaza tak layak huni dan memaksa pengusiran massal,” ujarnya.
Perang ini merupakan satu-satunya jalan PM Israel Benjamin Netanyahu untuk terus berkuasa dan lari dari jerat hukum. “Perang tidak hanya menyasar Gaza. Israel tengah menjalankan proyek besar untuk menghapus Palestina, baik secara fisik maupun simbolik dari seluruh peta,” katanya.
Menanggapi laporan yang menyebut Hamas menolak proposal gencatan senjata, Dr. Barghouti menyebutnya sebagai “kebohongan licik” Israel. Hamas telah menerima usulan gencatan senjata dari mediator internasional baik dari Mesir, Qatar, dan AS, mencakup pembebasan sandera Israel. Namun, Netanyahu kemudian mengajukan perjanjian gencatan senjata baru yang terlalu gila untuk diterima.
“Usulan Netanyahu menuntut pembebasan sandera tanpa jaminan apapun, pelucutan seluruh senjata gerakan perlawanan Palestina, bukan hanya Hamas, dan pengusiran Hamas dari Gaza, tanpa menawarkan penghentian perang. Ini bukan negosiasi, ini ultimatum sepihak, orang gila mana yang terima?” tegasnya.
Tepi Barat Jadi Sasaran Berikutnya
Selain Gaza, Dr. Barghouti mengingatkan bahwa serangan besar-besaran juga terjadi di Tepi Barat, khususnya di kamp-kamp pengungsi seperti Tulkarem, Nur Shams, dan Jenin. “Lebih dari 45.000 warga diusir, dan 13 kamp lainnya menjadi target berikutnya. Ini adalah strategi untuk menghapus pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah air mereka sekaligus menghancurkan eksistensi UNRWA.”
“Israel tidak lagi menyembunyikan niatnya. Menteri-menteri Israel seperti Smotrich dan Gallant secara terbuka menyatakan dukungan terhadap pembakaran rumah dan kendaraan milik warga Palestina, bahkan mencabut hukuman terhadap pemukim Israel yang menyerang warga Palestina. Ini adalah lampu hijau pendudukan dan teror kami,” tambahnya.
Ancaman Demografi Jadi Alasan Utama
Dr. Barghouti mengungkapkan bahwa Israel menghadapi “dilema populasi”. terdapat 7,3 juta warga Palestina yang tinggal di wilayah Palestina, jumlah yang telah melebihi populasi Yahudi Israel. Ini adalah kegagalan proyek kolonial yang bertumpu pada pemusnahan atau pengusiran penduduk asli. Maka, solusinya bagi Israel adalah mengurangi jumlah warga Palestina melalui pembersihan etnis.
Persatuan Adalah Kunci
Menghadapi “perang eksistensial”, Dr. Barghouti menyerukan pembentukan segera pemerintahan persatuan nasional. Ia merujuk pada Kesepakatan Beijing yang telah ditandatangani semua faksi Palestina, termasuk Fatah dan Hamas, namun hingga kini belum diimplementasikan.
“Tidak ada solusi kecuali menyatukan seluruh kekuatan nasional. Ini bukan waktu untuk bersaing atau bersembunyi. Ini waktu bagi seluruh pemimpin Palestina untuk tampil di garis depan dan bertindak,” ujarnya.
Tidak Ada Lagi Kedaulatan di Tepi Barat
Menurut Barghouti, Otoritas Palestina saat ini sudah kehilangan kedaulatannya. “Pasukan Israel bebas masuk ke jantung setiap kota di Tepi Barat. Tidak ada lagi otoritas, tidak ada lagi kontrol. Sementara di Gaza, seluruh wilayah telah berada di bawah pendudukan penuh. Ini bukan saatnya diam,” tegasnya.
“Jika Pembersihan Etnis Ini Berhasil, Palestina Akan Hilang”
Menutup pernyataannya, Dr. Barghouti memperingatkan bahwa hasil akhir dari pembiaran terhadap situasi saat ini bisa jadi adalah lenyapnya Palestina dari peta dunia. “Jika pembersihan etnis ini berhasil, tidak akan ada lagi Palestina. Inilah waktunya bagi rakyat kita untuk bersatu dan menghentikan bencana ini. Ini bukan konflik biasa, ini Nakba kedua yang bisa lebih buruk dari tahun 1948,” pungkasnya.
(T.RS/S: Al-Jazeera)