Dilema Israel: Membebaskan Tawanan, Mengorbankan Harga Diri

Kiri ke kanan: Naama Levy, Liri Albag, Daniella Gilboa dan Karina Ariev, tawanan Israel, berdiri di atas panggung sebelum pejuang Hamas menyerahkan mereka ke tim dari Palang Merah di Kota Gaza pada 25 Januari 2025 (AFP)

Jalur Gaza, SPNA – Empat tentara wanita Israel yang ditawan oleh Hamas akhirnya dibebaskan pada Sabtu, 25 Januari 2025, dalam sebuah momen emosional yang disiarkan langsung di televisi. Para keluarga tahanan merayakan kebebasan mereka dengan penuh rasa lega dan sukacita.

“Kami merasa lega dan bahagia setelah 477 hari yang panjang dan penuh ketegangan. Akhirnya, kami dapat memeluk anak kami dan tahu bahwa dia aman bersama kami,” ujar keluarga Albag dalam sebuah pernyataan.

Namun, momen tersebut juga memicu gelombang kritik dan kemarahan di Israel. Empat tentara wanita itu, mengenakan pakaian bergaya militer, diantar ke atas panggung di kota Gaza, dikelilingi oleh pejuang Hamas bersenjata. Mereka melambaikan tangan dan tersenyum sebelum dibawa oleh kendaraan Palang Merah ke Israel. Sebagai gantinya, Israel membebaskan 200 tahanan Palestina.

Banyak politisi Israel yang menganggap proses pembebasan ini sebagai upaya Hamas untuk merendahkan Israel. Beberapa tokoh Israel menyerukan tindakan tegas terhadap Hamas. Shai Golden, seorang jurnalis Channel 13, mengusulkan serangan balik ke Gaza. “Militer Israel harus kembali ke Gaza dan menghentikan binatang buas gila ini. Ini adalah soal eksistensi dan kelangsungan hidup,” ujarnya.

Golden bahkan menyebut bahwa “menghapus mereka dari muka bumi” adalah sebuah keharusan nasional, agama, dan sejarah.

Kesepakatan gencatan senjata sementara yang mulai berlaku pada 19 Januari 2025 ini mengakhiri perang brutal yang telah berlangsung selama 15 bulan. Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 47.000 orang di Gaza, menghancurkan sebagian besar wilayah, dan memaksa hampir seluruh penduduknya mengungsi.

Hamas membebaskan empat tentara wanita Israel pada 25 Januari 2025, diserahkan kepada Palang Merah Internasional (ICRC) sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Sebagai gantinya, Israel membebaskan 200 tahanan Palestina, termasuk Mohammed al-Tous, yang menjalani masa tahanan terpanjang, dan Mohammad Arda, pelarian dari penjara Gilboa pada 2021. Sebanyak 114 tahanan Palestina tiba di Ramallah disambut meriah, sementara 16 tahanan dipindahkan ke Gaza dan 70 lainnya ke Mesir. Keempat tentara Israel dipulangkan ke keluarga mereka di sebuah pangkalan dekat Gaza. Konflik 15 bulan di Gaza menyebabkan kehancuran besar, kematian puluhan ribu orang, dan pengungsian massal. Sebagai bagian dari kesepakatan, Israel akan mundur dari Koridor Netzarim untuk memungkinkan warga Palestina kembali ke rumah mereka.

(T.RS/S:MiddleEastEye)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lainnya