Kesaksian Tawanan Israel: Jika Tidak Diselamatkan Pejuang Gaza, Kami Sudah Tewas oleh Bom IDF

Aksi unjuk rasa demonstran menyerukan pembebasan mereka segera, di Tel Aviv, Israel, Sabtu, 18 Januari 2025. (Foto: AP/Oded Balilty)

Jalur GAza, SPNA – Sebuah rekaman yang dirilis Hamas memperlihatkan dua sandera Israel yang masih ditahan di Jalur Gaza, mengungkap penderitaan yang dialami para tawanan akibat kebijakan militer negaranya sendiri. 

Dalam kesaksian itu yang diposting Al-Jazeera, Sabtu (05/04/2025) keduanya menuding pemerintah Israel sebagai pihak yang seharusnya melindungi mereka justru menjadi penyebab utama penderitaan mereka, bukan Hamas. 

Video dua tahanan Israel meminta Tel Aviv untuk segera kembali ke meja perundingan dan membebaskan mereka, Sabtu 05/04/2025, (Foto: Al-Jazeera)
Video dua tahanan Israel meminta Tel Aviv untuk segera kembali ke meja perundingan dan membebaskan mereka, Sabtu 05/04/2025, (Foto: Al-Jazeera)

“Kami hanya keluar sebentar untuk menghirup udara, melihat langit dan bintang, lalu pesawat tempur IDF mengebom bangunan tempat aku berada. Kami selamat dengan keajaiban. Semua ini berkat Sang Pencipta dan berkat pasukan Hamas yang berusaha mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyelamatkan kami dan membawa kami kembali ke tempat perlindungan.”

Pernyataan itu menjadi tamparan telak bagi narasi resmi Tel Aviv, yang terus mengklaim bahwa operasi militernya bertujuan menyelamatkan sandera. Namun, dari dalam tanah, suara ini justru menunjukkan kenyataan sebaliknya: militer Israel sendiri yang hampir membunuh mereka.

Sandera tersebut kini kembali terkurung 30 meter di bawah tanah, di ruang sempit dari beton, tanpa cahaya, tanpa udara segar, tidak ada kasur, tidak ada selimut, makanan dan air nyaris habis akibat blokade Israel.

“Karena kalian, pemerintah Israel, aku kembali ke liang ini. Kami hidup seperti mayat berjalan. Kami tidak merasa lagi sebagai manusia.”

Tak hanya itu, salah satu tawanan juga menuding pemerintah Israel telah menipu rakyatnya. Klaim bahwa Hamas sedang ditekan hanyalah retorika kosong, karena mereka melancarkan serangan brutal yang tidak hanya membunuh rakyat Gaza namun sekaligus membahayakan nyawa para sandera Israel.

“Jangan percaya pada apa yang dikatakan pemerintahan Netanyahu yang haus darah. Mereka tidak sedang menekan Hamas. Mereka justru ingin membunuh kami, menghancurkan tempat kami, mereka membuat kami kehilangan segalanya.”

Dalam keputusasaan, sang sandera mengirim pesan yang tajam dan emosional kepada rakyat Israel: “Bersatulah rakyat Israel dan lawan kebijakan pemerintah yang telah menelantarkan kami.” 

Ia juga meminta agar para mantan sandera yang telah dibebaskan diizinkan bicara, tanpa disensor oleh otoritas Israel.

Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dilaporkan bahwa sekitar 1.200 warga Israel tewas dan 251 lainnya ditawan oleh Hamas. Beberapa dari mereka telah dibebaskan melalui pertukaran tahanan, namun hingga kini, sejumlah sandera masih berada di Gaza.

Sementara itu, jumlah korban jiwa di Gaza akibat serangan balasan Israel terus meningkat drastis. Hingga 23 Maret 2025, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa total korban tewas mencapai 50.021 orang, dengan lebih dari 113.000 lainnya mengalami luka-luka. 

Rekaman ini menjadi peringatan keras, di balik klaim patriotisme dan pembebasan, pemerintah Israel justru menyeret warganya sendiri ke ambang kematian. Ironisnya, Hamas sebagai pihak yang selama ini dicap sebagai teroris justru berperan menyelamatkan mereka.

(T.RS/S:Al-Jazeera)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya