Jalur Gaza, SPNA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terang-terangan menyatakan ambisinya untuk mengambil alih kendali penuh atas seluruh wilayah Gaza. Dalam sebuah video yang dirilis melalui Telegram, ia menyatakan, “Kami akan menguasai seluruh wilayah Jalur Gaza. Pertempuran berlangsung sengit dan kami sedang mencatat kemajuan.”
Pernyataan ini mempertegas perubahan arah strategis Israel yang tidak lagi sekadar memburu Hamas, melainkan menuju pendudukan total.
Israel meluncurkan serangan darat besar-besaran di Khan Younis dan memperluas operasi militer ke seluruh Gaza, Israel secara de facto sedang mempersiapkan aneksasi wilayah yang secara hukum internasional bukan milik mereka.
Rencana Netanyahu bukan lagi sebatas operasi militer, tetapi skema penghancuran terstruktur yang mengarah pada penghapusan eksistensi Gaza sebagai entitas. Militer Israel, dengan restu penuh pemerintah, telah mengusir paksa rakyat Gaza di wilayah padat penduduk dan melancarkan serangan udara dan darat secara simultan.
PBB melalui kantor HAM-nya menyatakan bahwa penghancuran wilayah sipil yang begitu luas, pengusiran paksa, dan pembatasan bantuan kemanusiaan merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan bisa dikategorikan sebagai pembersihan etnis. Yang terjadi di Gaza adalah pembumihangusan yang dirancang untuk menghilangkan eksistensi kolektif rakyat Palestina di sana.
Sejak 7 Oktober 2023, korban jiwa akibat agresi Israel di Gaza telah mencapai 53.486 orang, termasuk lebih dari 21.000 anak-anak dan perempuan. Dalam dua bulan terakhir sejak dimulainya kembali operasi brutal pada 18 Maret 2025, sedikitnya 3.340 orang Palestina tewas.
Hampir seluruh penduduk Gaza, sekitar 1,9 juta jiwa atau 90% populasi, telah terusir dari rumah dan hidup sebagai pengungsi internal kamp pengungsian yang juga terus dibombardir.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa 436.000 unit rumah telah hancur atau rusak berat, yang berarti 92% bangunan tempat tinggal musnah. Sebanyak 69% dari seluruh bangunan dan 68% infrastruktur jalan sudah tidak berfungsi.
Israel juga telah membunuh lebih dari 1.050 tenaga medis dalam serangan yang menargetkan rumah sakit dan ambulans, dan tercatat 668 serangan terhadap fasilitas medis.
Dari total 36 rumah sakit utama, hanya 17 yang masih bisa beroperasi, itu pun dengan keterbatasan luar biasa. WHO menyatakan bahwa lebih dari 500.000 orang berada di ambang kelaparan dan 60.000 anak-anak mengalami malnutrisi akut. Gaza telah menjadi ladang kematian terbuka, di mana tidak ada tempat yang aman, tidak ada fasilitas yang utuh, dan tidak ada ruang untuk hidup.
Bantuan Kemanusiaan Dijadikan Alat Politik
Dalam kondisi kelaparan ekstrem dan keruntuhan sistem kesehatan, Israel akhirnya mengizinkan sejumlah truk bantuan masuk, bukan karena alasan kemanusiaan, tetapi karena alasan diplomatik.
Netanyahu secara terang-terangan menyatakan bahwa gambar-gambar terkait kelaparan massal dapat merusak legitimasi operasi militer Israel di mata dunia.
Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir bahkan menentang masuknya bantuan apapun ke Gaza, dan sesumbar mengatakan: “Sandera tidak menerima bantuan kemanusiaan”, seolah-olah dua juta warga Gaza adalah sandera yang sah untuk disiksa.
Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyetujui bantuan terbatas semata-mata agar Israel tetap mendapatkan perlindungan diplomatik dari negara-negara sekutunya. Maka, bantuan yang seharusnya menjadi hak sipil dijadikan alat tawar-menawar politik, dan dua juta warga Gaza menjadi korban dari kalkulasi sinis para politisi ekstremis Israel.
Dunia Mengecam, Namun Tidak Bertindak
Gelombang kecaman internasional terus meningkat, 22 negara Eropa termasuk Prancis dan Jerman menyatakan bahwa Gaza menghadapi kelaparan massal dan harus segera menerima bantuan. PBB, WHO, dan organisasi kemanusiaan lainnya mengeluarkan peringatan keras, bahkan menyebutkan bahwa truk-truk makanan “berjarak hanya beberapa menit dari Gaza tetapi sengaja diblokir”.
Namun sampai hari ini, Dewan Keamanan PBB tetap lumpuh oleh veto negara-negara besar, terutama Amerika Serikat yang terus membela Israel, bahkan setelah laporan menyebutkan bahwa lebih dari 300 staf UNRWA telah terbunuh oleh serangan Israel. Presiden AS Donald Trump sendiri hanya mengakui bahwa “banyak orang kelaparan” dan menyatakan “akan mengurusnya”, tanpa langkah konkret apapun. Dunia terus bersuara, tetapi tidak bergerak, sementara Gaza terus bersimbah darah.
Netanyahu dan Ambisi yang Memicu Bencana
Ketika Netanyahu mengatakan bahwa Israel akan menguasai seluruh Jalur Gaza, ia tidak hanya menyampaikan ambisi geopolitik, melainkan juga mengakui kebijakan penghancuran sistematis terhadap wilayah dan rakyat Palestina.
Pernyataan tersebut adalah penegasan atas kolonialisme modern yang terang-terangan, yang mengabaikan segala norma hukum internasional, prinsip kemanusiaan, dan martabat manusia. Di tengah reruntuhan rumah warga sipil, rumah sakit, sekolah, dan jenazah yang bergelimpangan, Netanyahu dan kabinet sayap kanannya justru merancang masa depan Gaza sebagai wilayah jajahan, bukan sebagai bagian dari solusi damai.
Dunia hanya menyaksikan tanpa suara, membiarkan neraka Gaza terus membara di bawah bayang-bayang senjata dan kelaparan yang mencekik. Netanyahu boleh saja meraih kemenangan di medan perang, namun dunia justru terperosok ke dalam kegelapan moral yang semakin dalam kehilangan arah, kehilangan kemanusiaan, dan gagal menegakkan keadilan bagi jutaan nyawa yang terjebak dalam penderitaan.