Ketika Tanah Menolak Mati: Petani Gaza Menghidupkan Ladang dari Reruntuhan

Jalur Gaza, SPNA – Di ujung timur Gaza, dekat wilayah  yang tersisa dari “garis kuning”, Ahmad al-Fajm berdiri di atas sebidang tanah kecil tak lebih dari seratus meter persegi. Di tempat itulah, petani 44 tahun itu mencoba menyambung kembali hidup yang tercerai berai oleh perang. Dari sisa-sisa rumahnya, Ahmad merangkai rumah plastik darurat. Bukan untuk berlindung, melainkan agar tanahnya kembali berdenyut.

“Ini satu-satunya lahan yang masih bisa saya datangi,” katanya. “Kami bangun rumah plastik dari apa saja, supaya keluarga dan tetangga bisa makan.”

Sebelum perang, Ahmad mengelola lahan 3000 meter persegi yang ditanami zaitun dan kurma. Hasilnya dijual ke Rafah dan Gaza, cukup untuk menghidupi keluarganya. Kini, pohon-pohon itu tinggal kenangan, hilang akibat agresi.

Rumahnya pun sudah tak berbentuk. Ahmad memilih bertahan di lahan yang sama, tinggal di atas puing, percaya bahwa kembali ke tanah adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup.

Bertani Tanpa Pupuk, Tanpa Air, Tanpa Kepastian

Dengan alat seadanya, Ahmad menanam tomat, cabai, dan tanaman lainnya. Panennya dibagi ke keluarga dan tetangga. “Tanpa bertani, kami mati,” ujarnya.

Kondisi di lapangan keras: pupuk nyaris tak ada, dan harga bahan kimia melonjak sepuluh kali lipat. “Botol yang dulu 100 Syikal, sekarang meningkat menjadi 1000 Syikal, itu pun kalau ada.” Air pun tak pasti.  

Gaza yang Rusak Parah

Di balik kisah Ahmad, Gaza menghadapi krisis yang lebih besar. Data lembaga internasional mencatat 60% lahan pertanian rusak, 70% hasil panen hilang, dan sekitar 500 ribu warga masuk kategori kelaparan akut. Ratusan sumur dan jaringan irigasi tak lagi berfungsi. Statistik itu, pada akhirnya, bermuara pada wajah-wajah seperti Ahmad, warga yang berusaha menyelamatkan sisa hidup mereka.

Di seluruh Gaza, kisah-kisah petani merangkai satu gambaran besar: tanah yang berusaha bernafas di antara reruntuhan. Rantai pasok pertanian terputus total; pupuk dan obat pertanian hilang, harga melonjak tajam, solar tidak tersedia untuk mesin pompa, dan jalan-jalan rusak sehingga petani sulit menjual panen.

Namun, di sela-sela kehancuran itu, hidup tetap tumbuh: tomat di tanah retak, peterseli di kaleng bekas, bayam di atas batu hitam sisa ledakan. Bagi Ahmad dan Usamah, bertani bukan soal keuntungan, tetapi soal bertahan.

(T.RS/S:Palinfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya