Gaza, SPNA – Israel membunuh 15 penduduk sipil Palestina, termasuk lima jurnalis, pada Senin (25/08/2025), dalam serangan udara ganda yang menghantam Kompleks Rumah Sakit Nasser di Kota Khan Yunis, Gaza bagian selatan.
Sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal dunia dalam serangan tersebut, termasuk Hossam al-Masri (jurnalis Reuters), Mohammad Salama (jurnalis Al Jazeera), Maryam Abu Daqqa (jurnalis Independent Arabia dan AP), Muath Abu Taha (jurnalis NBC). Jurnalis Ahmad Abu Aziz kemudian meninggal dunia akibat luka yang dideritanya dalam serangan yang sama.
Dengan kejadian ini, jumlah jurnalis yang telah dibunuh oleh Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai setidaknya 245 orang.
Seorang anggota Pertahanan Sipil Gaza juga turut meninggal dunia, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka. Serangan awal dilancarkan melalui drone yang menghantam lantai atas rumah sakit, tempat para jurnalis berada. Ketika tim penyelamat dan para awak wartawan tiba di lokasi, Israel kembali melancarkan serangan.
Serangan kedua ini disiarkan langsung di televisi, dan rekaman video menunjukkan bahwa serangan tersebut secara langsung menargetkan para pekerja pertahanan sipil awak media.
Pembantaian terbaru di Khan Yunis ini berlangsung seiring dengan serangan intensif Israel di Kota Gaza, yang dibarengi dengan penghancuran sistematis terhadap infrastruktur sipil. Israel diketahui sedang mempersiapkan serangan darat skala besar untuk menduduki wilayah tersebut.
Asap tebal membubung dari permukiman Al-Zaytoun di Kota Gaza pada Senin pagi (25/08), saat pasukan Israel menggunakan robot bermuatan bahan peledak untuk menyerang rumah-rumah penduduk sipil Palestina. Sebagai bagian dari rencana pendudukan, Israel disebut berniat memindahkan hampir satu juta penduduk Palestina dari Kota Gaza.
Sejak awal agresi militernya di Gaza, Israel secara sistematis menargetkan para jurnalis. Pada 10 Agustus, jurnalis terkenal Anas al-Sharif dari Al Jazeera bersama lima orang lainnya dibunuh dalam serangan udara Israel terhadap tenda media di halaman Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza.
Pemerintah Israel menuduh al-Sharif tanpa bukti sebagai anggota Hamas, sebagaimana tuduhan yang juga kerap dilayangkan terhadap jurnalis-jurnalis lain yang menjadi target.
Pada 11 Agustus, jurnalis investigatif Israel Yuval Abraham mengungkap bahwa Direktorat Intelijen Militer Israel (AMAN) telah membentuk unit khusus untuk memberi pembenaran atas serangan-serangan di Gaza, termasuk terhadap jurnalis.

“Setelah 7 Oktober, dibentuk tim bernama ‘Sel Legitimasi’ di AMAN,” ujar Abraham, mengacu pada unit yang juga menaungi Unit 8200, satuan elit intelijen Israel.
Abraham menambahkan bahwa personel intelijen bertugas mencari informasi untuk membenarkan tindakan militer Israel, seperti kegagalan peluncuran roket Hamas, penggunaan warga sipil sebagai tameng, dan tuduhan bahwa warga sipil Gaza dieksploitasi.
“Misi utama tim ini adalah menemukan jurnalis Gaza yang bisa digambarkan sebagai anggota Hamas yang menyamar,” kata Abraham.
Selain jurnalis, rumah sakit juga menjadi target sistematis dalam operasi militer yang disebut banyak pihak dan lembaga internasional sebagai genosida terhadap penduduk sipil Palestina di Gaza.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), pada Jumat (22/08/2025), menyatakan bahwa sekitar 90 persen wilayah Jalur Gaza kini telah berubah menjadi zona militer Israel, sementara anak-anak di wilayah tersebut terus mengalami pengungsian berulang kali.
“Sejak awal perang, banyak anak-anak telah terus-menerus mengungsi di berbagai wilayah Gaza. Mereka kini terjebak di area yang semakin menyempit, di mana hampir 90% Jalur Gaza berada dalam zona militer Israel, di bawah perintah evakuasi, atau bahkan keduanya,” sebut UNRWA dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan melalui platform X.
UNRWA juga mengatakan bahwa hampir satu dari tiga anak Palestina di Kota Gaza kini mengalami malnutrisi. UNRWA kembali menyerukan gencatan senjata segera dan menggambarkan kondisi kerja staf mereka di Gaza sebagai bencana.
(T.FJ/S: The Cradle, RT Arabic)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!