Gaza Kini Menjadi Panti Yatim Terbesar di Dunia: Warisan Pahit dari Kekejaman Israel

Anak perempuan Palestina hanya bisa menangisi kematian orang tua yang gugur akibat serangan Israel, di Deir Al-Balah, Jalur Gaza tengah, 28 Juni 2024. (Credit: ABC News)

Jalur Gaza, SPNA – Pembantaian sistematis terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza telah menjadikan Gaza sebagai rumah anak yatim terbesar dalam sejarah modern. 

Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik Palestina mengungkapkan bahwa lebih dari 39.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat serangan brutal Israel. Dari jumlah tersebut, 17.000 anak kehilangan kedua orang tua, meninggalkan mereka dalam penderitaan tanpa perlindungan dan dukungan keluarga.

Dalam 534 hari agresi Israel, angka kematian terus melonjak tanpa henti. 17.954 anak Palestina telah gugur, termasuk 274 bayi yang baru lahir dan tewas di bawah hujan bom, serta 876 anak berusia di bawah satu tahun. Lebih tragis lagi, 17 anak meninggal kedinginan di kamp pengungsian, sementara 52 anak tewas akibat kelaparan setelah Israel menerapkan blokade yang menutup akses makanan dan minuman untuk masuk ke Gaza. 

Israel secara sadar menargetkan anak-anak, bukan hanya dengan serangan udara mematikan, tetapi juga dengan penangkapan massal dan penyiksaan sistematis. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 1.055 anak Palestina ditangkap, dengan 700 kasus terjadi sepanjang 2024. Anak-anak ini tidak hanya mengalami pemukulan, penyiksaan, dan hidup di dalam jeruji besi tanpa pengadilan, tetapi juga dihadapkan pada kondisi yang melanggar semua norma hukum internasional dan Konvensi Hak Anak. Lebih dari 350 anak Palestina masih mendekam di penjara-penjara Israel hingga awal Maret 2025.

Selain serangan militer, Israel juga menggunakan kelaparan sebagai senjata perang. Laporan terbaru mencatat bahwa 1,95 juta warga Gaza mengalami kelaparan akut, dengan 345.000 di antaranya menghadapi kelaparan ekstrem. Anak-anak menjadi korban utama, dengan 60.000 anak balita mengalami malnutrisi akut, termasuk 12.000 dalam kondisi kritis yang dapat menyebabkan kematian akibat kegagalan organ. Bahkan wabah polio yang telah lama diberantas kini kembali muncul di Gaza, akibat kehancuran total sistem kesehatan yang disengaja oleh Israel.

Anak-anak Tanpa Masa Depan

Israel tidak hanya membunuh anak-anak secara fisik, tetapi juga menghancurkan masa depan mereka. Selama 471 hari agresi, Israel telah menghancurkan 111 sekolah negeri, merusak 241 sekolah lainnya, serta menyerang 89 sekolah milik UNRWA. Akibatnya, 700.000 siswa Gaza kehilangan hak pendidikan mereka, sementara 39.000 siswa tidak bisa mengikuti ujian akhir sekolah menengah atas. 

Lebih dari 12.441 siswa dan 519 guru tewas, sementara 19.819 siswa dan 2.703 guru mengalami luka-luka.

Israel secara sadar dan terencana membumihanguskan seluruh aspek kehidupan rakyat Palestina. Kebiadaban ini dilakukan dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, yang terus memberikan senjata, dana, dan perlindungan politik kepada rezim penjajah ini. Kejahatan perang yang dilakukan Israel bukan hanya pembunuhan massal, tetapi juga upaya pemusnahan sistematis terhadap generasi Palestina.

(T.RS/S:Wafanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya