Israel Kian Terpojok, Opini Publik Amerika Kini Pilih Palestina

Ribuan pengunjuk rasa pro-Palestina berdemonstrasi dan berbaris di pusat kota Manhattan untuk mengecam krisis kelaparan yang dialami penduduk Palestina Gaza akibat blokade Israel, pembunuhan jurnalis yang dilakukan tentara Israel, dan dukungan AS yang berkelanjutan terhadap militer Israel. (Foto: Globallookpress via RT Arabic)

Washington, SPNA – Penulis dan kolumnis Israel, Ben-Dror Yemini, sebagaimana dilansir RT Arabic, pada Senin (01/09/2025), menyatakan bahwa Israel tengah mengalami fase paling genting secara diplomatik di Amerika Serikat, dengan citra negara itu mencapai titik terendah dalam sejarah opini publik Amerika.

Dalam artikelnya yang diterbitkan pada Senin (01/09), di harian Yedioth Ahronoth, Yemini memperingatkan bahwa situasi ini bukan lagi sekadar analisis atau peringatan semata, melainkan telah menjadi ancaman nyata yang bisa memburuk jika militer Israel melancarkan serangan darat ke Kota Gaza.

Menurut Yemini, perdebatan di dalam negeri Israel saat ini lebih terfokus pada kemungkinan invasi ke Gaza, sementara perhatian dunia internasional justru semakin terpusat pada tindakan Israel itu sendiri.

Ia menyoroti bahwa konvensi nasional Partai Demokrat Amerika Serikat pekan lalu menarik kembali dukungannya terhadap solusi dua negara. Hal ini, menurutnya, bukanlah bentuk hukuman bagi Palestina, melainkan justru hadiah bagi pejuang Palestina, khususnya Hamas, mengingat keputusan tersebut didorong oleh menguatnya arus progresif dalam partai tersebut, khususnya di kalangan generasi muda yang menolak segala bentuk penyelesaian yang mencakup pengakuan terhadap Israel.

Yemini juga mencatat bahwa slogan-slogan anti-Israel seperti “Palestina dari sungai ke laut” kini tidak lagi terbatas di kampus-kampus, akan tetapi telah merambah ke panggung politik Amerika. Ia menegaskan bahwa kalangan progresif menerapkan pendekatan yang sama di dunia politik seperti yang mereka lakukan di lingkungan akademik.

Ia pun mempertanyakan: “Apakah ada orang di Israel memikirkan apa yang akan terjadi jika Partai Demokrat kembali menguasai Gedung Putih atau meraih mayoritas di Kongres?”

Di sisi lain, Yemini menyoroti keputusan Partai Likud yang baru-baru ini merayakan pengumuman pendirian 17 permukiman baru di wilayah Binyamin. Menurutnya, sekadar pengumuman seperti itu saja sudah cukup untuk meningkatkan tekanan dan biaya politik yang harus ditanggung Israel, terlepas dari apakah proyek tersebut akan direalisasikan atau tidak, atau apakah ada cukup pemukim yang bersedia menempatinya.

Ia juga merujuk hasil jajak pendapat di AS yang menunjukkan bahwa 60 persen warga Amerika menolak pengiriman bantuan militer tambahan ke Israel, sementara hanya 32 persen yang mendukung. Penolakan tersebut datang dari 37 persen pemilih Partai Republik dan 75 persen dari kubu Demokrat. Yemini mencatat bahwa angka ini merupakan tingkat penolakan tertinggi dan dukungan terendah sejak Universitas Quinnipiac mulai melakukan survei serupa pada tahun 2023.

Tak hanya itu, mantan penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, yang dikenal dekat dengan Israel, beberapa hari lalu menyatakan dukungannya terhadap pelarangan ekspor senjata ke Israel. Yemini menyebut data lainnya juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: hanya 36 persen warga AS yang menyatakan dukungan terhadap Israel, sementara 37 persen mendukung Palestina. Bahkan, setengah dari responden survei percaya bahwa Israel sedang melakukan genosida, sementara hanya 35 persen yang menyangkalnya.

Menurutnya, perubahan sikap ini tidak lagi terbatas di kalangan aktivis kampus, melainkan juga tercermin dalam sikap resmi Partai Demokrat yang semakin mencerminkan pandangan para pemilihnya. Ia menilai bahwa Israel tengah berada dalam masa paling suram dalam hubungannya dengan Amerika Serikat. Bahkan, tokoh-tokoh dari Partai Republik yang selama ini dikenal sangat kritis terhadap Israel, seperti Tucker Carlson, Candace Owens, dan Marjorie Taylor Greene, kini tidak lagi berada di pinggiran, melainkan telah menjadi kekuatan politik yang berpengaruh luas.

Yemini mengakhiri artikelnya dengan peringatan bahwa meskipun tekanan internasional terhadap Iran merupakan hal yang positif, hal itu tidak mengurangi potensi bahaya dari dampak negatif invasi militer ke Gaza. Ia menekankan bahwa perubahan opini publik di dunia Barat, khususnya di AS, mengindikasikan adanya kemerosotan politik lebih lanjut bagi Israel.

“Kita sudah cukup lama hidup dalam ilusi. Kita tidak butuh ilusi baru bahwa opini publik ini tidak akan memengaruhi Trump,” tutupnya.

(T.FJ/S: RT Arabic)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!