Kesaksian Mengerikan: Tentara Israel Gunakan Kekerasan Seksual sebagai Senjata Perang terhadap Palestina

Perempuan dan anak-anak berlindung di Gaza dari serangan udara Israel yang terus berlanjut (Credit: Wilson Center)

Tel Aviv, SPNA – Sebuah kesaksian baru yang mengejutkan mengungkapkan bagaimana tentara Israel menggunakan kekerasan seksual terhadap wanita Palestina sebagai alat intimidasi dan menghancurkan moral. 

Dalam sebuah sidang Komisi Penyelidikan PBB, Selasa (11/03/2025) Kifeya Khraim dari LSM Palestina,  Women’s Centre for Legal Aid and Counselling (WCLAC), bersama seorang advokat lain yang tidak disebutkan namanya, memberikan kesaksian mengerikan tentang bagaimana tentara Israel secara sistematis melecehkan dan memperkosa wanita Palestina. 

Kifeya Khraim dari WCLAC bersaksi di sidang Komisi Penyelidikan PBB tentang kekerasan seksual sistematis yang dialami perempuan Palestina oleh pasukan Israel. Ia mengungkap kasus pelecehan di pos pemeriksaan dan penggerebekan rumah, di mana perempuan dipaksa menanggalkan pakaian dan melakukan tindakan merendahkan di hadapan tentara, serta diancam untuk tetap diam. (Credit: The Reality of Palestine)
Kifeya Khraim dari WCLAC bersaksi di sidang Komisi Penyelidikan PBB tentang kekerasan seksual sistematis yang dialami perempuan Palestina oleh pasukan Israel. Ia mengungkap kasus pelecehan di pos pemeriksaan dan penggerebekan rumah, di mana perempuan dipaksa menanggalkan pakaian dan melakukan tindakan merendahkan di hadapan tentara, serta diancam untuk tetap diam. (Credit: The Reality of Palestine)

Mereka mengungkapkan bahwa dalam sebuah penggerebekan di Tepi Barat pada Juli 2023, tentara wanita Israel dengan anjing-anjing besar memaksa wanita Palestina untuk menanggalkan pakaian mereka dan berjalan telanjang di dalam rumah mereka sendiri.

Kekerasan Seksual sebagai Senjata Perang

Kesaksian lebih lanjut mengungkapkan bahwa pelecehan seksual terhadap wanita Palestina bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari kebijakan sistematis tentara Israel. Dalam banyak penyerangan terhadap rumah-rumah Palestina, tentara Israel memaksa wanita-wanita Palestina untuk berpose secara memalukan sambil direkam. Mereka menyentuh tubuh wanita-wanita ini secara tidak senonoh, mengancam akan memperkosa mereka di hadapan keluarga mereka yang diborgol atau ditutup matanya.

“Mereka melakukan ini bukan hanya untuk mengendalikan wanita, tetapi juga untuk menghancurkan laki-laki Palestina secara psikologis dengan membuat mereka tidak berdaya dalam melindungi istri, anak perempuan, atau saudara perempuan mereka,” ungkap advokat yang bersaksi di PBB. 

Ini adalah strategi penghancuran sosial yang kejam, menghancurkan martabat individu, merusak keluarga, dan pada akhirnya melemahkan masyarakat Palestina secara keseluruhan.

Namun sayanganya, media arus utama di Barat memilih untuk diam. Ketika isu kekerasan seksual bisa digunakan untuk mendukung kepentingan politik Barat, mereka berteriak lantang. Tetapi ketika korban adalah wanita Palestina dan pelakunya adalah tentara Israel, mereka tutup mulut rapat-rapat.

BBC, The New York Times, dan The Washington Post memang sempat menyinggung laporan PBB yang mengungkap penggunaan kekerasan seksual oleh Israel sejak 7 Oktober 2023, tetapi mereka sengaja mengabaikan kesaksian Khraim yang lebih rinci dan mengguncang.

Pemerkosaan Massal dan Pelecehan di Penjara Israel

Salah satu kesaksian paling mengerikan adalah tentang tentara wanita Israel yang memasukkan benda-benda ke dalam alat kelamin wanita Palestina. Tidak hanya wanita, pria Palestina juga mengalami pelecehan seksual serupa. Para pelaku bahkan merekam tindakan keji mereka, mempermalukan korban mereka lebih jauh.

Salah satu korban mengungkapkan bahwa dia diperkosa secara bergilir oleh tentara Israel, disiksa selama empat jam, dan direkam sepanjang waktu. Dalam kasus lain, para tahanan Palestina yang melarikan diri dari Gaza melalui jalur yang disebut sebagai “jalur aman” justru diculik, ditahan di pusat penahanan di Negev, lalu dipaksa telanjang di hadapan warga sipil Israel yang diundang untuk menonton, mengejek, dan memfoto mereka.

“Kami memiliki laporan tentang wanita yang diperkosa hingga meninggal,” ungkap pengacara tersebut dalam sidang PBB.

Kekerasan seksual terhadap wanita Palestina sudah terjadi sejak 1948, sebagai bagian dari upaya pembersihan etnis oleh Israel. Sejarah kelam ini terus berulang, dan dunia tetap memilih untuk pura-pura tidak tahu.

(T.RS/S:Zeteo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya