Keji, Sejarah Singkat Pencurian dan Perdagangan Organ Palestina oleh Israel

Penduduk Palestina menyaksikan sebagian dari 84 jenazah Palestina yang diserahkan oleh tentara Israel dimakamkan di kuburan massal di Khan Younis, selatan Jalur Gaza, pada 5 Agustus 2024. (Foto: Abdullah Abu Al-Khair/APA Images)

Ditulis oleh: Aminah Mohammed dan Prince X. Neely*

Gaza, SPNA – Pada 5 Agustus 2024, setelah 303 hari agresi genosida terhadap penduduk Palestina rakyat  Gaza, penjajah Israel mengembalikan tubuh 89 orang Palestina ke Khan Younis dalam sebuah kontainer pengiriman. Para keluarga yang masih hidup, yang sangat ingin mengidentifikasi orang-orang tercinta mereka, justru dihadapkan pada kenyataan kematian massal. Tubuh-tubuh tersebut sudah membusuk hingga tak dapat dikenali, dan tidak ada jejak sejarah yang tersisa dari mereka. Apakah ini adalah tubuh-tubuh tahanan yang disiksa? Ataukah tubuh-tubuh yang dicuri dari kuburan yang dihancurkan di Gaza? Israel enggan memberikan penjelasan.

Tanpa kemampuan untuk melakukan tes DNA, pejabat Palestina tidak dapat mengidentifikasi tubuh-tubuh tersebut dan terpaksa menguburnya satu per satu di sebuah kuburan besar dekat Rumah Sakit Nasser.

Lembaga pemantaru HAM internasional, Euro-Med Monitor juga telah mendokumentasikan beberapa kasus serupa. Tentara penjajah Israel terlihat mengambil puluhan tubuh dari kuburan dan jalanan sekitar Kompleks Medis Al-Shifa dan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. Ada banyak laporan serupa dari seluruh Gaza. Setelah gencatan senjata, saat orang-orang kembali ke wilayah yang telah ditinggalkan oleh tentara penjajah Israel, mereka menemukan bukti lebih lanjut tentang tubuh-tubuh yang ada di kuburan massal.

Berdasarkan laporan Euro-Med Moniteror, “Kekhawatiran mengenai pencurian organ dari tubuh-tubuh tersebut diangkat oleh Euro-Med Monitor, yang mengutip laporan dari para profesional medis di Gaza yang dengan cepat memeriksa beberapa tubuh setelah dikembalikan. Mereka menemukan bukti pencurian organ, termasuk kehilangan koklea dan kornea serta organ vital lainnya seperti hati, ginjal, dan jantung.”

Israel telah melakukan kekejaman dengan tidak hanya membunuh orang Palestina, tetapi juga mengambil jenazah mereka dan menyimpannya. Bahkan, mereka mencuri organ tubuh orang-orang yang sudah meninggal untuk tujuan yang salah, seperti untuk perdagangan organ. Ini adalah tindakan yang melanggar hukum internasional dan sangat tidak manusiawi. Dokter-dokter Israel, yang secara langsung melanggar hukum internasional, telah mencuri organ dan kulit Palestina.

Tindakan tersebut bertentangan dengan aturan etika medis yang sudah disepakati oleh dunia. Aturan-aturan ini, seperti Kode Nuremberg dan Deklarasi Helsinki, mengharuskan agar setiap orang yang menjadi bagian dari penelitian medis harus ada izin terlebih dahulu. Prinsip inti dari kedua dokumen ini adalah bahwa “setiap subjek yang berpartisipasi dalam penelitian medis harus dapat memberikan persetujuan terlebih dahulu”. Jika ada penelitian atau percobaan yang melibatkan orang, mereka harus setuju dengan itu.  Tindakan Israel yang mencuri organ tubuh tanpa izin jelas melanggar aturan ini.

Kerangka etika ini tidak hanya berlaku untuk yang hidup. Pada tahun 2010, Organisasi Kesehatan Dunia merilis pedoman terpisah mengenai transplantasi sel, jaringan, dan organ yang berakar pada persetujuan dari donor, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal. Selain itu, Hukum Humaniter Internasional PBB (terutama Pasal 113 dan 114) dan Konvensi Jenewa mengatur bagaimana jenazah ditangani, terutama dalam konflik bersenjata. Secara ringkas: Jenazah harus diperlakukan dengan martabat yang tinggi, harus tetap utuh, tidak boleh ada mutilasi tubuh, dan jenazah harus diserahkan tanpa penundaan.

