Jalur Gaza, SPNA – Channel 12 mengungkap bahwa 16.500 tentara dan perwira Israel terluka sejak dimulainya agresi brutal ke Jalur Gaza pada Oktober 2023. 7.300 di antaranya kini menderita gangguan psikologis serius dan sedang menjalani perawatan akibat trauma pasca perang yang mereka alami.
Menurut data dari Kementerian Pertahanan Israel, seperti dilansir Maannews, Minggu (06/04/2025), lonjakan kasus gangguan mental ini menambah beban besar pada sistem rehabilitasi militer. Keterpurukan psikologis para prajurit Israel ini memperlihatkan bahwa bukan hanya rakyat Gaza yang menderita, tetapi juga tentara Israel sendiri tak mampu menghadapi beban moral dan psikologis dari kejahatan yang mereka lakukan.
Mantan Ketua Dewan Keamanan Nasional Israel, Yaakov Nagel, memperingatkan bahwa militer Israel tengah menghadapi krisis serius dalam hal sumber daya manusia, termasuk kekurangan drastis dalam jumlah tentara aktif, pasukan cadangan, serta penurunan moral dan dedikasi dalam dinas militer tetap. Ia menyebut bahwa krisis ini bahkan telah terjadi sebelum 7 Oktober 2023, dan kini semakin parah akibat beban perang yang terus berkepanjangan.
Pengakuan ini menunjukkan bahwa struktur militer Israel tengah berada di ambang kehancuran internal, sekaligus menambah bukti kegagalan strategis yang dibalut oleh propaganda agresif dan impunitas yang terus dijaga oleh elit politiknya.
Channel 12 juga melaporkan bahwa Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengajukan permintaan resmi kepada pemerintah Hungaria untuk menangkap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sesaat sebelum kedatangannya di Budapest.
Permintaan penangkapan tersebut mencantumkan detail pelanggaran berat Netanyahu, termasuk penggunaan kelaparan sebagai senjata perang, yang diklasifikasikan sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun alih-alih mematuhi hukum internasional, pemerintah Hungaria justru memilih mundur dari keanggotaan ICC, demi melindungi Netanyahu dari penangkapan.
Netanyahu pun menyambut langkah ini dengan nada penuh arogansi, menyebut ICC sebagai “organisasi korup” dan memuji Hongaria karena mengambil “sikap berani”. Ia menegaskan bahwa hubungan Tel Aviv dan Budapest kini semakin erat, mencakup kerjasama di bidang pariwisata, investasi, hingga industri militer.
Sejak Oktober 2023 hingga April 2025, agresi Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 50.000 warga Palestina, termasuk lebih dari 17.900 anak dan 274 bayi baru lahir, serta melukai 115.338 orang. Sebanyak 700.000 siswa terpaksa putus sekolah, 111 sekolah negeri dan 89 sekolah UNRWA hancur, dan 12.441 siswa serta 519 guru turut menjadi korban jiwa.
Selain itu, 39.384 anak kehilangan orang tua, dengan 17.000 di antaranya menjadi yatim piatu total. Sebanyak 7.065 anak mengalami disabilitas permanen, 4.700 kasus amputasi tercatat, 18% diantaranya anak-anak, Sebanyak 1,95 juta warga kini menghadapi krisis pangan ekstrem, termasuk 345.000 orang yang mengalami kelaparan akut dan 60.000 balita dengan gizi buruk.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Galant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga tengah menghadapi tuntutan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang masih berlangsung di wilayah tersebut.