Genosida Israel Hancurkan Ekonomi Gaza, Jutaan Warga Kehilangan Mata Pencaharian

Sejumlah truk bantuan kemanusiaan yang masuk ke Jalur Gaza. (Foto: Anadolu Agency)

Jalur Gaza, SPNA – Kehancuran ekonomi akibat genosida Israel membuat jutaan warga Palestina di Jalur Gaza kehilangan sumber pendapatan dan semakin bergantung pada bantuan kemanusiaan. Data Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) menunjukkan, sebanyak 92 persen unit usaha di Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran sejak Oktober 2023, sementara tingkat pengangguran mencapai 78 persen pada 2025.

Laporan Pusat Informasi Palestina pada Jumat (16/10/2026) menyebutkan, krisis ekonomi Gaza tidak lagi sekadar berkaitan dengan kenaikan harga atau terbatasnya ketersediaan barang di pasar. Kehancuran sarana produksi, hilangnya pekerjaan, dan terhentinya aktivitas usaha membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar meskipun sejumlah barang masih tersedia di pasar.

Menurut data UNCTAD yang diterbitkan pada 24 September 2026, produk domestik bruto (PDB) riil per kapita Gaza turun menjadi 212 dolar AS pada 2025, atau sekitar 17 persen dari tingkat 2022. Produksi sektor pertanian dan industri masing-masing merosot 94 persen dibandingkan 2022, sedangkan sektor konstruksi mengalami penurunan hingga 99 persen.

Kerusakan tersebut tidak hanya menghilangkan pekerjaan yang sudah ada, tetapi juga mempersempit peluang terciptanya lapangan kerja baru. Usaha yang kehilangan peralatan, persediaan, dan tempat produksi tidak dapat kembali beroperasi hanya dengan membuka pintunya. Demikian pula para pekerja yang kehilangan tempat kerja dan peralatan tidak otomatis memperoleh penghasilan ketika aktivitas pasar mulai pulih.

Barang Tersedia, Daya Beli Warga Merosot

Krisis ekonomi Gaza memperlihatkan kesenjangan antara ketersediaan barang dan kemampuan masyarakat untuk membelinya. Pemantauan pasar oleh Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) pada Juni 2026 menunjukkan bahwa sejumlah kebutuhan pangan dan nonpangan masih tersedia di pasar yang dipantau. Harga beberapa bahan makanan juga menurun dibandingkan lonjakan pada Maret 2026.

Namun, terbatasnya kesempatan kerja dan lemahnya daya beli tetap menghalangi keluarga rentan memenuhi kebutuhan mereka. Penurunan harga sejumlah bahan pangan tidak serta-merta membuat kebutuhan sehari-hari terjangkau bagi keluarga yang kehilangan pendapatan atau hanya mengandalkan bantuan terbatas.

Kebutuhan rumah tangga juga tidak terbatas pada makanan. Warga harus membagi sumber daya yang semakin sedikit untuk membeli obat-obatan, bahan bakar, pakaian, perlengkapan kebersihan, membayar transportasi, dan memenuhi kebutuhan anak-anak.

Karena itu, membaiknya ketersediaan barang di pasar belum cukup untuk menunjukkan pemulihan ekonomi. Perbaikan juga harus terlihat dari pulihnya pendapatan keluarga, bertambahnya kesempatan kerja, dan meningkatnya kemampuan warga membeli kebutuhan pokok secara berkelanjutan.

Bantuan Tunai Menjadi Penopang Keluarga

Di tengah hilangnya sumber pendapatan, bantuan tunai semakin penting bagi keluarga terdampak. Data UNICEF mengenai rumah tangga penerima bantuan pada Juni 2026 menunjukkan bahwa bantuan tunai menjadi sumber utama pendapatan atau dukungan bagi 72 persen keluarga yang tercakup dalam pemantauan.

Lebih dari 60 persen total pengeluaran rumah tangga dalam kelompok yang dipantau digunakan untuk kebutuhan nonpangan, termasuk perlengkapan kebersihan, layanan kesehatan, bahan bakar, transportasi, pakaian, komunikasi, pembayaran utang, dan kebutuhan anak-anak.

