Jalur Gaza, SPNA – Juru bicara militer Brigade Al-Qassam, Abu Ubaidah, menyampaikan pernyataan penting pada Jumat (05/04/2025) yang mengungkap kondisi terbaru para tawanan Israel yang ditahan pejuang Hamas.
Dalam pernyataannya yang disiarkan oleh Al-Jazeera, Abu Ubaidah mengungkapkan bahwa sekitar separuh dari tawanan Israel yang masih hidup kini berada di wilayah-wilayah yang diminta oleh tentara pendudukan Israel untuk dikosongkan dalam beberapa hari terakhir.
Abu Ubaidah menegaskan bahwa pihaknya telah memutuskan untuk tidak memindahkan para tawanan tersebut dari wilayah-wilayah tersebut, melainkan tetap menempatkan mereka di bawah pengamanan ketat meskipun berisiko tinggi terhadap keselamatan mereka.
“Jika musuh benar-benar peduli terhadap keselamatan para tawanan mereka, maka mereka harus segera membuka jalur negosiasi untuk menyelamatkan atau membebaskan mereka. Kami telah memberikan peringatan yang jelas.”
Ancaman Terbuka kepada Israel
Dalam pernyataan yang sarat pesan ancaman tersebut, Abu Ubaidah menyalahkan langsung pemerintah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu atas nasib para tawanan.
“Pemerintah Netanyahu memikul tanggung jawab penuh atas keselamatan para tawanan. Andai mereka benar-benar peduli terhadap nasib para tawanan itu, mereka pasti sudah mematuhi perjanjian yang telah ditandatangani sebelumnya, dan sebagian besar dari mereka sekarang sudah berada di rumah masing-masing.”
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan di dalam negeri Israel terkait isu tawanan. Pada hari yang sama, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Herzi Halevi, dilaporkan bertemu dengan keluarga para tawanan dan menegaskan bahwa misi militer di Gaza tetap berfokus pada pembebasan mereka.
Namun, banyak keluarga tawanan mulai mempertanyakan efektivitas strategi militer. Sejumlah keluarga yang dikutip oleh media Israel menyatakan bahwa Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, tetap yakin bahwa tekanan militer akan menghasilkan pembebasan, namun kenyataannya sudah satu setengah tahun berlalu tanpa hasil yang signifikan.
Menurut laporan yang dimuat oleh Haaretz pada hari Jumat, seorang pejabat senior Israel menyatakan bahwa saat ini terdapat setidaknya 21 tawanan Israel yang diyakini masih hidup di Jalur Gaza, sementara jumlah yang tewas mencapai 36 orang dari total 59 orang yang ditawan sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023. Sementara itu, nasib dua orang tawanan masih belum diketahui.
Laporan lainnya memperkirakan bahwa dari 59 tawanan, sekitar 24 orang masih hidup. Di sisi lain, lebih dari 9.500 warga Palestina saat ini mendekam di penjara-penjara Israel, menurut laporan media dan organisasi hak asasi manusia Palestina dan Israel.
Israel Mengkhianati Tahap Kedua Pertukaran Tawanan
Awal Maret lalu, fase pertama dari kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang berlangsung selama 42 hari telah berakhir. Namun pada 18 Maret, Israel berkhianat dan membatalkan partisipasinya dalam tahap kedua perjanjian tersebut dan melanjutkan agresi militer terhadap Jalur Gaza.
Sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 50.000 warga Palestina gugur, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk di tengah kelangkaan bantuan dan blokade total yang diberlakukan Israel.
Abu Ubaidah: “Kami Tidak Akan Menyerah di Bawah Tekanan”
Mengakhiri pernyataannya, Abu Ubaidah menyampaikan bahwa setiap langkah militer Israel yang menargetkan wilayah tempat para tawanan berada akan memperbesar risiko terhadap keselamatan mereka.
“Keputusan kami untuk tetap menjaga mereka di wilayah tersebut bukan tanpa pertimbangan. Namun musuh harus tahu, semakin lama mereka menghindari negosiasi, semakin besar ancaman terhadap nyawa rakyat mereka sendiri,” ujarnya.
Pernyataan keras ini dipandang sebagai bentuk tekanan balik terhadap Israel, yang sejauh ini mengandalkan pendekatan militer dalam upaya membebaskan tawanan, alih-alih membuka jalur diplomatik yang efektif.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana pemerintah Israel akan merespons ultimatum ini. Dengan semakin meningkatnya ketegangan dan kemarahan keluarga tawanan, serta fakta bahwa separuh dari mereka kini berada di zona perang, keputusan pemerintah Israel dalam beberapa hari ke depan bisa menjadi penentu hidup atau matinya para tawanan Israel yang tersisa.
(T.RS/S:Al-Jazeera)