Jenin Hanyalah Awal: Israel Pindahkan Perang Terhadap Palestina ke Tepi Barat

Orang-orang memeriksa puing-puing rumah tempat dua penduduk Palestina dibunuh Israel di desa Burqin dekat Jenin di Tepi Barat yang diduduki, pada 23 Januari 2025. (Foto: Mohammed Nasser/APA Images)

Ditulis oleh: Qassam Muaddi*

Jenin, SPNA – Tentara penjajah Israel, pada Kamis (23/01/2025), melanjutkan serangannya terhadap kamp pengungsi Jenin di utara Tepi Barat Palestina yang diduduki, untuk hari ketiga berturut-turut. Operasi yang diberi nama “Iron Wall” atau “Dinding Besi” ini telah membunuh 12 penduduk Palestina dan menyebabkan lebih 40 orang lainnya terluka.

Serangan dimulai pada hari Selasa pagi (21/01), dengan serangan udara terhadap kamp pengungsi Jenin, disertai dengan serbuan yang dilakukan pasukan khusus Israel yang menempatkan penembak jitu mengawasi kamp. Serangan awal ini segera diikuti oleh pengerahan pasukan bersenjata berat dari sisi utara, timur, dan barat Jenin, disertai dengan helikopter serbu yang menembaki penduduk Palestina dari udara, serta buldoser D-9 Israel yang merusak jalan dan infrastruktur lain yang sudah rusak sebelumnya.

Seorang penduduk Palestina di Jenin yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan kepada Mondoweiss, bahwa “momen pertama serangan itu adalah yang paling sulit. Orang-orang benar-benar terkejut, karena serangan udara terjadi ketika banyak orang sedang pulang ke rumah, dan semua korban yang tewas sejauh ini adalah penduduk sipil,” kenangnya.

“Pasukan penjajah menutup seluruh kamp Jenin, sebelum membuka satu jalur keluar yang hanya bisa dilalui warga dari pukul 9 pagi hingga 5 sore. Orang-orang yang masuk dan keluar hanya bisa dalam kelompok maksimal lima orang, dan mereka diperiksa, banyak yang ditangkap, termasuk beberapa perempuan,” lanjutnya.

Serangan Israel ini dimulai sebulan setelah Otoritas Palestina (PA) melancarkan operasi di Jenin, yang bertujuan merebut kembali kendali Jenin dari kelompok-kelompok perlawanan lokal. PA dan Brigade Jenin mencapai kesepakatan seminggu lalu melalui mediasi banyak tokoh politik dan masyarakat sipil Palestina, akan tetapi bentrokan antara kedua pihak kembali terjadi pada hari Minggu dan berlanjut hingga Selasa pagi, saat Israel memulai serangannya ke kamp tersebut.

Pada hari Rabu, polisi Palestina menyerbu Rumah Sakit Al-Razi di kota Jenin, saat serangan Israel sedang berlangsung, dan menangkap dua warga Palestina yang sedang dirawat di sana.

“Penduduk Palestina di Jenin sebenarnya tidak terkejut dengan serangan Israel, karena mereka sudah selamat dari banyak serangan serupa dalam beberapa tahun terakhir. Mereka terkejut dan marah karena ini pertama kalinya operasi keamanan Palestina bersamaan dengan serangan Israel, dan kami masih mencoba memahami apa yang sedang terjadi,” kata salah satu warga tersebut.

Juru bicara pasukan keamanan Palestina, Anwar Rajab, mengatakan pada hari Senin bahwa pasukan keamanan Palestina mundur dari Jenin ketika serangan Israel dimulai “untuk menghindari konfrontasi langsung dengan tentara Israel”.

Tentara Israel juga menutup dan meratakan jalan yang menuju rumah sakit umum Jenin, jelas warga tersebut. Hal ini memaksa orang-orang untuk melewati kamp, diperiksa, dan melakukan perjalanan jauh untuk mengakses rumah sakit melalui pintu masuk alternatif.

“Ini pertama kalinya pasukan penjajah (Israel) memblokir akses langsung ke rumah sakit. Pasukan penjajah menyerbu sekitar rumah sakit hari ini, pada hari ketiga serangannya ke Jenin, dan memeriksa area luar bagian darurat,” kata Dr. Wesam Baker, direktur rumah sakit umum Jenin, kepada Mondoweiss.

“Kami telah menerima setidaknya 10 orang yang terluka sejauh ini, sebagian besar luka di bagian tubuh bawah, dan beberapa terluka parah, serta empat orang yang meninggal dunia. Staf kami bekerja dalam shift yang panjang, dan hanya hari ini kami bisa membebaskan beberapa staf dan mengganti mereka dengan yang lain” tambahnya.

Menteri Perang Israel, Yisrael Katz, mengatakan bahwa serangan di Jenin akan mengubah konsep keamanan Israel di Tepi Barat dan Jenin hanyalah sebagai permulaan. Yisrael Katz menyebut akan akan ada operasi Israel lebih lanjut di bagian lain Tepi Barat.

