Jalur Gaza, SPNA – Gerakan Perlawanan Islam Hamas pada Jumat (18/10/2024) secara resmi mengumumkan gugurnya Yahya Sinwar, Kepala Biro Politik Hamas, dalam baku tembak dengan pasukan Israel di Tel Sultan, Rafah.
Khalil Hayya, anggota Biro Politik Hamas, mengonfirmasi bahwa Sinwar gugur dalam pertempuran tersebut. “Hamas berduka atas gugurnya pejuang syahid Yahya Sinwar, pemimpin serangan Toufan Al-Aqsa. Dengan penuh kebanggaan, kami menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Palestina dan dunia. Sinwar adalah pemimpin yang berani dan telah mengorbankan hidupnya demi pembebasan Palestina.”
Hayya menegaskan bahwa Sinwar gugur sebagai syuhada yang berjuang di garis depan melawan pasukan Israel. Hamas berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan hingga tercapainya kemerdekaan Palestina dengan Al-Quds sebagai ibu kota. Ia juga memperingatkan bahwa tawanan Israel di Gaza tidak akan dibebaskan kecuali Israel menghentikan serangan dan menarik pasukan dari wilayah tersebut.
Kronologi Pertempuran di Tel Sultan
Pada Rabu, pasukan Brigade 828 terlibat dalam baku tembak dengan tiga anggota Hamas di Tel Sultan, barat Rafah, dan berhasil menewaskan mereka. Juru Bicara IDF, Daniel Hagari, mengungkapkan bahwa pasukan Israel tidak mengetahui bahwa Sinwar berada di dalam bangunan tempat pertempuran terjadi. Tes DNA kemudian mengidentifikasi salah satu korban sebagai Yahya Sinwar.

Arsitek Serangan Toufan Al-Aqsa
Yahya Sinwar dikenal sebagai tokoh penting di balik serangan “Toufan Al-Aqsa” yang dilancarkan pada 7 Oktober 2023 oleh Hamas dan Jihad Islam, menyerang permukiman dan basis militer Israel di sekitar Gaza. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerugian besar bagi Israel, meruntuhkan reputasi keamanan Israel.
Pada Agustus 2024, Sinwar terpilih sebagai Kepala Biro Politik Hamas, menggantikan Ismail Haniyeh yang gugur dalam serangan di Teheran pada Juli 2024, yang diyakini dilakukan oleh Israel meskipun Tel Aviv belum mengakui keterlibatannya.
Serangan Israel di Gaza
Sejak serangan Toufan Al-Aqsa, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza, yang telah menyebabkan lebih dari 42.438 warga Palestina tewas, termasuk 11.000 orang yang dinyatakan hilang. Blokade Israel dan serangan yang berkelanjutan menciptakan krisis kemanusiaan yang menghancurkan infrastruktur dan menyebabkan kelangkaan pangan serta obat-obatan.
Gugurnya Sang Pejuang dan Novelis
Selain sebagai pemimpin Hamas, Sinwar juga dikenal sebagai seorang novelis. Novel pertamanya, The Thorn and Carnation, yang ditulis saat ia dipenjara di Israel, menggambarkan kehidupan keluarga pengungsi Palestina yang berjuang di tengah pendudukan. Melalui karyanya, Sinwar menggambarkan penderitaan rakyat Palestina sejak 1948 dan perjuangan mereka melawan pendudukan.
Kematian Yahya Sinwar menjadi kehilangan besar bagi Hamas dan Palestina, namun warisan perjuangan dan karya tulisnya akan terus hidup dalam hati rakyat Palestina.

(T.RS/S:Palinfo)