Israel Sedang Mobilisasi Pasukan Cadangan untuk Serangan Besar-besaran ke Gaza

Tentara Israel berpatroli di sepanjang perbatasan selatan Israel dengan Jalur Gaza pada 13 Juni 2024 (JACK GUEZ/AFP via Getty Images)

Gaza, SPNA – Media-media Israel, sebagaimana dilansir RT Arabic, pada Senin (28/04/2025), melaporkan bahwa aparat keamanan Israel sedang membahas kemungkinan memperluas operasi darat di Jalur Gaza, serta mempersiapkan mobilisasi besar-besaran pasukan cadangan.

Hal ini disampaikan oleh saluran televisi Israel Channel 12 pada Senin malam, menyusul pernyataan dari “sumber politik tingkat tinggi” Israel yang menolak tawaran Hamas untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata penuh dan pertukaran tawanan.

Menurut sumber tersebut, para menteri senior di pemerintahan Israel meminta agar rencana perluasan operasi militer segera diajukan untuk disetujui pemerintah. Namun, pelaksanaannya ditunda karena Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, ingin memberi kesempatan tambahan bagi jalannya negosiasi, mengingat adanya kemungkinan tercapainya kesepakatan pertukaran tawanan dalam waktu dekat.

Sumber itu juga menyebutkan bahwa militer Israel bersiap mengambil langkah eskalasi, termasuk mobilisasi luas pasukan cadangan, untuk mengantisipasi perubahan situasi di lapangan atau kegagalan jalur diplomatik.

Channel 12 menambahkan bahwa mobilisasi besar ini dapat menyebabkan dua dampak utama: bertambahnya tekanan pada para prajurit cadangan yang sudah sangat kelelahan, serta memburuknya kondisi para tawanan yang masih ditahan di Jalur Gaza.

Dalam perkembangan terkait, Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa koordinator urusan tawanan dan orang hilang, Gal Hirsch, pada Senin (28/04), telah memberikan pengarahan kepada para duta besar dan perwakilan negara-negara yang memiliki warga negara yang ditahan di Gaza, selain status mereka sebagai warga Israel.

Pernyataan itu menyebutkan bahwa pertemuan tersebut membahas kondisi terkini, upaya negosiasi yang sedang dilakukan, serta perlunya koordinasi dan kerja sama internasional untuk mendukung misi pembebasan semua tawanan.

Sebelumnya pada hari yang sama, seorang “sumber politik tingkat tinggi” menyatakan bahwa sejumlah negara Arab menawarkan gagasan untuk menghentikan perang selama lima tahun. Namun, Israel tidak akan pernah menyetujui gencatan senjata dengan Hamas yang justru akan memberinya waktu untuk memperkuat diri dan melanjutkan perang melawan Israel dengan kekuatan yang lebih besar.

Media Israel dalam beberapa hari terakhir juga mengungkapkan bahwa Israel telah menolak berbagai proposal gencatan senjata yang diajukan oleh para mediator, dengan menyebut bahwa “situasi saat ini sangat sensitif”.

Dalam pidatonya pada Minggu kemarin, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan tetap menguasai Jalur Gaza secara militer dan tidak akan membiarkan Otoritas Palestina menggantikan Hamas dalam pemerintahan setelah perang berakhir. Ini disampaikannya di tengah laporan mengenai kemungkinan perluasan operasi militer Israel di Gaza.

Berbicara dalam konferensi yang diadakan oleh Asosiasi Berita Yahudi (Jewish News Syndicate) di Yerusalem, Netanyahu menegaskan, “Kami tidak akan menyerah pada tekanan apa pun untuk melakukan hal tersebut,” dan menyatakan bahwa “satu-satunya alasan kami belum menghancurkan Hamas adalah karena keberadaan para sandera,” seperti dikutip media Israel pada Senin ini.

Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel harus mengakhiri perang di Gaza, membebaskan para sandera, dan menghancurkan Hamas”. Ia pun menyambut baik rencana pemindahan penduduk Palestina di Gaza yang pernah diusulkan oleh Presiden AS sebelumnya, Donald Trump, dengan mengatakan, “Percayalah, banyak dari mereka ingin pergi”.

(T.FJ/S: RT Arabic)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya