Mengenal UpScrolled, Aplikasi Palestina yang Viral Setelah TikTok Dibeli Zionis di Amerika

Gaza, SPNA – UpScrolled, aplikasi media sosial besutan wirausahawan Palestina–Yordania–Australia, Issam Hijazi, mendadak meroket popularitasnya di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat. Lonjakan ini terjadi ketika banyak pengguna mencari alternatif TikTok, yang pada Kamis lalu (22/01/2026), secara resmi diambil alih oleh investor dan perusahaan yang didukung Amerika Serikat dan pro-Zionis.

Kekhawatiran muncul setelah Larry Ellison, pemilik Oracle yang dikenal sebagai pendukung kuat Israel dan sahabat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengambil saham di entitas TikTok yang berbasis di AS. Sejumlah pengguna media sosial menilai langkah ini berpotensi memicu penyensoran konten pro-Palestina di TikTok. Meski demikian, operasional global TikTok tetap dijalankan oleh pemilik asal Cina, ByteDance.

Pada Rabu lalu, TikTok secara permanen memblokir jurnalis peraih Emmy Award sekaligus kontributor Al Jazeera dari Gaza, Bisan Owda. Keputusan ini memicu kemarahan publik serta seruan boikot dari para pendukungnya. TikTok juga dituding menyensor konten terkait kekerasan ICE (Imigrasi dan Bea Cukai AS) yang disebut-sebut terjadi secara masif di Amerika Serikat.

Didirikan baru setahun lalu, UpScrolled secara mengejutkan menduduki posisi teratas unduhan aplikasi di Amerika Serikat pekan ini. Hingga Rabu, UpScrolled menempati peringkat pertama kategori “jejaring sosial” dalam daftar aplikasi gratis Apple App Store. Aplikasi ini juga masuk jajaran teratas unduhan di Inggris, Kanada, dan Australia.

Arus pengguna baru yang kecewa terhadap TikTok membuat jumlah unduhan UpScrolled meningkat ribuan setiap hari, tertarik oleh janji “teknologi yang transparan”. Lonjakan tersebut bahkan sempat membuat server aplikasi tumbang pada akhir pekan lalu, menurut laporan internal UpScrolled.

UpScrolled didirikan pada Juli 2025 oleh Issam Hijazi, seorang pengembang Palestina-Yordania-Australia yang sebelumnya bekerja dengan perusahaan teknologi besar seperti Oracle dan IBM. (Foto: Tangkapan layar)

Apa itu UpScrolled dan Bagaimana Cara Kerjanya?

UpScrolled memungkinkan pengguna mengunggah foto, video pendek, dan teks—perpaduan yang membuatnya terasa seperti gabungan X (sebelumnya Twitter) dan Instagram. Antarmukanya mirip X, dengan fitur menyukai unggahan, memberi komentar, dan membagikan ulang.

Sejauh ini, pengguna UpScrolled lebih banyak memanfaatkan platform tersebut untuk unggahan teks dan foto ketimbang video pendek ala TikTok.

UpScrolled juga memiliki “Discover Page” yang serupa dengan Snapchat. Topik paling dominan di halaman ini adalah Palestina. Ratusan unggahan yang menggambarkan penderitaan berkelanjutan di Jalur Gaza atau solidaritas terhadap warga Palestina membanjiri platform tersebut.

Sejumlah tokoh publik turut bergabung, di antaranya aktivis buruh Amerika Serikat Chris Smalls, mantan pengorganisir Serikat Pekerja Amazon yang pada Juli 2025 ikut dalam Freedom Flotilla Gaza. Aktor Yahudi-Amerika Jacob Berger, yang dikenal lewat serial Brooklyn Nine-Nine dan juga bagian dari Freedom Flotilla, turut aktif di aplikasi ini.

Beberapa pengguna sempat mengeluhkan unggahan video yang menyebabkan aplikasi macet. UpScrolled menyatakan masalah tersebut disebabkan lonjakan pengguna dan mengklaim gangguan telah diperbaiki melalui pembaruan pada Kamis lalu (29/01/2026).

Siapa pengembang UpScrolled?

UpScrolled didirikan pada Juli 2025 oleh Issam Hijazi, pengembang Palestina–Yordania–Australia yang sebelumnya bekerja di perusahaan teknologi besar seperti Oracle dan IBM. Aplikasi ini didukung oleh Tech for Palestine, sebuah proyek advokasi yang mendanai inisiatif teknologi pro-Palestina.