Terdapat beberapa perdebatan di kalangan profesional medis mengenai bagaimana prinsip-prinsip ini harus diterapkan pada tahanan perang dan kriminal yang dihukum. Israel secara rutin menggunakan dua kategori ini, serta kategori “teroris,” untuk menggambarkan syuhada Palestina guna membenarkan dan membela penyalahgunaan tubuh syuhada Palestina dalam bidang biomedis. Ini juga bukan hal yang mengejutkan.

Penduduk Palestina menangisi jenazah kerabat mereka yang dibunuh oleh tentara penjajah Israel di Gaza. (Foto: AFP)

Organ-organ Palestina Dijual Kepada Siapa Saja

Sejak lebih dari 30 tahun yang lalu, ada kesaksian dari orang Palestina yang menyatakan bahwa tubuh orang yang sudah meninggal, terutama selama Intifada pertama (perjuangan Palestina melawan penjajahan Israel), sering kali kehilangan organ, terutama mata dan ginjal. Pada tahun 1990, Dr. Hatem Abu Ghazaleh, seorang pejabat kesehatan Palestina, mengungkapkan hal ini pada tahun 1990. Namun, kisah-kisah orang Palestina ini sering kali tidak mendapat perhatian dari media internasional.

Baru setelah Nancy Scheper-Hughes, seorang antropolog dan aktivis asal Amerika, mulai menyelidiki masalah ini, cerita tentang pencurian organ tersebut mulai mendapat perhatian publik. Nancy menemukan bahwa ada jaringan yang terorganisir yang terlibat dalam perdagangan organ, dan ini berlangsung di Israel.

Pada tahun 1999, Nancy Scheper-Hughes mendirikan sebuah organisasi bernama Organs Watch. Organisasi ini bertujuan untuk memantau dan mengungkapkan perdagangan organ ilegal dan pelanggaran yang terkait dengan hal tersebut. Setelah setahun melakukan penelitian, Scheper-Hughes menemukan bahwa ada pelanggaran hak asasi manusia yang melibatkan pencurian organ dari tubuh orang-orang Palestina oleh ahli patologi (dokter yang melakukan autopsi) Israel. Pada tahun 2001, saat memberikan kesaksian di Kongres AS, dia menceritakan keluhan dari kelompok hak asasi manusia di Tepi Barat yang mengungkapkan bahwa tubuh para syuhada Palestina dicuri organnya oleh ahli patologi Israel.

Pada tahun 2013, seorang jurnalis asal Swedia bernama Donald Boström menulis artikel yang membahas secara mendalam tentang “penyalahgunaan tubuh orang yang sudah meninggal” yang terjadi di Israel. Artikel ini menjelaskan dugaan pencurian organ dari tubuh orang-orang Palestina yang dibawa ke Institut Nasional Kedokteran Forensik Israel selama periode antara Intifada pertama dan perang Gaza 2012. Artikel ini menjadi bukti lain yang menunjukkan adanya masalah serius yang terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia.

Selama sebagian besar periode yang dibahas dalam karya Scheper-Hughes dan Boström, Institut Forensik, yang juga dikenal dengan nama Abu Kabir (nama desa Palestina yang dibersihkan secara etnis tempat institut ini dibangun), dikelola oleh direktur dan ahli patologi utama, Dr. Yehuda Hiss.

Dalam wawancara pada Juli 2000 dengan Scheper-Hughes, Yehuda Hiss dengan bebas mengakui bahwa ia telah mengambil kulit, tulang, katup jantung, kornea, dan bahan manusia lainnya dari tubuh selama otopsi, dengan alasan bahwa keluarga telah memberikan izin untuk otopsi tetapi tidak diberitahu mengenai pencurian tersebut. Ia menggambarkan bagaimana ia mengangkat bukan hanya kornea tetapi bola mata utuh dari tubuh orang yang sudah meninggal, yang kemudian dikembalikan kepada keluarga mereka dengan kelopak mata yang dilem.

Dr. Chen Kugel, murid Hiss, bergabung dengan Institut tersebut sebagai ahli patologi pada tahun 1999. Menurut Scheper-Hughes, Kugel adalah orang yang pertama kali memberitahukan administrasi institut dan kemudian pemerintah Israel tentang pelanggaran biomedis ini, yang memicu penyelidikan selama dua tahun, di mana Yehuda Hiss menyembunyikan sebagian besar bukti dan setelah itu, tidak ada perubahan yang signifikan. Kugel dikatakan dipaksa keluar dari pekerjaannya karena berbicara tentang hal ini. (Saat ini, Kugel menjabat posisi yang sebelumnya dipegang oleh Hiss.)

Dr. Chen Kugel mengatakan kepada Scheper-Hughes bahwa organ dan jaringan tubuh diambil dari siapa saja, tidak peduli apakah mereka orang Yahudi atau Muslim, tentara atau warga sipil, bahkan dari orang yang dianggap sebagai “teroris” atau korban bom bunuh diri. Namun, menurut Kugel, lebih mudah bagi pihak yang berwenang untuk mencuri organ dari orang-orang Palestina. Hal ini karena orang Palestina dianggap sebagai “musuh”, sehingga ketika keluarga mereka mengeluh, mereka dianggap tidak dipercaya atau bahkan dianggap berbohong.

Penyelidikan terhadap Dr. Yehuda Hiss dilakukan pada tahun 2002 dan 2005, karena ia terbukti mengambil organ dari jenazah tanpa izin keluarga. Pada penyelidikan pertama, Hiss hanya diberi peringatan dan tetap diizinkan melanjutkan pekerjaannya. Namun, setelah penyelidikan kedua, meskipun dia terbukti bersalah, Hiss tidak dipecat. Sebagai gantinya, ia dicopot dari jabatan direktur dan dipindahkan ke posisi baru sebagai ahli patologi senior dengan gaji yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa tidak ada hukuman serius atau perubahan besar setelah pengakuan dan penyelidikan terhadapnya.

Dr. Yehuda Hiss membela tindakan pencurian organ yang ia lakukan. Pemerintah Israel menanggapi tuduhan pencurian organ ini dengan klaim bahwa tuduhan tersebut sebenarnya adalah bentuk antisemitisme (kebencian terhadap orang Yahudi). Mereka menyarankan bahwa tuduhan ini tidak lebih dari fitnah terhadap Israel. Namun, Dr. Hiss sendiri tidak merasa bersalah dan malah membanggakan apa yang telah dia lakukan.

Dalam wawancara dengan Nancy Scheper-Hughes, Hiss menjelaskan bahwa masalah pencurian organ bergantung pada siapa yang bertanggung jawab atas otopsi atau pengambilan organ tersebut. Ia memberi contoh bahwa saat ia bekerja di Rumah Sakit Tel Hashomer, ia dan timnya bekerja sama dengan tentara dan secara teratur menyediakan kulit untuk korban luka bakar serta kornea (bagian mata) yang dicuri dari jenazah.

Hiss mengakui bahwa ia terlibat dalam proses ini, yang menurutnya adalah bagian dari tugasnya sebagai ahli patologi. Ini menunjukkan bagaimana ia memandang pencurian organ sebagai hal yang biasa dilakukan dan tidak merasa bersalah atau berdosa atas tindakan tersebut.

“Dalam kasus saya, ketika saya menjadi residen di Tel Hashomer (Rumah Sakit), kami akan bekerja sama dengan tentara, dan kami akan menyediakan kulit yang dicangkokkan (dipanen) untuk korban luka bakar, dan dari waktu ke waktu, mereka akan meminta kami untuk kornea. Jadi, saya akan terlibat dalam hal itu karena saya bertanggung jawab, bersama dua orang lainnya, dan kami akan menyediakan ini,” kata Yehuda Hiss.

Dr. Yehuda Hiss membenarkan tindakannya yang mencuri organ dengan alasan etnonasionalis dan bagaimana pandangannya diterima oleh sebagian orang di Israel. Nancy Scheper-Hughes menulis pada tahun 2010 bahwa Dr. Hiss membenarkan tindakannya dengan alasan bahwa ia melakukan itu untuk kepentingan negara Israel. Hiss merasa bahwa apa yang dia lakukan adalah patriotik (setia kepada negara), meskipun tindakannya melanggar hukum. Menurut Hiss, ia tidak menganggap dirinya berada “di atas hukum”, tetapi justru mewakili hukum yang lebih tinggi. Hukum yang menurutnya benar dan sah. Ia merasa bahwa dalam situasi perang, di mana banyak orang terluka dan terbunuh, tindakan mencuri organ dari jenazah dianggap perlu karena Israel kekurangan organ dan jaringan yang dibutuhkan untuk menyelamatkan tentara atau korban lainnya.

