Al-Quds, SPNA — Menjelang bulan suci Ramadhan, Israel dilaporkan kembali meningkatkan kehadiran pasukan militer secara masif di Al-Quds Timur. Hal ini memicu kekhawatiran kota suci itu akan kembali berubah menjadi zona militer yang menekan kehidupan warga Palestina dan jamaah Muslim.
Ketua Komite Al-Quds untuk Melawan Yudaisme, Nasser Al-Hidmi, mengungkapkan bahwa otoritas Israel dalam beberapa hari terakhir menerapkan langkah militer yang tidak biasa, termasuk penyebaran pasukan khusus dan polisi perbatasan dalam jumlah besar di sekitar Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua. Pos pemeriksaan tetap maupun bergerak juga didirikan, secara efektif membatasi pergerakan warga dan menghambat akses menuju tempat ibadah.
Al-Hidmi menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan langkah pengamanan rutin, melainkan bagian dari strategi sistematis untuk memaksakan kontrol penuh atas Al-Quds. Menurutnya, Israel kembali berupaya mengubah Ramadhan, yang seharusnya menjadi momen spiritual. menjadi periode penuh tekanan keamanan, sekaligus meminimalisir kehadiran umat Muslim di kompleks Al-Aqsa.
Ia menilai pembatasan usia dan waktu bagi jamaah untuk memasuki masjid kemungkinan kembali diberlakukan dengan dalih keamanan, sebuah pola yang berulang setiap tahun namun kerap menuai kritik karena dianggap sebagai pembatasan kebebasan beribadah.
Militerisasi ini juga berjalan beriringan dengan meningkatnya masuknya pemukim ke halaman Al-Aqsa di bawah perlindungan pasukan Israel. Minimnya tekanan internasional disebut turut memberi ruang bagi Israel untuk melanjutkan kebijakan sepihak tanpa konsekuensi berarti.
Meski dihadapkan pada pengusiran, intimidasi, dan pembatasan, warga Palestina menegaskan akan tetap memenuhi Masjid Al-Aqsa sepanjang Ramadan. Para tokoh Al-Quds juga mendesak komunitas internasional dan lembaga hak asasi manusia untuk tidak lagi berdiam diri serta segera mengambil langkah nyata guna menghentikan militerisasi dan pelanggaran terhadap penduduk di kota suci itu.
(T.RS/S:Palinfo)