Kairo, SPNA – Seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa pihaknya menuntut Mesir untuk membongkar fasilitas Mesir di Sinai.
Menurut pejabat tersebut, yang diwawancarai oleh surat kabar Israel Hayom, (01/04/2025) Israel menuntut Mesir dan AS agar membongkar seluruh fasilitas militer dan menekankan bahwa Tel Aviv tidak akan menerima adanya infrastruktur militer yang tidak bersifat sementara di Sinai. Pejabat tersebut juga menegaskan bahwa pembongkaran infrastruktur militer Mesir di Sinai merupakan prioritas utama bagi Menteri Pertahanan Israel, Yair Katz.
Tel Aviv menganggap kehadiran militer Mesir di wilayah itu sebagai pelanggaran perjanjian damai yang telah disepakati kedua negara sejak 1979.
Namun, Mesir menolak permintaan ini. Mantan Duta Besar Mesir untuk Israel, Hazem Khairat, menegaskan bahwa Mesir tetap mematuhi perjanjian damai tetapi juga berhak mempertahankan keamanannya.
Israel Khawatir dengan Kekuatan Militer Mesir?
Israel sudah lama mengawasi peningkatan kekuatan militer Mesir di Sinai. Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2024, para pejabat Israel tampaknya semakin gelisah dan berada di bawah tekanan kelompok sayap kanan dalam pemerintahan Netanyahu.
Sebagai salah satu militer terkuat di dunia Arab, Mesir dipandang sebagai potensi ancaman bagi Israel, meskipun hubungan kedua negara relatif stabil. Mesir menegaskan bahwa peningkatan militernya hanya bertujuan menjaga keamanan nasionalnya, terutama di perbatasan Gaza dan Laut Mediterania.
Terkait dengan Gaza?
Permintaan Israel ini juga dikaitkan dengan upaya mereka menekan Mesir terkait perang di Gaza. Dalam beberapa bulan terakhir, Israel terus berusaha mengosongkan wilayah Gaza, khususnya Rafah yang berbatasan langsung dengan Mesir.
Banyak pihak menduga Tel Aviv ingin memaksa Mesir menerima pemindahan warga Palestina dari Gaza ke Sinai, sebuah skenario yang telah ditolak keras oleh pemerintah Mesir. Presiden Abdel Fattah el-Sisi menegaskan bahwa Mesir tidak akan membiarkan pemindahan paksa warga Palestina ke wilayahnya.
Mantan Duta Besar Hazem Khairat juga menyoroti penderitaan warga Gaza yang dipaksa berjalan jauh tanpa akses kebutuhan hidup. Ia mempertanyakan sikap diam komunitas internasional terhadap kebijakan Israel yang dinilai melanggar hak asasi manusia.
Ketidakstabilan di Pemerintahan Netanyahu
Di dalam negeri, politik Israel semakin tidak stabil. Netanyahu mencabut pencalonan Mayor Jenderal Eli Rivit sebagai kepala Shin Bet. Keputusan ini muncul di tengah protes besar terhadap pemerintahannya, yang memperburuk ketegangan politik di Israel.