Dalam wawancara dengan situs berita teknologi Rest of World, Hijazi mengatakan keputusannya meninggalkan karier di perusahaan teknologi besar dipicu oleh kehancuran Gaza, yang oleh Komisi Penyelidikan PBB disebut sebagai genosida. Tingginya tingkat penyensoran konten di platform populer, menurut dia, menjadi faktor utama.

Pendiri UpScrolled, Issam Hijazi.

“Saya tidak tahan lagi. Saya kehilangan anggota keluarga di Gaza dan tidak ingin ikut terlibat. Saya ingin melakukan sesuatu yang berguna,” ujar Hijazi.

Ia menilai terdapat celah pasar karena banyak orang mempertanyakan ketiadaan alternatif platform besar yang kontennya kerap disensor. “Mengapa kita tidak membangunnya sendiri?” katanya.

Tahun lalu, Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese menuduh IBM dan sejumlah perusahaan teknologi besar lain terlibat dalam apa yang ia sebut sebagai “genosida Israel”. Aplikasi seperti Instagram, X, dan TikTok juga dituding melakukan shadow banning terhadap konten pro-Palestina.

UpScrolled mengklaim hanya memoderasi konten ilegal, seperti penjualan narkoba keras, dan tidak lebih dari itu. Algoritma aplikasinya, menurut Hijazi, tidak dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir tanpa henti seperti TikTok.

“Bukan karena kami tidak tahu caranya,” ujarnya. “Tapi saya tidak ingin melakukan itu karena saya tahu dampak mentalnya, terutama bagi generasi muda.”

UpScrolled mempertahankan linimasa kronologis penuh, sebuah fitur yang telah lama dihapus dari aplikasi populer lain. Unggahan di Discover Page saat ini diperingkat berdasarkan tingkat keterlibatan, meski tim pengembang tengah bereksperimen menggunakan kecerdasan buatan untuk menata ulang konten sesuai perilaku pengguna.

Dalam situs resminya, UpScrolled menyatakan ingin menyediakan ruang bagi pengguna untuk “mengekspresikan pikiran secara bebas, berbagi momen, dan terhubung dengan orang lain”. Aplikasi ini, klaim mereka, dimiliki oleh para penggunanya, bukan oleh algoritma tersembunyi atau agenda eksternal.

Berapa Banyak Orang yang Mengunduh UpScrolled?

Hingga Selasa (27/01), perusahaan intelijen pemasaran Sensor Tower memperkirakan UpScrolled telah diunduh sekitar 400 ribu kali di AS dan 700 ribu kali secara global sejak diluncurkan pada Juni 2025.

Lonjakan unduhan di AS dimulai pada 22 Januari—hari yang sama ketika TikTok menandatangani kesepakatan pembentukan versi aplikasi yang dikendalikan Amerika. Sekitar 85 persen unduhan UpScrolled di AS terjadi antara 21–27 Januari. Sampai 31 Januari 2026, unduhan telah mencapai lebih 2 juta kali secara global.

Pada Rabu, UpScrolled menempati peringkat pertama kategori jejaring sosial di App Store AS, melampaui Threads, WhatsApp, dan TikTok. Di Google Play, aplikasi ini berada di posisi keenam aplikasi sosial gratis, sementara TikTok masih mendominasi.

“Beban server kami gila-gilaan. Sangat menarik!” tulis Hijazi pada Minggu, setelah lonjakan pengguna baru sempat melumpuhkan server. Ia meminta maaf atas gangguan teknis dan menyebut kapasitas tengah ditingkatkan.

Apa Saja Kekhawatiran terkait Penyensoran TikTok?

Sejak kesepakatan TikTok di AS berlaku, tagar #TikTokCensorship menjadi tren di X dan Instagram. Pengguna menuduh TikTok menekan video pro-Palestina. Pemblokiran Bisan Owda dinilai menguatkan tudingan tersebut.

Pengguna juga menilai TikTok meredam konten yang mengkritik ICE (Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat), di tengah kemarahan publik atas tindakan keras lembaga tersebut. Pekan ini, petugas ICE membunuh perawat darurat Alex Pretti, kurang dari tiga pekan setelah kematian warga sipil lain, Renee Good. Kritik terhadap mantan Presiden Donald Trump juga disebut-sebut mengalami shadow banning.

Gubernur California Gavin Newsom menyatakan akan menyelidiki TikTok setelah pengguna mengeluh konten terkait Jeffrey Epstein ditandai atau dibatasi. Selain itu, sejak kesepakatan bisnis pekan lalu, kreator mengeluhkan gangguan teknis seperti nol penayangan dan unggahan lambat. TikTok menyebut masalah tersebut akibat gangguan infrastruktur besar di salah satu pusat data mitranya di AS.

