Jalur Gaza, SPNA – Gempuran udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Rabu dini hari, hanya beberapa jam setelah militer Tel Aviv mengumumkan kembali pada kesepakatan gencatan senjata. Serangan terbaru itu menyasar kawasan Beit Lahiya, Gaza Utara, dengan alasan menargetkan “infrastruktur teroris”. Namun yang hancur adalah rumah-rumah warga dan tenda pengungsian.
Militer Israel menyebut serangan itu sebagai “operasi presisi” terhadap gudang senjata dan pesawat nirawak yang disebut siap digunakan untuk menyerang pasukan mereka. “Tentara kami tetap siaga di Gaza Selatan dan akan bertindak bila muncul ancaman langsung,” demikian pernyataan resmi militer.
Dalam waktu kurang dari 12 jam, 110 warga Palestina gugur, termasuk 46 anak-anak dan 20 perempuan. Serangan menghantam wilayah padat penduduk serta tenda pengungsian yang selama ini dianggap aman.
Dua bersaudara, Sarra (8) dan Fadi Shakshak (5), ditemukan gugur di bawah reruntuhan rumah tempat mereka mengungsi. Ayah mereka, Mahmoud Shakshak, terlihat memeluk kedua jasad anaknya di ruang jenazah Rumah Sakit Syifa. “Kami tak menuntut yang mustahil. Kami hanya ingin anak-anak kami hidup,” katanya pelan.
Menurut juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Letnan Kolonel Mahmoud Basal, lebih dari 70 persen korban adalah perempuan dan anak-anak. “Sebagian jasad lenyap akibat daya ledak yang luar biasa. Kami bekerja tanpa alat berat, hanya dengan tangan dan doa,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 211 warga Palestina gugur sejak 10 Oktober, ketika gencatan senjata diumumkan. Sementara lebih dari 9.500 jenazah masih terkubur di bawah reruntuhan sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Militer Israel beralasan, serangan terbaru dilakukan setelah pasukan mereka ditembaki di Rafah oleh kelompok bersenjata yang disebut keluar dari terowongan. Israel menuding Hamas berada di balik serangan itu. Namun Hamas membantah tuduhan tersebut dan menegaskan komitmennya pada kesepakatan gencatan senjata.
Di kawasan Zaitun, satu keluarga besar, Al-Banna, kehilangan sepuluh anggota keluarga sekaligus, termasuk bayi yang belum genap setahun. Keluarga Abu Dalal dilaporkan musnah dua kali dalam semalam setelah dua rumah mereka di lokasi berbeda dihantam rudal.
Tak hanya permukiman, serangan juga menyasar sekolah dan tempat penampungan yang sebelumnya dijadikan lokasi evakuasi warga. Wartawan lokal, Muhammad Al-Munirawi, turut gugur saat meliput di lapangan.
Bantuan kemanusiaan masih belum menjangkau tim penyelamat Palestina. Beberapa truk Palang Merah hanya diizinkan masuk untuk mengevakuasi jenazah tawanan Israel. “Bantuan untuk kami belum datang. Kami bekerja di antara puing dan darah,” kata Basal.
Israel menyebut aksinya sebagai operasi keamanan. Namun di Gaza, warga melihatnya sebagai lanjutan dari genosida. “Israel tidak sedang berperang, mereka sedang memusnahkan kami,” ujar seorang pejabat lokal.