Data tersebut menunjukkan bahwa bantuan tunai tidak hanya digunakan untuk membeli makanan, tetapi juga untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang saling berkaitan. Meski demikian, angka tersebut hanya menggambarkan keluarga penerima bantuan yang dipantau dan tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh rumah tangga di Gaza.

Bantuan kemanusiaan dapat mencegah kondisi keluarga semakin memburuk, tetapi tidak serta-merta memulihkan kemandirian ekonomi mereka. Kecukupan bantuan juga bergantung pada jumlah yang diterima, keteraturan penyaluran, harga barang, dan besarnya kebutuhan setiap keluarga.

Ketika pendapatan terhenti, keluarga terpaksa mencari cara lain untuk bertahan hidup. Sebagian menggunakan tabungan, meminjam uang dari kerabat atau pedagang, menerima bantuan barang dan makanan siap saji, atau menjual harta benda untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, strategi tersebut memiliki keterbatasan. Dukungan kerabat dapat berkurang ketika keluarga lain menghadapi kesulitan serupa, sementara utang yang terus bertambah berpotensi memperberat beban ekonomi pada bulan-bulan berikutnya.

Jutaan Warga Terancam Kerawanan Pangan

Keterpurukan ekonomi juga memperburuk risiko kerawanan pangan di Gaza. Analisis Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) yang diterbitkan pada Juli 2026 memperkirakan lebih dari 1,4 juta orang, atau sekitar 67 persen populasi Gaza, akan menghadapi kerawanan pangan tingkat krisis atau lebih parah selama Juli hingga Desember 2026 berdasarkan skenario yang digunakan dalam analisis tersebut.

Akses terhadap pangan masih terkendala lemahnya daya beli, tingginya biaya untuk menjangkau pasar, ketidakstabilan pasokan, serta terbatasnya aktivitas ekonomi dan peluang pemulihan mata pencaharian.

Pengangguran membatasi kemampuan keluarga menghasilkan pendapatan, sementara pendapatan yang rendah mengurangi kemampuan mereka membeli makanan. Ketergantungan pada bantuan juga membuat pemenuhan kebutuhan dasar bergantung pada keberlanjutan dukungan dan kelancaran distribusinya.

Krisis tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membeli makanan saat ini, tetapi juga dengan hilangnya kapasitas produksi lokal yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada masa mendatang.

Pemulihan Ekonomi Membutuhkan 71,5 Miliar Dolar

Skala kehancuran ekonomi tercermin dalam perkiraan UNCTAD mengenai kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi Gaza yang mencapai 71,5 miliar dolar AS. Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan untuk memulihkan perekonomian dan infrastruktur, bukan berarti seluruh dana itu telah tersedia atau rekonstruksi dapat segera dilaksanakan.

Pemulihan ekonomi membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan kembali gedung. Usaha produktif perlu kembali beroperasi, peralatan dan bahan baku harus tersedia, infrastruktur dipulihkan, perdagangan dibuka, dan lapangan kerja yang berkelanjutan diciptakan.

Karena itu, penanganan krisis Gaza memerlukan dua langkah yang berjalan bersamaan. Pertama, memastikan bantuan pangan dan tunai tetap menjangkau keluarga yang membutuhkan, disertai akses terhadap air bersih, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Kedua, memulihkan kemampuan masyarakat menghasilkan pendapatan melalui pembukaan kembali usaha, dukungan terhadap usaha kecil, serta pemulihan sektor pertanian dan industri.

Tanpa pemulihan sumber pendapatan dan kegiatan produksi, sebagian besar warga berisiko terus bergantung pada bantuan meskipun ketersediaan barang di pasar mulai membaik. Kondisi ekonomi Gaza pada akhirnya tidak cukup dinilai dari jumlah bantuan yang disalurkan atau barang yang tersedia di pasar. 

(T.RS/Palinfo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya