Israel Langgar Gencatan Senjata: Hamas Ungkap Sekitar 270 Pelanggaran Zionis

Potret kehancuran di Jalur Gaza. (Foto: Euro Med Human Rights Monitor)

Gaza, SPNA – Saat gencatan senjata di Gaza tergantung pada apakah Israel memenuhi komitmennya untuk memungkinkan masuknya bantuan yang cukup ke wilayah yang terkepung, Hamas merilis daftar yang merinci “pelanggaran utama terhadap gencatan senjata”.

Dalam sebuah dokumen yang diserahkan kepada Palestine Chronicle dan media lainnya oleh seorang pejabat Hamas, gerakan Palestina ini menyajikan daftar berbagai cara Israel melanggar ketentuan kesepakatan gencatan senjata/pertukaran tahanan yang disahkan pada Januari.

Dokumen tersebut merinci jumlah pelanggaran gencatan senjata yang tercatat sebanyak 269 kali antara 19 Januari hingga 11 Februari, serta memberikan lima kategori pelanggaran yang baik secara langsung melanggar kesepakatan atau melanggar semangat dari kesepakatan tersebut. Kategori tersebut meliputi pelanggaran lapangan, tahanan, bantuan kemanusiaan, penolakan pasokan medis penting, dan pelanggaran politik.

Dokumen Hamas juga merinci dua puluh dua cara pelanggaran gencatan senjata yang terjadi, yang termasuk dalam kategori di atas.

Pelanggaran sebanyak 269 kali tersebut terdiri dari 26 pembunuhan dan 59 kasul luka-luka, 36 pelanggaran tembakan, 29 serangan darat, sembilan serangan bom, lima nelayan dan sopir yang ditahan.

Israel juga melakukan pelanggaran udara dengan “105 pelanggaran tercatat melibatkan penerbangan pesawat pengintai dan drone, termasuk Hermes 450, Hermes 900, Super Heron, Zoveit, dan QuadCopter, dengan banyak dari mereka membawa amunisi, terutama di atas wilayah yang ditunjuk untuk penyerahan tawanan”.

Sebelumnya, pada awal gencatan senjata, pelaksanaan kesepakatan bahkan ditunda selama tiga jam pada 19 Januari untuk memberi ruang bagi serangan bom terakhir Israel.

Meskipun gencatan senjata seharusnya dimulai pada pukul 08:30 pagi hari itu, Israel menggunakan penundaan singkat dalam penyerahan daftar tahanan untuk melanjutkan serangan mereka, yang merupakan pelanggaran terhadap ketentuan kesepakatan tersebut.

Barulah pada pukul 11:15 pagi militer Israel menghentikan tembakan kepada penduduk Palestina pada hari pelaksanaan gencatan senjata, yang membunuh 19 penduduk Palestina.

Sementara Hamas menyerahkan tiga tawanan perempuan Israel tepat waktu, sekitar 92 wanita dan anak-anak Palestina yang ditahan oleh Israel dijadwalkan untuk dibebaskan pada pukul 15:00 hari yang sama, akan tetapi mereka baru dibebaskan pada pukul 03:00 keesokan harinya.

Israel juga memiliki pola pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang telah tercatat dengan jelas di masa lalu dan saat ini. Bahkan, tidak ada satu pun kesepakatan gencatan senjata dalam sejarah Israel yang tidak dilanggar dalam beberapa cara.

Pada 2014, Israel melancarkan invasi dan serangan udara skala besar di Jalur Gaza, yang membunuh 2.310 penduduk Palestina, 70 persen di antaranya adalah warga sipil, serta melukai 10.626 orang lainnya. Setelah gencatan senjata 2014, Israel juga secara sewenang-wenang mencegah masuknya bantuan, peralatan, bahan bakar, dan bahan rekonstruksi ke wilayah yang terkepung. Pembatasan ini begitu ketat sehingga rencana rekonstruksi penuh tidak pernah terealisasi.

Tidak hanya di Gaza, Israel juga melanggar kesepakatan gencatan senjata di tempat lain. Ketika pemerintahan Suriah di bawah rezim Bashar Al-Assad digulingkan dan digantikan oleh pemerintahan Hayat Tahrir Al-Sham (HTS) yang dipimpin Ahmad Al-Shara’a, Israel segera membatalkan kesepakatan sebelumnya dan menginvasi Suriah. Israel terus memperluas pendudukan ilegalnya di tanah Suriah hingga hari ini.

Sementara itu, di Lebanon, pejabat tinggi PBB secara terbuka menyerukan untuk mengakhiri pelanggaran gencatan senjata setelah Israel membunuh 15 orang di negara itu. Israel telah melakukan ratusan pelanggaran terhadap gencatan senjata Lebanon, bahkan mulai melanggar kesepakatan tersebut sejak hari pertama.

Kesepakatan tersebut seharusnya berlangsung selama 60 hari, pada akhir periode tersebut pasukan Israel diharapkan menarik diri dari tanah Lebanon. Namun, Tel Aviv memutuskan untuk tetap menjaga pasukannya di Lebanon setelah kesepakatan berakhir, dan meminta perpanjangan kesepakatan tersebut.

Militer Israel bertindak seolah-olah memiliki kebebasan untuk menyerang di mana saja di Lebanon, Suriah, Yaman, Tepi Barat, dan Gaza, bahkan melontarkan ide untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran.

(T.FJ/S: The Palestine Chronicle)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!