Damaskus, SPNA – Pemimpin de facto Suriah dan pemimpin Hayat Tahrir Al-Sham (HTS), Ahmed al-Sharaa, pada Sabtu (14/12/2024), untuk pertama kalinya membahas pelanggaran-pelanggaran Israel terhadap wilayah dan kedaulatan Suriah.
“Kami tidak berniat untuk terlibat dalam konflik dengan Israel,” kata Sharaa—yang baru-baru ini meninggalkan nama samaran Abu Mohammad Al-Julani–dalam sebuah wawancara di TV Suriah, sambil menunjukkan “kondisi Suriah yang lemah”.
Mantan wakil komandan ISIS dan salah satu pendiri Al-Qaeda di Suriah itu menambahkan bahwa “argument” Israel untuk menyerang negara tersebut “sudah tidak ada lag”i.
“Hizbullah dan Iran sudah tidak ada,” katanya.
Namun demikian, Sharaa tidak membahas pendudukan Israel atas sebagian besar wilayah Suriah di barat daya negara itu, yang menurut pejabat di Tel Aviv akan bertahan “hingga musim dingin”.
Sharaa melanjutkan dengan mengklaim bahwa HTS dan sekutunya tidak memiliki permusuhan dengan masyarakat Iran. Meski demikian, ia menyebut kudeta yang didukung oleh AS dan Turki di Suriah sebagai “Kemenangan atas proyek politik Iran yang berbahaya di kawasan ini”.
Ia juga mengatakan bahwa pasukannya “bisa saja menyerang basis militer Rusia di Suriah”, akan tetapi memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Rusia untuk mempertimbangkan kembali hubungan mereka dengan rakyat Suriah.
Laporan dari media Rusia minggu ini menyebutkan bahwa pejabat di Moskow meyakini telah mencapai “pemahaman informal” dengan HTS ini untuk mempertahankan dua pangkalan militernya di negara tersebut, sebuah pangkalan laut di Tartus dan Pangkalan Udara Hmeimim dekat kota pelabuhan Latakia.
Pada hari Sabtu, Reuters mengutip pejabat Suriah yang mengatakan bahwa Kremlin mengurangi kehadiran militernya di garis depan di Suriah utara dan dari posisi-posisi di Pegunungan Alawi, tetapi tetap mempertahankan dua pangkalan militernya.
Dalam wawancara televisinya, Sharaa juga mengungkapkan bahwa ia sedang berhubungan dengan kedutaan-kedutaan Barat dan “mengadakan diskusi dengan Inggris untuk mengembalikan perwakilannya di Damaskus”.
“Kami memiliki rencana sistematis untuk mengatasi penghancuran sistematis yang dilakukan oleh rezim,” kata Sharaa.
Ia menambahkan bahwa pengalamannya memerintah provinsi Idlib dengan dukungan Turki akan diterapkan di provinsi-provinsi lain di negara ini.
Pada hari Sabtu, Sekretaris Negara AS Antony Blinken mengatakan bahwa Gedung Putih sedang berhubungan langsung dengan HTS dan Sharaa, yang masih memiliki hadiah buronan senilai 10 juta dolar atas kepalanya dari pemerintah AS.
“Ya, kami telah berhubungan dengan HTS dan pihak-pihak lainnya. Pesan kami kepada rakyat Suriah adalah ini: Kami ingin mereka berhasil, dan kami siap membantu mereka untuk mencapainya” kata Blinken dalam konferensi pers di Aqaba, Yordania.
(T.FJ/S: The Cradle)