Dunia Masih Bungkam, Gaza dalam Cengkeraman Kelaparan Massal

Jalur Gaza, SPNA – Saat ini Israel gencar mempromosikan rencana membuka “perbatasan baru” di Gaza dan memperluas apa yang mereka sebut sebagai “zona kemanusiaan”, namun kenyataan di lapangan justru membuktikan bahwa ini adalah janji palsu belaka.

Bagi siapa saja yang memperhatikan situasi di Gaza, terlihat jelas bahwa klaim pembukaan perbatasan baru hanya digunakan untuk menyamarkan rencana penutupan perbatasan lain yang sebelumnya sudah berfungsi untuk memasukkan barang dan bantuan. Bahkan, jika beberapa truk bantuan diizinkan masuk, Israel akan memberikan lampu hijau bagi kelompok-kelompok perampok, yang sering kali bekerja sama dengan pihak tertentu, untuk mencuri bantuan kemanusiaan dan menjualnya kembali di pasar dengan harga yang sangat tinggi.

Selain itu, apa yang disebut Israel sebagai “zona kemanusiaan” hanyalah ladang maut, di mana tenda-tenda pengungsi dibombardir, menewaskan anak-anak, wanita, dan lansia tanpa belas kasihan. Mereka yang berhasil bertahan hidup dari kelaparan kini dihadapkan pada ancaman kematian yang terus mengintai.

Kondisi ini bukanlah sekadar penggambaran berlebihan, melainkan realitas yang diakui oleh lembaga-lembaga bantuan internasional dan media global. Bahkan media yang cenderung bias terhadap narasi Israel mulai sulit menutupi kejahatan yang terus berlangsung.

Pasar Kosong, Harga Melambung

Dalam kunjungan singkat reporter Pusat Informasi Palestina ke pasar di Kota Deir al-Balah, tempat ribuan pengungsi berlindung, suasana muram menyelimuti wajah para pembeli. Mereka terjebak antara langkanya barang kebutuhan pokok dan harga yang melambung tinggi untuk barang yang tersedia.

Adalah Abo Hadi, salah satu pegungsi yang dipaksa angkat kaki dari rumahnya di kamp pengungsi Al-Shati oleh Israel sejak awal perang. Ayah 6 orang ini  mengeluhkan kondisi pasar yang hampir tidak menyediakan apa pun. “Ini bukan pasar, ini adalah bencana. Kita tidak mungkin bertahan hidup seperti ini. Harga-harga melambung tinggi, padahal hanya makanan kaleng, bahkan daging sudah lama hilang dari pasar,“ Ungkapnya  dengan wajah penuh kemarahan,

Abo Hadi menegaskan bahwa Gaza saat ini, dari utara hingga selatan, berada di ambang kelaparan total. “Bahan dasar makanan sederhana saja sudah sulit ditemukan, bahkan jika tersedia, harganya sangat mahal,” tambahnya.

Sementara itu, Ummu Salah, seorang wanita tua dari Deir al-Balah, berbagi pengalaman pahitnya. “Dalam hidup saya yang panjang, saya belum pernah melihat hari-hari seburuk ini. Kami bahkan tidak bisa membuat sepiring salad.  Israel tidak hanya membunuh kami dengan bom, tapi juga dengan kelaparan.”

Mendekati Bencana Kelaparan

Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa pasar-pasar di Gaza kini berada dalam kondisi yang sangat buruk. Harga-harga mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah akibat blokade dan serangan yang terus berlangsung sejak 7 Oktober 2023.

 

Dalam sebuah pernyataan di platform media sosial X, WFP menyebutkan bahwa makanan segar, telur, dan daging sudah tidak tersedia. Harga barang yang ada pun melonjak tajam. WFP mendesak agar tim mereka diberi akses untuk membantu masyarakat yang paling membutuhkan.

Badan internasional lainnya, Famine Review Committee (FRC), baru-baru ini mengeluarkan peringatan serius tentang potensi kelaparan massal di Gaza akibat situasi yang terus memburuk dengan cepat.

Sementara itu, organisasi hak asasi manusia Euro-Med Monitor melaporkan bahwa puluhan ribu warga Palestina, termasuk pasien di tiga rumah sakit di Gaza utara, berada dalam ancaman kematian akibat kelaparan dan minimnya bantuan medis. Organisasi ini menyerukan pengakuan resmi atas terjadinya kelaparan di Gaza.

Manipulasi Bantuan oleh Israel

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa blokade Israel bukan hanya tentang melarang masuknya bantuan, tetapi juga melibatkan praktik-praktik tidak manusiawi lainnya. Sebuah investigasi oleh surat kabar Israel Haaretz mengungkap bahwa militer Israel membiarkan kelompok bersenjata tertentu di Gaza merampas truk bantuan.

Dalam laporan itu, disebutkan bahwa kelompok-kelompok ini menghentikan truk-truk dengan memblokade jalan atau menembaki ban truk. Mereka memaksa supir membayar biaya “lewat” sebesar 15.000 syikal. Jika permintaan ini ditolak, barang-barang dalam truk akan dirampas sepenuhnya.

Ironisnya, praktik ini terjadi di bawah pengawasan ketat militer Israel yang menggunakan drone untuk memantau kawasan tersebut. Ketika organisasi bantuan internasional mencoba melapor, Israel menolak untuk campur tangan.

Kondisi Gaza yang semakin parah dan membutuhkan perhatian dunia. Kelaparan, yang dijadikan senjata oleh Israel, telah membawa rakyat Gaza ke jurang bencana kemanusiaan terbesar di era modern. Dunia harus bertindak, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan langkah nyata untuk menghentikan tragedi ini.

(T.RS/S:Palinfo)

 

A writer who longing for the independence of Palestine

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!