Tepi Barat, SPNA – Kelompok ekstremis Israel pada Sabtu (8/11) dini hari membakar rumah milik keluarga Palestina di desa Abu Falah, timur laut Ramallah, dan menyerang para petani, jurnalis, serta aktivis asing di dekat Nablus. Serangan brutal ini menjadi bagian dari gelombang kekerasan yang terus meningkat di bawah perlindungan penuh militer Israel, menurut laporan Middle East Monitor yang mengutip kantor berita Wafa dan Anadolu Agency.
Sumber-sumber lokal menyebutkan, para ekstremis bersenjata menerobos masuk ke pinggiran Abu Falah lalu membakar rumah satu lantai milik warga Palestina. Api melalap sebagian bangunan hingga rusak parah. Ketika warga berusaha mendekat, pasukan Israel justru menembaki mereka dengan peluru tajam untuk melindungi para pelaku. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, namun kejadian ini memicu kepanikan luas di antara penduduk desa.
Insiden lain terjadi di Beita, selatan Nablus, di mana ekstremis menyerang para petani Palestina yang tengah memanen zaitun, termasuk jurnalis dan relawan asing. Wakil walikota Beita, Mohammad Hamayel, mengatakan para penyerang datang dari pos permukiman ilegal di kawasan Gunung Qamas dan memukuli warga dengan batang kayu serta melempar batu. Beberapa korban, termasuk reporter Reuters Raneen Sawafta dan dua jurnalis Al Jazeera, mengalami patah tulang dan luka memar. Tim medis Bulan Sabit Merah Palestina mengevakuasi sejumlah korban ke rumah sakit terdekat.
PBB melalui juru bicara Farhan Haq memperingatkan bahwa kekerasan ekstremis Israel terhadap warga Palestina melonjak tajam sepanjang Oktober, dengan 264 serangan tercatat hanya dalam sebulan, angka tertinggi dalam dua dekade terakhir. “Rata-rata delapan serangan terjadi setiap hari sejak 2006,” ujar Haq, mengutip data dari Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA).
Pengadilan Internasional (ICJ) sebelumnya telah menegaskan bahwa pendudukan Israel di wilayah Palestina adalah ilegal dan menuntut agar seluruh permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur segera dikosongkan. Namun keputusan itu diabaikan sepenuhnya oleh pemerintah ekstrem kanan Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, yang justru terus mendorong ekspansi permukiman dan memberikan impunitas kepada para pelaku kekerasan.
Kekerasan ekstremis yang semakin tak terkendali ini mencerminkan pola kolonialisme yang sudah lama dikritik komunitas internasional. Rumah dibakar, ladang zaitun dihancurkan, dan jurnalis diserang, semuanya menunjukkan upaya sistematis untuk menghapus keberadaan rakyat Palestina dari tanah mereka sendiri. Meski PBB terus mengeluarkan kecaman, Israel tetap bertindak seolah di atas hukum, membiarkan para ekstremis menjadi wajah baru dari pendudukan yang tidak pernah berhenti.
(T.RS/S:MEMO)