Gaza, SPNA – Serangan Israel terus berlanjut di seluruh Jalur Gaza pada hari ke-245 sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan, dengan lebih dari 3.269 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel tercatat oleh otoritas di wilayah tersebut.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, pada Senin (15/06/2026), menyebut bahwa serangan Israel di wilayah itu sejak gencatan senjata pada Oktober telah mengakibatkan lebih dari 992 orang meninggal dunia dan 3.138 lainnya terluka.
Pada Senin (15/06), Israel melakukan serangan pemboman di dekat sebuah sekolah di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, membunuh seorang warga Palestina dan melukai beberapa orang lainnya.
Sebelumnya pada hari yang sama, seorang perempuan dilaporkan meninggal dunia setelah serangan udara menargetkan area sekitar Masjid Abdul Rahman bin Awf, di sebelah barat kawasan Al-Zuwayda, Jalur Gaza bagian tengah.
Insiden lain melibatkan pasukan Israel yang melepaskan tembakan ke arah seorang ayah dan anaknya di Deir Al-Balah, kemudian menahan keduanya secara sewenang-wenang. Setelah dibebaskan, anak laki-laki tersebut—yang diidentifikasi sebagai Rayan Bahaa Abu al-Ajeen—dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsha.
Lebih dari 73.000 penduduk Palestina telah dibunuh Israel di Gaza sejak genosida yang dimulai pada Oktober 2023. Selain itu, sekitar 8.000 orang diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan, sementara 3.000 lainnya dilaporkan hilang.
Pasukan penjajah Israel telah menculik puluhan penduduk Palestina di Gaza meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sedikitnya 95 orang telah ditahan selama periode tersebut.
“Kami mengutuk dengan sekeras-kerasnya kebijakan sistematis penjajah yang menargetkan dan memusnahkan rakyat Palestina kami. Kami memegang penjajah sepenuhnya bertanggung jawab atas terus memburuknya situasi kemanusiaan di Jalur Gaza,” demikian pernyataan kantor tersebut.
Terkait bantuan kemanusiaan, kantor tersebut mencatat bahwa hanya sekitar 52.740 truk bantuan yang berhasil memasuki wilayah kantong tersebut, atau hanya 36 persen dari 147.000 truk yang ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata.
Berdasarkan kesepakatan itu, Israel diwajibkan melonggarkan pembatasan pengiriman bantuan dan mengizinkan hingga 600 truk per hari yang membawa makanan, bahan bakar, perlengkapan medis, material tempat tinggal darurat, serta barang-barang komersial masuk ke Gaza.
Pembatasan yang diberlakukan di perlintasan Gaza tidak hanya menyangkut masuknya bantuan, tetapi juga kebebasan penduduk Palestina untuk bepergian keluar dan masuk wilayah Jalur Gaza. Hanya 6.845 pelintas yang diizinkan menyeberang, jauh di bawah angka 19.600 orang yang ditetapkan dalam perjanjian.
Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa pembatasan di perlintasan tersebut telah menyebabkan sekitar 1.500 pasien yang memiliki rujukan medis meninggal dunia, padahal mereka seharusnya dapat meninggalkan wilayah itu sejak awal Mei 2024.
Di tengah meningkatnya serangan Israel dalam beberapa pekan terakhir, berbagai faksi Palestina menanggapi Kepala Dewan Perdamaian Gaza, Nikolay Mladenov, terkait usulan pelaksanaan rencana perdamaian Gaza yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Faksi pejuang Palestina, Hamas, pada Senin (15/06) mengonfirmasi langkah tersebut dalam sebuah pernyataan dan menyerukan kepada para mediator agar memastikan Israel mematuhi seluruh ketentuan gencatan senjata.
“Faksi-faksi tersebut mengumumkan bahwa mereka akan terus bersidang secara berkelanjutan untuk memantau perkembangan di lapangan maupun perkembangan politik, serta meningkatkan upaya mereka guna memastikan adanya respons terhadap tuntutan-tuntutan yang sah yang dapat meringankan penderitaan rakyat kami di Jalur Gaza,” tambah Hamas.
(T.FJ/S: MEE)