Israel Bombardir Suriah dengan Lebih dari 250 Serangan Sejak Jatuhnya Rezim Asad

Serangkaian serangan udara Israel yang mengebom Suriah setelah runtuhnya rezim Bashar Asad.

Damaskus, SPNA – Pesawat tempur Israel telah melancarkan lebih dari 250 serangan udara di berbagai lokasi di utara, timur, barat, dan selatan Suriah, sejak Minggu (08/12/2024) hingga Selasa (10/12), dengan menargetkan seluruh sistem pertahanan udara negara itu, pangkalan militer, dan aset militer yang berada di permukaan tanah.

Serangan udara berat ini telah menghancurkan gudang senjata dan amunisi, pabrik, fasilitas riset, serta semua lapangan udara militer dan pangkalan angkatan laut sejak kelompok bersenjata ekstremis memasuki ibu kota Damaskus dan merebut kekuasaan pada pagi hari Minggu.

Media Israel menggambarkan perang kilat ini sebagai “pemboman paling intens” yang terjadi di Suriah sejak Perang Oktober 1973. Channel 12 melaporkan bahwa “angkatan udara beroperasi dalam skala sangat luas di seluruh Suriah untuk menghancurkan sisa-sisa Angkatan Darat Suriah”.

“Dalam lebih dari 250 serangan, angkatan udara menghancurkan tank, pesawat, helikopter, kapal, sistem pertahanan udara, rudal, pabrik militer, dan fasilitas keamanan. Jika operasi ini berhasil, rezim pemberontak baru harus memulai dari awal, dengan senjata sederhana seperti M16 dan Kalashnikov, untuk membangun kemampuan militernya sebagai negara baru,” lapor saluran berita Israel pada malam Senin.

Dalam salah satu serangan udara pada Minggu (08/12), pesawat tempur Israel dilaporkan membom kompleks keamanan di kawasan Kafr Sousa, tengah Damaskus, yang menampung kantor intelijen dan bea cukai, yang mengakibatkan kebakaran besar.

Di dekat kota pelabuhan Latakia, Israel menargetkan fasilitas pertahanan udara dan merusak kapal-kapal angkatan laut Suriah serta gudang-gudang militer. Di dalam dan sekitar ibu kota, Damaskus, serangan-serangan tersebut menargetkan instalasi-instalasi militer, pusat-pusat penelitian, dan administrasi peperangan elektronik.

Lembaga pemantau independen untuk konflik yang sedang berlangsung di Suriah, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), mengatakan Israel telah “menghancurkan lokasi militer terpenting di Suriah, termasuk bandara Suriah dan gudang-gudangnya, skuadron pesawat, radar, stasiun sinyal militer, dan banyak depot senjata dan amunisi di berbagai lokasi di sebagian besar wilayah Suriah.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada hari Selasa (10/12) mengonfirmasi bahwa militer telah menyerang beberapa kapal angkatan laut Suriah dalam serangan Senin malam.

“(Militer Israel) telah beroperasi di Suriah dalam beberapa hari terakhir untuk menyerang dan menghancurkan kemampuan strategis yang mengancam Negara Israel. Angkatan laut beroperasi tadi malam untuk menghancurkan armada Suriah dengan sangat sukses,” kata Katz saat berkunjung ke pangkalan angkatan laut di kota Haifa.

Gelombang serangan udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di Suriah ini menyusul “perluasan” sepihak zona penyangga Israel di Dataran Tinggi Golan yang diduduki, sebuah langkah yang menurut PBB merupakan pelanggaran gencatan senjata 1974 atau Perjanjian Pelepasan 1974 antara Israel dan Suriah.

“Tidak boleh ada pasukan atau aktivitas militer di kawasan pemisahan. Israel dan Suriah harus melanjutkan untuk mematuhi ketentuan perjanjian 1974 tersebut dan menjaga stabilitas di Golan,” kata Stéphane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, kepada wartawan pada Senin.

Pasukan Israel menduduki Gunung Hermon Suriah dan beberapa kota serta desa pada Minggu, tak lama setelah jatuhnya Damaskus, dengan maju beberapa kilometer ke dalam negara itu tanpa adanya perlawanan.

“Ini adalah hari bersejarah bagi Timur Tengah. Runtuhnya rezim Assad, tirani di Damaskus, menawarkan peluang besar tetapi juga penuh dengan bahaya signifikan,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato yang disiarkan dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki, di mana ia juga mengklaim bertanggung jawab atas penggulingan Assad.

Netanyahu mengklaim bahwa perjanjian gencatan senjata 1974 telah “runtuh” bersama dengan pemerintah Suriah. “Kami memberi perintah kepada tentara Israel untuk mengambil alih posisi-posisi ini untuk memastikan tidak ada kekuatan musuh yang menanamkan diri tepat di sebelah perbatasan Israel. Ini adalah posisi defensif sementara hingga pengaturan yang sesuai ditemukan,” tuduh Netanyahu.

“Serangan Israel terhadap Suriah bersifat sistematis. Mereka bertujuan untuk menghancurkan pangkalan pertahanan Suriah,” kata Resul Serdar dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Damaskus.

Serdar mengatakan serangan terbaru Israel menargetkan tiga bandara utama, di Homs, Qamishli, dan Damaskus, serta depot senjata dan lokasi militer strategis lainnya.

“Israel mengklaim melakukan ini karena khawatir fasilitas strategis dan peralatan militer ini dapat jatuh ke tangan oposisi,” kata Serdar.

Kepemimpinan baru di Damaskus, yang dipimpin oleh mantan komandan ISIS dan Al-Qaeda Abu Mohammed Al-Julani, sebagian besar diam tentang pendudukan Israel di selatan Suriah dan serangan tanpa henti di seluruh negara itu.

(T.FJ/S: Aljazeera, The Cradle)

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya