Mantan PM Israel: Netanyahu Sokong Aksi Kriminal Ekstremis Yahudi di Tepi Barat

Warga berduka tampak larut dalam kesedihan saat pemakaman Rashid Al-Sadeh, seorang warga Palestina yang tewas dalam serangan pemukim Israel di Desa Jeit, dekat Qalqilya, Tepi Barat yang diduduki Israel, pada 16 Agustus 2024. REUTERS/Raneen Sawafta TPX IMAGES OF THE DAY

Jalur Gaza, SPNA – Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, menyatakan bahwa pemerintahan Benjamin Netanyahu mengorganisasi, mengarahkan, mendanai, dan melindungi aksi teror yang dilakukan kelompok Yahudi radikal terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.

“Perlawanan terhadap terorisme Yahudi di Tepi Barat harus memasuki tahap baru dan dilakukan dengan ketegasan yang lebih besar,” tulis Olmert. 

Mantan perdana menteri itu menolak upaya pemerintah Israel yang selama ini menggambarkan aksi kekerasan sebagai ulah segelintir individu. “Teror yang dikelola, diarahkan, didorong, dan didanai oleh pemerintah Israel tidak dapat lagi ditoleransi.”

“Apa yang terjadi di seluruh Tepi Barat saat ini bukanlah ulah ‘70 anak muda bermasalah’,” tulisnya, merujuk pada pernyataan Netanyahu sebelumnya. “Ini juga bukan tindakan segelintir kelompok kecil yang menyimpang sebagaimana sering diklaim para pemimpin gerakan permukiman ilegal.”

Menurut Olmert, kekerasan yang terus meningkat terhadap warga Palestina bukanlah rangkaian insiden terpisah, melainkan bagian dari kebijakan yang dijalankan secara sistematis.

“Negara Israel sedang menjalankan kampanye pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang terorganisasi, sistematis, dan didanai negara,” tegasnya.

Mantan PM Israel, Ehud Olmert (CNN)
Mantan PM Israel, Ehud Olmert (CNN)

Olmert secara langsung menunjuk para pemimpin pemerintahan Israel sebagai penggerak utama kebijakan tersebut. “Di garis depan aksi provokatif ini adalah perdana menteri, Menteri Pertahanan Israel Katz, dan anggota kabinet lainnya,” tulisnya.

Ia juga secara khusus menyebut Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich sebagai tokoh yang mendorong aneksasi penuh Tepi Barat.

Menurut Olmert, agenda mereka adalah menguasai seluruh wilayah Tepi Barat tanpa mempertahankan keberadaan rakyat Palestina di atas tanah tersebut. Ia menilai kebijakan itu pada hakikatnya merupakan proyek pengusiran warga Palestina secara sistematis.

Warga Palestina Setiap Hari Menghadapi Teror

Olmert menggambarkan berbagai bentuk kekerasan yang dialami warga Palestina hampir setiap hari. Ia menyebut serangan terhadap desa-desa Palestina, pembakaran rumah dan lahan pertanian, penghancuran properti, pencurian ternak, hingga penyerangan yang menyebabkan anak-anak dan orang dewasa terluka.

“Anak-anak dan orang dewasa yang terluka di dalam maupun di luar rumah mereka, ladang dan properti yang dibakar, serta pencurian besar-besaran, terutama sapi dan domba yang menjadi sumber penghidupan utama banyak keluarga Palestina,” tulisnya.

Polisi dan Tentara Israel Dituduh Terlibat

Olmert juga menegaskan bahwa Kepolisian Israel bukan sekadar gagal menghentikan kekerasan, tetapi justru menjadi bagian dari sistem yang memungkinkan aksi-aksi tersebut terus berlangsung.

“Kepolisian Israel pada praktiknya adalah mitra dalam apa yang terjadi di Tepi Barat. Mereka tidak berupaya mencegah tindakan-tindakan ini meskipun itu adalah kewajiban mereka. Dalam banyak kasus, pasukan keamanan bahkan membantu para penjahat. Yang lebih mengejutkan, hampir selalu korban Palestina yang ditangkap, bukan pelakunya.”

Ia menambahkan bahwa tentara Israel, baik pasukan wajib militer maupun pasukan cadangan, juga terlibat langsung dalam berbagai serangan terhadap warga Palestina.

Shin Bet Dikritik

Olmert turut mengkritik badan intelijen  Israel, Shin Bet, yang menurutnya memiliki kemampuan untuk menghadapi kelompok Yahudi radikal tetapi memilih untuk tidak menggunakannya.

“Tidak ada penjelasan yang meyakinkan mengapa Shin Bet tidak menggunakan perangkat yang dimilikinya untuk menghadapi pelaku kriminal Yahudi yang merajalela di Tepi Barat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kegagalan tersebut telah berlangsung lama dan tidak lagi dapat dibenarkan.

Pernyataan Olmert memperlihatkan semakin dalamnya perpecahan di dalam Israel terkait kebijakan pemerintah terhadap Palestina. Lebih dari sekadar kritik politik, tuduhan tersebut merupakan pengakuan langka dari seorang mantan perdana menteri bahwa kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat bukan lagi tindakan sporadis kelompok ekstremis, melainkan sebuah sistem yang, menurutnya, dijalankan, didanai, dan dilindungi oleh negara Israel sendiri.

(T.RS/S:MEMO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya