Gaza, SPNA – Mayor Jenderal Cadangan Israel, Yitzhak Brik, pada Kamis (03/09/2025), menyatakan bahwa rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk merebut kembali Kota Gaza merupakan “perangkap maut”, sambil menuding kepemimpinan Israel telah melemahkan militer Israel dan menyesatkan publik terkait perang yang sedang berlangsung.
Dalam artikel yang dimuat harian Maariv, Brik memperingatkan bahwa upaya Netanyahu untuk menguasai kembali Kota Gaza bisa berujung pada konsekuensi yang fatal, baik bagi tentara Israel maupun warga Israel yang ditawan.
Menurut Brik, selama bertahun-tahun, pemerintahan Netanyahu telah membiarkan kekuatan militer darat Israel menyusut secara drastis.
“Selama masa kekuasaannya, Netanyahu membiarkan pasukan darat dikurangi secara signifikan, menjadi sepertiga dari kekuatannya dua dekade lalu,” tulis Brik. Akibatnya, menurut dia, tentara Israel tidak dilatih secara memadai dan bahkan tidak mampu menang dalam satu sektor pun.
Jenderal pensiunan itu juga mengkritik strategi militer Israel yang mengandalkan serangan dan penarikan pasukan tanpa kontrol wilayah yang berkelanjutan.
“Metode operasi ini tidak hanya gagal mengalahkan Hamas, tetapi juga menyebabkan korban besar di pihak IDF (Tentara Pertahanan Israel), termasuk banyak yang terluka,” tegasnya.
Brik juga menuduh para pemimpin politik dan militer Israel telah menyesatkan masyarakat dengan menyampaikan klaim keberhasilan yang tidak sesuai kenyataan.
“Demi membenarkan kelanjutan perang, para elit politik dan militer mulai menyebarkan narasi palsu dan klise seperti: ‘Kami telah menghancurkan lebih dari 50% terowongan di Jalur Gaza’, ‘Kami telah menewaskan 20.000 pejuang Hamas’, dan ‘Kami telah melumpuhkan seluruh infrastruktur militer Hamas’,” ungkap Brik.
Namun kenyataannya, menurut dia, “kurang dari 24 persen terowongan yang dihancurkan, bahkan bisa jadi di bawah 10 persen, sebagaimana diakui oleh para operator di lapangan sendiri”.
Ia juga menambahkan bahwa “jumlah pejuang Hamas yang berhasil dieliminasi tidak mencapai 10.000, bukan 20.000,” dan menekankan bahwa Hamas masih terus beroperasi sebagai pasukan gerilya.
Terkait rencana terbaru Netanyahu untuk merebut kembali Kota Gaza, Brik menyebut bahwa Kepala Staf Eyal Zamir sebenarnya telah menentang gagasan tersebut dan memperingatkan kabinet bahwa operasi itu merupakan jebakan. Namun Netanyahu tetap bersikeras melanjutkan misi itu dengan alasan untuk mencabut kekuasaan Hamas.
“Pernyataan itu hanyalah klise besar. Hamas beroperasi dari jaringan terowongan, sebuah sistem yang membentang ratusan kilometer dan terkoneksi di seluruh wilayah Jalur Gaza,” kata Brik.
Brik memperingatkan bahwa operasi semacam itu berisiko menimbulkan banyak korban jiwa di pihak Israel, membahayakan para tawanan, membunuh penduduk sipil dalam jumlah besar, dan membuat Israel semakin terisolasi di dunia internasional.
“Mereka yang tidak mengenali keterbatasannya dan tidak berusaha mengatasinya akan membayar harga mahal, seperti yang dialami Amerika Serikat di Vietnam,” kata Brik.
(T.FJ/S: Palestine Chronicle)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!