Gaza, SPNA – Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Minggu (27/10/2025), melaporkan hampir 100 penduduk Palestina meninggal akibat serangan Israel sejak rencana gencatan senjata yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai berlaku.
Menurut laporan statistik harian kementerian tersebut, sebanyak 93 orang meninggal dunia dan 332 lainnya terluka sejak 11 Oktober. Kementerian Kesehatan Palestina menambahkan bahwa hingga saat ini pihaknya telah mengevakuasi jenazah 472 penduduk Palestina yang meninggal dunia selama perang.
“Masih banyak korban yang tertimbun di bawah reruntuhan dan tergeletak di jalanan, karena tim ambulans dan pertahanan sipil belum dapat menjangkau lokasi,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan.
“Dari 195 jenazah yang diserahkan oleh pihak penjajah, baru 72 yang berhasil diidentifikasi,” tambahnya. Banyak dari jenazah penduduk Palestina yang dikembalikan dalam proses pertukaran tiba di Gaza dalam kondisi tidak dapat dikenali, sebagian hangus terbakar atau membusuk. Beberapa lainnya ditemukan dalam keadaan terikat, dengan tanda-tanda penyiksaan dan eksekusi.
Serangan Israel di Jalur Gaza terus berlanjut, meski hal itu dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata.
Dua penduduk sipil dilaporkan meninggal dunia akibat serangan pesawat nirawak (drone) Israel di Kota Abasan al-Kabira, sebelah timur Khan Yunis di Gaza selatan. Militer Israel mengklaim bahwa penduduk Palestina melintasi garis gencatan senjata dan dianggap sebagai “ancaman” bagi pasukannya.
Wilayah Khan Yunis dan Rafah juga mengalami serangan artileri hebat, sementara Kota Deir al-Balah di bagian tengah Gaza ditembaki tank-tank Israel.
Akhir pekan lalu, satu orang meninggal dunia dan beberapa lainnya luka-luka akibat serangan udara Israel di Nuseirat, Gaza tengah. Militer Israel menyatakan serangan itu menargetkan seorang anggota Brigade Quds dari Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) yang disebut sedang merencanakan serangan terhadap pasukan Israel.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin (27/10) membela serangan tersebut dengan menyatakan, “Kami tidak menganggap hal itu sebagai pelanggaran gencatan senjata”.
Dalam pernyataannya pada Sabtu (26/10), PIJ menolak klaim tersebut. “Pernyataan tentara pendudukan bahwa anggota Brigade Quds di Nuseirat sedang mempersiapkan operasi mendesak adalah kebohongan dan rekayasa yang bertujuan membenarkan agresinya serta pelanggaran terhadap gencatan senjata,” ujar kelompok itu.
“Kami menuntut agar para mediator menegakkan tanggung jawab mereka, memastikan komitmen terhadap gencatan senjata, dan memaksa tentara pendudukan menghentikan serangan yang dapat memicu reaksi,” tambah pernyataan tersebut.
Akhir pekan sebelumnya, Israel dilaporkan telah membunuh puluhan penduduk sipil dan menargetkan beberapa komandan militer senior pejuang perlawanan Palestina.
Tel Aviv menuntut pelucutan senjata kelompok pejuang Palestina secara segera, tuntutan yang mendapat dukungan dari Washington dan, menurut laporan, juga sejumlah negara Arab.
Sementara itu, rencana penuh gencatan senjata Trump menyerukan agar kelompok perlawanan menyerahkan seluruh senjatanya. Namun, hingga kini kelompok pejuang Palestina dan Israel baru menyepakati tahap pertama yang mencakup pertukaran tawanan, penyaluran bantuan kemanusiaan, serta penarikan awal pasukan Israel.
Kelompok pejuang Palestina pada awalnya menyetujui protokol tersebut, namun menegaskan bahwa aspek lain dari kesepakatan itu masih perlu dibahas lebih lanjut.
Rencana lengkap Trump juga memberikan Israel hak untuk mempertahankan kehadiran “perimeter” di dalam wilayah Gaza hingga kawasan tersebut dinyatakan “bebas dari teror”. Kelompok perlawanan Palestina telah menyatakan kesediaannya untuk mundur dari pemerintahan di Gaza, akan tetapi menolak untuk melucuti senjata.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa sejak awal serangan Israel pada 7 Oktober 2023, lebih dari 68.000 orang meninggal dunia dan lebih dari 170.000 lainnya luka-luka, sementara ribuan bangunan hancur dan infrastruktur utama lumpuh.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Minggu (26/10/2025), mengonfirmasi bahwa pasukan Israel menjatuhkan sekitar 153 ton bom ke wilayah Jalur Gaza, dalam operasi militer yang disebutnya sebagai tanggapan atas serangan terhadap pasukan Israel di Rafah. Pengakuan tersebut disampaikan Netanyahu di hadapan parlemen Israel (Knesset) dan menjadi indikasi bahwa gencatan senjata yang disepakati sebelumnya telah dilanggar.
(T.FJ/S: The Cradle, AA)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!