Selain UpScrolled, Skylight—aplikasi video vertikal pendek asal AS yang diluncurkan April tahun lalu—juga mencatat kenaikan pengguna sebagai alternatif TikTok. Menurut TechCrunch, aplikasi ini telah menarik lebih dari 380 ribu pengguna.

Aplikasi lain adalah Bluesky, pesaing X yang diluncurkan pada 2024 dan banyak digunakan oleh pengguna yang menentang ideologi sayap kanan Elon Musk. Hingga September 2025, Bluesky memiliki sekitar 1,5 juta pengguna aktif.

Siapa Pemilik Baru TikTok di Amerika Serikat?

Pemilik baru TikTok di Amerika Serikat berasal dari gabungan tokoh teknologi berpengaruh, taipan media, serta perusahaan investasi besar. Konsorsium ini dipimpin oleh Larry Ellison, salah satu pendiri Oracle. Perusahaan tersebut sebelumnya telah mengelola data pengguna TikTok di AS dan kini akan mengawasi sistem komputasi awan serta algoritme platform tersebut.

Ellison dikenal sebagai salah satu penyumbang dana pribadi terbesar bagi militer Israel di dunia. Oracle juga tercatat bekerja sama dengan Israel dalam berbagai proyek pengawasan dan pertahanan, termasuk di wilayah Tepi Barat yang diduduki serta di Gaza. Dalam beberapa laporan, Ellison disebut telah lama menjalin hubungan dekat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Investor lain yang dikonfirmasi adalah Rupert Murdoch dan putranya Lachlan Murdoch, yang mengendalikan Fox News, New York Post, serta sebagian besar imperium media global News Corp.

Media-media milik keluarga Murdoch kerap dikritik karena secara konsisten membela Israel dan menyerang aktivisme pro-Palestina. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang potensi pengaruh mereka terhadap cara konten TikTok dikurasi atau disensor.

Nama lain dalam jajaran pemilik baru adalah Michael Dell, pendiri Dell Technologies. Perusahaannya diketahui telah memasok perangkat keras, data, dan kemampuan kecerdasan buatan kepada sektor militer dan keamanan Israel, sering kali melalui perusahaan rintisan berbasis di Israel.

Dell secara pribadi dikenal sebagai pendukung kuat ekosistem teknologi Israel. Perusahaannya juga disebut dalam laporan Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese sebagai salah satu aktor korporasi yang diduga meraup keuntungan dari pendudukan Israel atas Palestina.

Pemangku kepentingan penting lainnya adalah MGX, dana investasi yang diketuai Sheikh Tahnoon bin Zayed, penasihat keamanan nasional Uni Emirat Arab sekaligus saudara Presiden Mohammed bin Zayed.

MGX akan mengambil 15 persen saham dan satu kursi dewan direksi, menempatkan Abu Dhabi sebagai investor teknologi global yang selaras dengan Amerika Serikat dan Israel, yang hubungannya dinormalisasi oleh UEA pada 2020.

Selain itu, perusahaan ekuitas swasta Silicon Valley Silver Lake juga menjadi bagian dari kelompok investor, menambah pengaruh Wall Street dalam kesepakatan tersebut. Secara keseluruhan, Oracle, Silver Lake, dan MGX akan menguasai hampir setengah kepemilikan TikTok di Amerika Serikat.

Sangat Berkaitan dengan Gaza dan Israel

Menonjolnya peran TikTok selama perang di Gaza bukanlah kebetulan. Platform ini disebut-sebut menjadi salah satu alasan utama mengapa Washington mengambil langkah keras terhadap aplikasi tersebut.

Dengan kepemilikan kini berada di tangan tokoh dan institusi yang memiliki hubungan erat dengan Israel, banyak pihak memperingatkan potensi meningkatnya sensor terhadap suara-suara Palestina. Kekhawatiran ini menguat setelah para legislator Amerika Serikat menuduh TikTok menyebarkan narasi yang mereka sebut sebagai “pro-Hamas” dan “anti-Israel” kepada generasi muda di AS.

Kelompok pembela hak asasi manusia, termasuk Human Rights Watch dan Amnesty International, sebelumnya telah mendokumentasikan penghapusan konten secara luas di platform Meta dan media sosial lainnya. Mereka khawatir TikTok akan menempuh jalur serupa di bawah kepemimpinan barunya.

Aplikasi yang sebelumnya menjadi medium penting dalam menyiarkan penderitaan penduduk Palestina di Gaza itu dikhawatirkan kini akan dibentuk ulang, bukan untuk memperkuat suara dari wilayah konflik, melainkan untuk membungkamnya.

(T.FJ/S: Aljazeera, Newarab)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya