Gaza, SPNA – Berdasarkan laporan lembaga pemantau HAM internasional, Euro-Mediterranean Monitor, pada Selasa (11/02/2025), pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 110 pendduuk Palestina di Gaza sejak gencatan senjata diterapkan bulan lalu. Statistik mengejutkan ini menunjukkan rata-rata Israel membunuh sekitar enam penduduk Palestina setiap hari sejak gencatan senjata ditandatangani.
Rincian Fatalitas dan Cedera di Gaza Setelah Gencatan Senjata
Di antara korban terdapat mereka yang langsung dibunuh oleh tentara Israel dan juga individu yang meninggal akibat cedera sebelumnya. Banyak dari mereka yang tidak diberikan izin untuk meninggalkan Gaza untuk pengobatan ke luar negeri.
Selain itu, sebanyak 901 penduduk Palestina mengalami cedera sejak gencatan senjata dimulai. Ini berarti rata-rata 47 kasus cedera per hari. Ini menyoroti kekerasan yang terus berlanjut meskipun ada gencatan senjata.
Penembakan Fatal di Kota Gaza pada 10 Februari
Pada 10 Februari, pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah penduduk Palestina di wilayah timur Kota Gaza. Insiden tragis ini menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia, dengan beberapa lainnya terluka. Lembaga Pertahanan Sipil di Gaza mengonfirmasi informasi ini dan mengimbau penduduk Palestina untuk menghindari daerah timur dan lokasi perbatasan militer.
“Kami mengimbau warga untuk menghindari daerah timur dan lokasi perbatasan militer Israel. Harap mengikuti instruksi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang,” demikian pernyataan Pertahanan Sipil.
Pelanggaran Israel Terhadap Perjanjian Gencatan Senjata
Israel gagal memenuhi komitmennya dalam perjanjian gencatan senjata. Negara penjajah ini belum mengizinkan pasokan penting seperti bantuan kemanusiaan, bahan bakar, tenda, dan unit perumahan masuk ke Gaza. Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sekitar 3.500 truk bantuan, 35 truk bahan bakar per hari, dan 180.000 tenda dilarang masuk ke Jalur Gaza. Selain itu, tidak ada rumah shelter yang dikirimkan sesuai janji.
Hamas telah berulang kali mengingatkan tentang pelanggaran ini sejak dimulainya gencatan senjata.
Hamas Menunda Pertukaran Tahanan Sebagai Tanggapan Terhadap Pelanggaran Israel
Pada 10 Februari, Abu Obeida, juru bicara sayap militer Hamas, Brigadir Al-Qassam, mengumumkan penundaan dalam rencana pertukaran tahanan Israel dari Gaza. Pertukaran yang awalnya dijadwalkan pada Sabtu, 15 Februari, akan ditunda akibat pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata.
“Hamas menunda pembebasan tahanan sebagai pesan peringatan kepada pendudukan. Keputusan ini memberi tekanan pada Israel untuk mematuhi syarat-syarat perjanjian dengan ketat,” kata Hamas.
Laporan mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengajukan tuntutan yang tidak dapat diterima untuk fase kedua gencatan senjata. Tuntutan tersebut termasuk pengusiran seluruh pemimpin Hamas dari Jalur Gaza, pembubaran Brigadir Al-Qassam, dan pembebasan semua tahanan Israel. Tuntutan ini menyimpang dari hal yang telah disepakati bersama dalam pembicaraan gencatan senjata di Doha, Qatar, terutama terkait dengan proses pertukaran tahanan.

Peringatan Trump Mengenai Keruntuhan Gencatan Senjata
Pada malam 10 Februari, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras. Dia menyatakan, “Semua taruhan batal jika semua tahanan Israel yang ditahan di Gaza tidak dibebaskan pada akhir pekan mendatang.”
Ancaman terbuka ini berpotensi membatalkan perjanjian gencatan senjata setelah Israel mengajukan syarat baru untuk pertukaran sandera. Trump menambahkan, “Jika semua sandera tidak dikembalikan pada Sabtu pukul 12 siang, gencatan senjata batal. Biarkan neraka pecah. Semua taruhan batal.”
Mengantisipasi potensi eskalasi, Israel’s Broadcasting Corporation (KAN) melaporkan bahwa cuti tentara di Komando Selatan telah ditangguhkan. Langkah ini dipandang sebagai persiapan untuk kemungkinan kembalinya pertempuran di Gaza.
(T.FJ/S: The Cradle)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!