Hiss Hiss, yang dianggap oleh banyak orang Israel dan oleh The New York Times sebagai pahlawan karena jasanya menangani tubuh orang yang dibunuh oleh teroris dan pembom bunuh diri, menganggap perilakunya sebagai patriotik. Ia melihat dirinya sebagai seseorang yang bertindak atas nama negara yang sedang berperang, dan ia menganggap tindakannya sebagai solusi yang sah dan ilmiah untuk masalah yang ada. Ini menunjukkan bagaimana ia mencoba membenarkan pencurian organ sebagai tindakan yang teknis dan rasional, meskipun sangat kontroversial dan melanggar etika.

Beberapa sekte agama konservatif di Israel secara terbuka mendukung tindakan ini, memanipulasi hukum Yahudi untuk mendukung ideologi supremasi Yahudi. Pada tahun 1996, Rabbi Yitzhak Ginsburgh, pemimpin berpengaruh dari sekte Chabad-Lubavitch, mengajukan pertanyaan yang tampaknya bersifat retoris:

“Jika seorang Yahudi membutuhkan hati,” tanyanya, “dapatkah Anda mengambil hati dari orang non-Yahudi yang lewat untuk menyelamatkannya? Taurat mungkin mengizinkan itu. Kehidupan Yahudi memiliki nilai yang tak terbatas. Ada sesuatu yang lebih suci dan unik tentang kehidupan Yahudi daripada kehidupan non-Yahudi.”

Dalam bukunya Over Their Dead Bodies yang diterbitkan pada tahun 2014, Meira Weiss mengungkapkan bahwa selama Intifada pertama, tentara Israel memberi izin kepada Institut Forensik untuk mencuri organ dari tubuh orang-orang Palestina yang dibunuh. Hal ini dilakukan dengan dasar regulasi militer yang mengharuskan setiap orang Palestina yang dibunuh untuk menjalani otopsi, yang ternyata disertai dengan pencurian organ.

Meira Weiss juga mengutip banyak pekerja di institut yang menyebut masa Intifada pertama sebagai “hari-hari baik” karena pada waktu itu, pencurian organ dilakukan secara rutin dan lebih bebas, dibandingkan dengan periode lainnya. Ini menunjukkan bahwa selama periode tersebut, pencurian organ dari jenazah Palestina dianggap sebagai hal yang normal dan tidak terbatas.

Pencurian organ yang dilakukan oleh pihak Israel tidak hanya bertujuan untuk transplantasi atau penelitian, tetapi juga untuk dijual dan menghasilkan uang. Hal ini menyebabkan tuduhan yang lebih serius tentang pembunuhan yang dilakukan untuk tujuan mendapatkan organ.

Pada tahun 2009, Donald Boström, jurnalis Swedia, menulis artikel di surat kabar Aftonbladet yang mencoba mengaitkan pencurian organ yang terjadi di Institut Forensik dengan perkembangan Israel sebagai pusat perdagangan organ internasional. Artikel ini memicu kegemparan internasional karena mengungkapkan praktik tersebut ke dunia. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa banyak dari informasi tentang perdagangan organ ini justru diungkapkan oleh orang Israel sendiri, menunjukkan adanya pengakuan atau kebocoran informasi dari dalam negara tersebut.

Dr. Kugel mengungkapkan bahwa organ-organ yang dicuri bisa dijual kepada siapa saja yang membayar. Siapa pun yang ingin membeli organ hanya perlu membayar untuk itu, dan berbagai organ seperti jantung, otak, dan hati dijual untuk tujuan penelitian, presentasi, atau sebagai latihan bagi mahasiswa kedokteran dan ahli bedah.

Selain itu, Kugel mengatakan bahwa jika ada klien yang ingin membeli semua organ dari satu tubuh, itu juga bisa diatur. Biaya total untuk membeli seluruh organ dari satu tubuh adalah 2.500 dolar atau setara lebih 41 juta rupiah lebih dengan kurs saat ini. Ini menunjukkan betapa terorganisirnya perdagangan organ ini, dengan harga yang ditentukan untuk setiap organ yang dijual.

Melacak Jenazah Palestina yang Hilang

Pencurian organ yang dilakukan oleh Israel tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari proyek yang lebih luas yang mencakup juga penahanan jenazah-jenazah Palestina. Jenazah-jenazah yang ditahan ini sering kali dikuburkan di kuburan rahasia yang terletak di zona militer Israel.