Tentara Israel menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangannya terhadap Jenin bertujuan untuk “menghancurkan infrastruktur teroris,” merujuk pada Brigade Jenin, kelompok perlawanan lokal yang telah menghadapi serangan Israel di Jenin sejak akhir 2021.

Penutupan Tepi Barat

Yisrael Katz sebelumnya telah mengumumkan persiapan militer untuk operasi besar di Tepi Barat, segera setelah kesepakatan gencatan senjata di Gaza diumumkan, dengan tujuan untuk mengubah situasi keamanan di Tepi Barat, menurut Katz.

Operasi ini dimulai bersamaan dengan serangkaian pengunduran diri di jajaran pimpinan tentara Israel, termasuk kepala staf militer Israel dan komandan front selatan tentara Israel, yang keduanya mengungkapkan bahwa mereka mengundurkan diri akibat kegagalan mereka menghindari serangan pada 7 Oktober.

Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang juga memiliki jabatan di kabinet perang Israel, baru-baru ini mengatakan bahwa pimpinan tentara Israel akan diganti “untuk melanjutkan perang di Gaza”.

Sementara itu, bersamaan dengan serangan di Jenin, pasukan Israel juga memberlakukan penutupan ketat di seluruh Tepi Barat sejak akhir pekan lalu. Mulai Sabtu (18/01), tentara Israel mendirikan setidaknya 17 gerbang logam pemeriksaan militer di pintu masuk kota dan desa di seluruh Tepi Barat, memutuskan hubungan antar komunitas Palestina, dan sangat menghambat kebebasan bergerak di wilayah yang diduduki.

Pada hari Minggu (18/01), banyak penduduk Palestina yang meninggalkan Ramallah pada sore hari melaporkan tiba di rumah mereka di Nablus, yang berjarak satu jam perjalanan, pada pukul 2 pagi. Di Hebron, seorang perempuan Palestina, Iman Jaradat (45 tahun), meninggal karena serangan jantung di sebuah pos pemeriksaan Israel di timur laut Hebron, dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Politisi sayap kanan Israel, yang sebagian besar didukung oleh gerakan pemukim Tepi Barat, telah lama menyerukan untuk mendirikan pos pemeriksaan dan membatasi kebebasan bergerak penduduk Palestina sejak sebelum 7 Oktober 2023. Menteri Keamanan Israel yang baru mengundurkan diri dan pemukim sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, mengatakan pada awal-awal setelah 7 Oktober bahwa “kehidupan pemukim (di Tepi Barat) lebih penting daripada kebebasan bergerak penduduk Palestina,” dengan alasan bahwa pos pemeriksaan militer akan membatasi serangan penduduk Palestina terhadap penjajah pemukim Israel.

Pragmatisme Politik dan Kesempatan

Itamar Ben-Gvir mengundurkan diri dari pemerintah Israel sebagai protes terhadap kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Sekutunya, Bezalel Smotrich, yang juga memberikan suara menentang kesepakatan tersebut di kabinet perang Israel, tidak mengundurkan diri, tetapi mengancam akan mengundurkan diri jika Israel tidak melanjutkan perang setelah berakhirnya tahap pertama kesepakatan dalam enam minggu. Pengunduran diri Smotrich akan memicu runtuhnya koalisi pemerintahan yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu dan memaksa pemilihan umum baru.

Banyak analis yang menganggap eskalasi Israel di Tepi Barat sebagai tindakan yang dimotivasi secara politis oleh pemerintah Benjamin Netanyahu untuk meredakan Smotrich sebagai imbalan atas penerimaannya terhadap kesepakatan gencatan senjata, guna menyelamatkan pemerintahannya.

Smotrich telah lama mendesak aneksasi penuh Tepi Barat, serta seruan untuk pengusiran massal penduduk Palestina. Awal bulan ini, ia mengatakan kepada pemukim Israel bahwa Israel harus menunggu pelantikan Donald Trump sebelum melakukan langkah-langkah aneksasi yang lebih langsung.

Pada November lalu, Smotrich menyatakan bahwa 2025 akan menjadi tahun aneksasi Israel terhadap Tepi Barat. Serangan Israel terhadap Jenin dimulai sehari sebelum pelantikan Donald Trump, dan pembatasan ketat terhadap penduduk Palestina di Tepi Barat terjadi beberapa hari setelah gencatan senjata Gaza mulai berlaku.

Semua ini merupakan tanda bahwa pemukim Israel dan pemimpin mereka mungkin memanfaatkan kebutuhan politik Netanyahu saat ini untuk menjaga posisi politiknya, serta dukungan yang diharapkan dari pemerintahan AS yang baru, dalam memperjuangkan proyek aneksasi Israel di Tepi Barat Palestina.

—

*Qassam Muaddi adalah seorang penulis yang bekerja untuk Mondoweiss, sebuah situs berita yang berfokus pada isu-isu Palestina, Israel, dan politik Timur Tengah. Sebagai penulis staf Palestina, Muaddi meliput dan memberikan analisis terkait perkembangan terbaru yang terjadi di wilayah Palestina, termasuk konflik Israel-Palestina, hak asasi manusia, dan dampak dari kebijakan Israel terhadap rakyat Palestina.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya