Keji Sekali! Tentara Israel Akui Kubur dan Bakar Ribuan Ton Bantuan di Gaza ketika Kelaparan Melanda

Iring-iringan truk yang memuat bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza. (Foto: Abed Rahim Khatib/Anadolu)

Gaza, SPNA – Selama dua bulan terakhir, tentara Israel telah mengubur atau membakar lebih dari seribu truk bantuan kemanusiaan di Gaza, termasuk makanan, pasokan medis, dan air minum kemasan, di tengah kondisi kelaparan yang terus memburuk di wilayah tersebut. Hal ini dilaporkan oleh media penyiaran Israel, Kan, pada Jumat (17/10/2025).

“Kami mengubur semuanya di dalam tanah, bahkan ada yang kami bakar. Bahkan sampai hari ini, ribuan paket masih dibiarkan terjemur di bawah sinar matahari, dan jika tidak segera dikirimkan ke Jalur Gaza, kami terpaksa akan menghancurkannya juga,” ujar salah satu sumber militer.

Bantuan kemanusiaan tersebut, yang telah membusuk setelah berminggu-minggu tertahan di sisi Palestina di perlintasan Kerem Shalom, dilaporkan tidak dapat didistribusikan karena mekanisme penyalurannya tidak berfungsi atau Israel dengan sengaja melarang penyaluran bantuan.

“Itu memang tidak berjalan. Truk-truk terhambat, mekanismenya tidak berjalan, ada masalah pada kualitas sumbu kendaraan, dan koordinasinya pun tidak berjalan. Kami memiliki gudang gandum terbesar di sini. Jika barang-barang yang ada saat ini tidak segera diambil, kami akan evakuasi dan kubur seluruh peralatan tersebut,” ” kata sumber militer tersebut kepada Kan.

Sumber tersebut juga mempertanyakan efektivitas pengiriman bantuan melalui udara.

“Sudah pernah dicoba sebelumnya, dan hasilnya benar-benar gagal, seperti halnya pelabuhan yang mereka bangun,” ungkapnya.

Selama dua tahun genosida terhadap penduduk Palestina di Gaza, Israel disebut-sebut telah mempersenjatai dan mendanai kelompok-kelompok bersenjata Palestina untuk menjarah konvoi bantuan kemanusiaan, sambil menyalahkan penjuang Palestina atas kekacauan tersebut.

Pada Jumat lalu, PBB melaporkan bahwa rata-rata 560 ton makanan masuk ke Gaza setiap harinya sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas diberlakukan pekan lalu. Namun, distribusi bantuan masih terhambat untuk menjangkau wilayah utara Gaza, termasuk Kota Gaza, karena penutupan jalan dan kerusakan akibat serangan udara sebelumnya yang dilakukan Israel.

Kesulitan dalam mendistribusikan bantuan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kondisi kelaparan akan terus berlanjut di Gaza.

“(Distribusi bantuan) kami masih berada di bawah jumlah yang dibutuhkan, tetapi kami menuju ke arah yang benar… Gencatan senjata ini membuka jendela peluang yang sempit, dan WFP bergerak sangat cepat untuk meningkatkan distribusi bantuan pangan,” kata juru bicara Program Pangan Dunia (WFP) PBB, Abeer Etefa, dalam konferensi pers di Jenewa.

Pada bulan Agustus, Amnesty International memperingatkan bahwa “Israel tengah menjalankan operasi kelaparan secara sengaja di Jalur Gaza yang diduduki, dengan sistematis menghancurkan kesehatan, kesejahteraan, dan struktur sosial kehidupan masyarakat Palestina”.

“Ini adalah hasil dari rencana dan kebijakan yang telah dirancang dan diterapkan oleh Israel selama 22 bulan terakhir dengan secara sengaja menciptakan kondisi kehidupan yang dapat menyebabkan kehancuran fisik rakyat Palestina di Gaza, yang merupakan bagian dari genosida yang terus berlangsung terhadap warga Palestina di wilayah tersebut,” tambah lembaga HAM tersebut.

Menurut laporan Public Health Situation Analysis yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2025, tercatat 361 orang di Gaza tewas karena malnutrisi, termasuk 130 anak ‑ anak. Sementara berdasarkan laporan dari otoritas medis Gaza menyebut bahwa hingga 16 September 2025, kematian akibat kelaparan atau malnutrisi telah mencapai 428 orang, termasuk 146 anak.

WHO menyebut bahwa lebih dari 500.000 penduduk di Jalur Gaza saat ini hidup dalam kondisi kelaparan ekstrem atau “katastropik”, yang dikategorikan sebagai IPC Fase 5. Kategori ini menggambarkan situasi paling parah dalam krisis pangan, di mana masyarakat mengalami kelaparan yang meluas, malnutrisi akut berat, dan meningkatnya angka kematian akibat kekurangan makanan.

Selain itu, sekitar 1,07 juta orang lainnya berada dalam kondisi “darurat” pangan (IPC Fase 4), artinya mereka sangat kekurangan makanan, berisiko tinggi mengalami malnutrisi parah, dan kesehatannya terancam. WHO memperingatkan bahwa situasi ini adalah akibat langsung dari blokade bantuan kemanusiaan, hancurnya sistem kesehatan, serta keterbatasan akses ke air bersih dan sanitasi yang layak, yang secara keseluruhan mempercepat memburuknya kondisi kesehatan masyarakat Gaza secara drastis.

Sejak 7 Oktober 2023, Israel dengan dukungan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat telah membunuh lebih 67.000 penduduk Palestina dan melukai 170.000 orang lainnya, dengan sekitar 10.000 masih hilang di antara puing-puing bangunan yang dibombardir Israel.

(T.FJ/S: The Cradle, WHO, AA)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!