Jalur Gaza, SPNA – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan bahwa sekitar 90 persen penduduk Jalur Gaza telah dipaksa meninggalkan rumah mereka sejak dimulainya perang genosida oleh Israel.
Sebagian dari mereka bahkan harus berpindah hingga sepuluh kali atau lebih, menghindari bom dan kehancuran yang terus menerus menghantam wilayah padat penduduk itu.
Dalam pernyataannya di platform X pada Kamis (15/05/2025), UNRWA menyebut bahwa pengusiran massal ini merupakan kelanjutan dari tragedi Nakba 1948 yang tak kunjung usai. “Setelah 77 tahun, rakyat Palestina masih terus mengalami pengusiran paksa,” tulis lembaga tersebut. Kata-kata ini menggarisbawahi bahwa apa yang terjadi di Gaza hari ini bukan sekadar konflik, tetapi kelanjutan sistematis dari kebijakan pemusnahan bangsa.
Peringatan keras juga disampaikan UNICEF. Juru bicaranya, James Elder, menyatakan bahwa satu-satunya hal yang saat ini masuk ke Gaza adalah bom. Ia menuduh Israel menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai umpan untuk memaksa penduduk mengungsi dari wilayah utara ke selatan, menciptakan dilema yang mengerikan: mengungsi atau mati. Menurut Elder, situasi ini mencerminkan keruntuhan moral global, karena dunia memilih diam saat satu populasi dibantai secara terang-terangan.
Sejak 2 Maret 2025, semua perlintasan ke Gaza ditutup rapat oleh militer Israel. Tidak ada makanan, air, ataupun barang kebutuhan dasar yang diizinkan masuk. Gaza yang telah terkepung selama 18 tahun kini berubah menjadi penjara terbuka yang tak memiliki jalan keluar. Lebih dari 1,5 juta warga kehilangan tempat tinggal, hidup tanpa perlindungan, tanpa pangan, dan tanpa harapan.
Serangan brutal yang dilakukan Israel telah menewaskan lebih dari 52.000 warga Palestina, termasuk lebih dari 20.000 perempuan dan anak-anak. Jumlah korban luka melebihi 75.000 orang, banyak diantaranya mengalami amputasi, luka bakar, atau trauma permanen yang mengubah hidup mereka selamanya.
Sementara itu, infrastruktur Gaza berada di ambang kehancuran total: sekitar 292.000 rumah hancur atau rusak berat, 70 persen fasilitas pendidikan lumpuh, dan hanya