Jalur Gaza, SPNA – Jalur Gaza kembali menjadi saksi kebiadaban militer Israel yang kini secara terang-terangan mengubah titik distribusi bantuan kemanusiaan menjadi medan pembantaian massal. Laporan terbaru dari Euro-Mediterranean Human Rights Monitor mengecam tindakan ini sebagai bagian dari rangkaian kejahatan perang dan genosida sistematis terhadap penduduk sipil Palestina.
Dalam laporan yang dilansir Euro-Med Monitor menegaskan bahwa pasukan Israel dengan sengaja memancing warga Gaza yang kelaparan untuk berkumpul di area terbuka dengan janji menyalurkan bantuan pangan, lalu menggempur mereka dengan drone, helikopter, dan kendaraan lapis baja. Titik-titik distribusi itu kini disebut sebagai sarang pembantaian dan perangkap maut oleh kelompok HAM internasional, seperti dikutip Anadolu Agency (16/06/2025).
Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak 27 Mei lalu, sebanyak 338 warga Palestina telah gugur dan lebih dari 2.831 lainnya terluka hanya di sekitar area distribusi bantuan. Dalam 24 jam terakhir saja, 68 warga tewas, termasuk 38 orang yang sedang mengantri bantuan makanan, dan sedikitnya 182 lainnya luka-luka.
Kebanyakan korban adalah anak-anak, perempuan, dan lansia yang berjalan kaki dalam kondisi lapar dan lemah, menempuh jarak berkilometer menuju lokasi bantuan. Namun yang mereka temui bukan roti, melainkan hujan peluru dan ledakan. Bahkan mereka yang berhasil tiba di lokasi distribusi pun hanya menerima secuil bantuan, jauh dari cukup untuk bertahan hidup di tengah bencana kelaparan.
Euro-Med secara khusus menyoroti keterlibatan lembaga bernama Gaza Relief Organization, yang beroperasi di bawah bayang-bayang Israel dan Amerika Serikat. Lembaga ini disebut sebagai alat kolonial baru yang menggunakan kedok bantuan untuk mengontrol, melumpuhkan, dan melenyapkan warga sipil Palestina.
“Organisasi ini tidak layak disebut lembaga kemanusiaan. Ia adalah bagian dari mesin perang kolonial yang menyamar sebagai dermawan,” tulis Euro-Med dalam laporannya.
Lembaga HAM tersebut mendesak investigasi internasional mendalam terhadap Gaza Relief Organization, termasuk penuntutan pidana terhadap para penanggung jawabnya atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan keterlibatan aktif dalam genosida.
Titik distribusi yang menjadi pusat pembantaian disebut merupakan bagian dari mekanisme distribusi bantuan buatan Israel dan AS yang sama sekali tidak melibatkan koordinasi dengan PBB atau organisasi kemanusiaan independen.
Menurut laporan, hanya segelintir truk bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza, jumlahnya sangat tidak mencukupi dibandingkan kebutuhan harian setidaknya 500 truk bantuan untuk menjaga kelangsungan hidup warga. Sebaliknya, ribuan truk dibiarkan tertahan di perbatasan, sementara penduduk Gaza menghadapi kelaparan ekstrem.
Gabungan laporan dari FAO dan WFP PBB pekan ini menyatakan bahwa Gaza telah menjadi titik panas kelaparan paling parah di dunia. Mereka menegaskan bahwa krisis ini bukan kegagalan logistik, tetapi konsekuensi dari kebijakan pengepungan dan penghancuran sistematis yang disengaja oleh Israel, didukung sepenuhnya oleh Amerika Serikat.
Perang yang memasuki hari ke-618 ini telah menelan lebih dari 55.432 korban jiwa dan melukai 128.882 lainnya, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza. Sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.
Euro-Med dan berbagai organisasi HAM internasional menegaskan bahwa apa yang terjadi di Gaza bukan tragedi kemanusiaan biasa, melainkan genosida yang disengaja dan berlangsung dengan restu internasional. Bantuan yang semestinya menyelamatkan justru dijadikan alat pembunuh, dan kelaparan yang semestinya mengundang empati justru digunakan sebagai taktik pemusnahan massal.
(T.RS/S:AnadoluAgency)