Israel menyebut kuburan rahasia ini sebagai “pemakaman angka”. Ini sebenarnya bisa dianggap sebagai kuburan massal, karena jenazah-jenazah yang dikuburkan di tempat ini tidak diberi identitas yang jelas dan sering kali disembunyikan. Praktik ini menunjukkan betapa jenazah-jenazah tersebut diperlakukan secara tidak manusiawi.

Israel seringkali tidak memberi tahu keluarga siapa yang ada di dalam jenazah sebelum jenazah itu dikuburkan. Bahkan, ketika jenazah akhirnya dikembalikan ke keluarga, sering kali jenazah tersebut sudah rusak atau bahkan dibekukan sangat keras, sehingga keluarga membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa jenazah tersebut.

Pada tahun 2016, seorang dokter bernama Dr. Saber Al-Aloul mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa Israel menyimpan jenazah para pejuang Palestina dalam lemari pendingin dengan suhu sangat rendah, hingga minus 35°C. Suhu tersebut membuat jenazah sangat beku, sehingga keluarga membutuhkan waktu 24 hingga 48 jam untuk mencairkan jenazah tersebut agar bisa diperiksa dengan benar. Karena keluarga sering tidak bisa menunggu begitu lama, Dr. Al-Aloul dan rekan-rekannya di Universitas Al-Quds menggunakan teknologi pemindaian CT (mirip sinar X) untuk memeriksa jenazah, karena cara biasa untuk memeriksa jenazah tidak bisa dilakukan dalam keadaan beku seperti itu.

Doctors Without Borders dalam laporannya The Practical Guide to Humanitarian Law mengatakan bahwa melacak orang yang hilang dan mengidentifikasi jenazah sangat penting untuk menjaga hak asasi manusia dan memastikan bantuan yang tepat diberikan kepada keluarga korban. Mengetahui bahwa orang yang kita cintai telah meninggal saja sudah sangat menyedihkan, apalagi jika jenazah mereka disandera atau dikembalikan dalam keadaan yang tidak utuh. Hal ini membuat proses berduka dan mengatasi trauma menjadi jauh lebih sulit.

Pada tahun 2019, Mahkamah Agung Israel memutuskan bahwa tentara penjajah Israel dapat menahan jenazah-jenazah para syuhada Palestina sebagai alat tawar-menawar dalam konflik. Ini adalah kebijakan yang memperburuk penderitaan keluarga karena mereka tidak bisa menguburkan jenazah dengan layak.

Kejahatan-kejahatan ini telah didokumentasikan oleh Jerusalem Legal Aid and Human Rights Center dalam laporan sepanjang 83 halaman yang berjudul “The Warmth of Our Sons”. Laporan ini menunjukkan bahwa Israel dan Rusia adalah dua negara yang memiliki hukum yang secara eksplisit mengizinkan penahanan jenazah sebagai bagian dari strategi kontra-pemberontakan.

Penulis dan revolusioner Palestina, Walid Daqqa, dipenjara oleh Israeal selama 38 tahun. Meskipun ada seruan internasional terhadap pembebasannya setelah didiagnosa menderita kanker agar dapat menerima perawatan medis, hukuman penjara Walid Daqqa diperpanjang. Ia akhirnya meninggal di dalam tahanan pada bulan April. Jenazahnya belum dikembalikan kepada keluarganya. Pada bulan September, Mahkamah Agung Israel memutuskan bahwa penggunaan tubuhnya dalam pertukaran tahanan yang potensial lebih penting daripada hak jenazah untuk mendapatkan penghormatan dan hak keluarganya untuk memberikan pemakaman yang layak.

pada 16 Oktober, tentara Israel mengambil jenazah Yahya Sinwar, seorang pemimpin militer dan politik Hamas, setelah membunuhnya dalam pertempuran di Tal Al Sultan, Gaza Selatan. Israel melakukan otopsi penuh terhadap jenazahnya dan mengumumkan bahwa Sinwar tampaknya tidak makan apa pun dalam 72 jam terakhir hidupnya. Namun, keluarga Sinwar tidak memberikan izin untuk pencurian jenazah maupun otopsi tersebut, yang menunjukkan bahwa proses ini dilakukan tanpa persetujuan dari keluarga yang berhak.

Israel bahkan menahan jenazah anak-anak yang dibunuh Israel. Di bawah sistem apartheid, sering kali sulit atau bahkan tidak mungkin untuk mendokumentasikan siapa yang hilang dan mengapa, tetapi menurut laporan 2024 dari Defense for Children International, 38 jenazah anak-anak Palestina saat ini masih ditahan oleh Pendudukan Israel.

