Yerusalem, SPNA – Organisasi hak digital Palestina, Sada Social Center, sebagaimana dilansir Quds News, pada Selasa (03/12/2024), melaporkan bahwa terjadi lebih dari 500 kasus pelanggaran terhadap konten digital Palestina yang tercatat pada bulan November. Pelanggaran ini tersebar di berbagai platform media sosial global.
Dalam laporan bulanan yang dirilisnya, Sada Social Center mengungkapkan bahwa mereka mendokumentasikan lebih dari 500 pelanggaran digital di berbagai platform media sosial. Pelanggaran terhadap konten Palestina oleh Meta masih tetap mendominasi, dengan 57 persen dari total pelanggaran tersebut. TikTok menyusul di posisi kedua dengan 23 persen, diikuti oleh X dengan 7 persen, dan YouTube di 13 persen.
Selain itu, 30 akun WhatsApp yang dimiliki oleh warga Palestina dihapus, termasuk dua grup berita dan satu grup lokal di Jenin. Kebijakan digital yang menekan suara Palestina semakin membatasi jangkauan kepada audiens global.
Dampak Pemadaman Digital di Gaza Utara: Hambatan Komunikasi dan Pelaporan Kejadian
Di sisi lain, Gaza Utara terus mengalami pemadaman digital yang serius akibat pemutusan internet yang berkepanjangan. Hal ini sangat mengganggu komunikasi dan pelaporan peristiwa di tengah serangan dan pengepungan militer Israel. Gangguan ini memperburuk penderitaan warga Gaza, terutama karena pendudukan Israel terus menghalangi tim penyelamat dalam upaya menyelamatkan korban.
Sementara itu, penandatanganan perjanjian gencatan senjata di Lebanon bertepatan dengan meningkatnya hasutan Israel terhadap rakyat Lebanon. Ancaman untuk meluncurkan perang keempat di Lebanon dan pengusiran warga dari selatan semakin mencuat. Protes terhadap kesepakatan gencatan senjata juga semakin meluas di kalangan pendudukan Israel, dengan seruan untuk melanjutkan serangan dan agresi terhadap Lebanon.
Sada Social mengutuk pelanggaran-pelanggaran digital dan narasi hasutan pendukung Israel yang semakin memperburuk ketegangan di wilayah tersebut. Hal ini mempromosikan kebencian dan memicu agresi lebih lanjut terhadap Palestina, Lebanon, serta para pendukung mereka di seluruh dunia.
Tuntutan untuk Platform Digital Tanggapi Konten yang Menghasut
Sada Social Center mendesak platform digital, khususnya X, untuk bertanggung jawab dalam menangani konten yang menghasut. Sada Social juga mengajak para pemangku kepentingan untuk mengambil langkah-langkah tegas dalam membatasi kebijakan yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan dan politik yang ada.
Sada Social Center adalah organisasi hak digital Palestina yang didirikan pada 2017 untuk melindungi narasi Palestina di platform media sosial global. Organisasi ini telah secara aktif mencatat pelanggaran terhadap konten Palestina di berbagai platform selama bertahun-tahun.
Statistik Pelanggaran: Data Tahun-tahun Sebelumnya
Pada tahun 2020, Sada Social Center mencatat 1200 pelanggaran terhadap konten Palestina, termasuk 25 di Instagram, 10 di YouTube, 801 di Facebook, dan 276 di Twitter. Angka ini meningkat pesat pada 2021, dengan 1593 pelanggaran, yang mencakup 174 di Instagram, 16 di YouTube, 853 di Facebook, dan 445 di Twitter.
Di tahun 2022, Sada Social Center mendokumentasikan 1230 pelanggaran, termasuk 805 di Facebook, 165 di Instagram, 96 di WhatsApp, 52 di TikTok, 26 di YouTube, 68 di Twitter, 1 di SoundCloud, 11 di Clubhouse, dan 6 di Telegram.
Sada Social Center terus berkomitmen untuk memperjuangkan hak digital Palestina dan melawan penindasan digital yang semakin memburuk.
Genosida Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Minggu (01/12), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 44.466 orang dan 105.358 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur, di mana lebih 801 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel telah membunuh 3.961 penduduk Lebanon dan lebih dari 16.520 terluka sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: Quds News, Mondoweiss)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!