Saat gencatan senjata mulai berlaku, banyak orang di Gaza sedang mencari orang-orang tercinta mereka yang mungkin terjebak di bawah reruntuhan bangunan atau sedang menunggu jenazah mereka dikembalikan menggunakan truk terbuka. Ini menunjukkan penderitaan yang dialami oleh keluarga yang kehilangan anggota keluarga mereka, baik yang belum ditemukan atau yang jenazahnya harus dikembalikan dengan cara yang tidak manusiawi.

Ketika Israel diminta untuk bertanggung jawab atas kejahatan perang yang mereka lakukan, mereka harus diminta untuk mempertanggungjawabkan setiap jenazah dan bagian tubuh yang hilang. Israel harus dituntut, agar tindakan seperti pencurian organ atau penahanan jenazah tidak dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban.

Timeline Peristiwa Penting

2003 – Jaringan perdagangan organ internasional Israel ditemukan oleh polisi di Durban, Afrika Selatan. Jaringan ini telah mengatur lebih dari 100 transplantasi ilegal untuk pasien Israel.

2003 – Aktivis Amerika, Rachel Corrie, dibunuh oleh buldoser Israel. Yehuda Hiss melakukan otopsi terhadap Rachel dan bersaksi di pengadilan Israel pada 2010 bahwa dia menyimpan jaringan dan organ dari tubuhnya. Keluarga Rachel tidak pernah mendapatkan kembali jaringan tersebut untuk pemakaman. Perlu dicatat bahwa otopsi telah dilakukan sebelumnya dan penyebab kematiannya sudah ditentukan oleh Dr. Ahmed Abu Nikera, seorang dokter Palestina.

2006-2009 – Rabbi Levy Izhak Rosenbaum ditangkap oleh FBI di Brooklyn, New York, karena perdagangan dan pencurian organ. Menurut dokumen pengadilan, jaringan perdagangan organ ini melibatkan berbagai organ, melintasi beberapa negara, dan mempekerjakan dokter-dokter Amerika yang bekerja di rumah sakit-rumah sakit Amerika untuk melakukan operasi.

2007 – Dua dokter yang bekerja sama dengan mitra Rosenbaum, Ilan Peri, ditangkap di Turki saat mencoba mengambil dua ginjal dari orang Palestina untuk ditransplantasikan ke pasien Israel. Penangkapan ini menyebabkan tembakan terjadi di ruang operasi.

2009 – Jurnalis Swedia, Donald Boström, menerbitkan artikel di Aftonbladet yang menghubungkan Rosenbaum di Amerika dengan Institut Abu Kabir di Israel. Boström menyatakan bahwa negara Israel menggunakan tubuh Palestina untuk mengambil organ, kulit, tulang, dan jaringan lainnya untuk dijual, penelitian, dan transplantasi. Dr. Yehuda Hiss juga muncul di TV Israel, kembali mengakui dan berbicara dengan bebas tentang praktik pencurian organ, kulit, dan tulang dari orang Palestina.

2015 – Dr. Riyad Mansour (Perwakilan Palestina untuk PBB) mengklaim dalam serangkaian surat kepada Sekretaris Jenderal Ban Ki Moon bahwa orang-orang Palestina di Yerusalem Timur yang diduduki dikembalikan dengan kornea dan organ yang hilang.

2019 – Pemerintah Kazakhstan menangkap seorang dokter Israel, Abilay Donbay, karena perdagangan organ. Menurut pihak berwenang, ini adalah jaringan yang fokus pada orang-orang yang paling miskin dan terpinggirkan dari Ukraina, Kirgistan, dan Tajikistan.

2024 – Wafa News Agency melaporkan lebih dari 100 syuhada Palestina yang dikembalikan oleh pendudukan melalui perbatasan Karem Abu Salem dan diperiksa oleh dokter yang melaporkan tanda-tanda hilangnya organ. Sebelumnya, pada November 2024, pendudukan mencuri jenazah dari Rumah Sakit Al-Shifa, serta dari Rumah Sakit Nasser dan beberapa pemakaman di Gaza.

____

Artikel ini ditulis oleh Aminah Mohammed dan Prince X. Neely atas nama Pekerja Kesehatan untuk Palestina. Versi pertama artikel ini diterbitkan di New York War Crimes pada 24 Januari 2025.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!