Jalur Gaza, SPNA- Di Gaza, kematian kini datang perlahan, bukan hanya dari peluru, tapi dari perut kosong. Di tengah blokade brutal yang mengunci bantuan makanan, ratusan ribu warga Palestina dipaksa bertaruh nyawa hanya demi sekarung tepung. Mereka pergi membawa harap, pulang tinggal nama. Atau tubuh dingin di atas gerobak tua yang ditarik keledai.
Dalam artikel yang dilansir portal resmi Pemerintah Palestina Wafanews, (20/07/2025), melaporkan bahwa lebih dari 900 warga telah gugur, dan sekitar 6.000 lainnya terluka hanya karena mencoba mencari makan. Setidaknya 71 anak gugur akibat kelaparan dan gizi buruk.
Di satu titik distribusi yang kini dijuluki warga sebagai “Titik Maut”, Rahmah Kalab (63) kehilangan putranya, Muhammad (40), yang ditembak saat mencoba mendapatkan sejumput tepung gandum. Harga satu kilogram tepung kini melambung hingga 100 syikal, hampir 500.000 rupiah. Muhammad pergi dan tak kembali, meninggalkan tiga anak yang semuanya masih kecil.
Nasib serupa menimpa Husam Qudaih (25), warga Rafah. Ia gugur ditembak saat sedang mengantri di titik distribusi yang kini menjadi jebakan maut. Dalam beberapa hari saja, lebih dari 30 orang gugur di titik-titik distribusi seperti itu.
Namun lapar lebih kuat dari takut. Ibrahim Abu Deqqa, pengungsi lainnya, kehilangan sebelah matanya karena serpihan peluru saat mencoba mengantri bantuan makanan. Ia mengaku tak punya pilihan. “Anak-anakku belum makan roti selama seminggu. Saya hanya ingin mereka makan,” katanya sambil menahan sakit.
Di RS Kuwait di Khan Younis, Dr. Suhaib al-Hams menyaksikan langsung gelombang pasien yang datang dengan tubuh kurus kering dan nyaris tak berdaya. “Kami menerima puluhan kasus kelelahan berat dan kelaparan ekstrem setiap hari. Mereka lebih butuh makanan daripada obat,” ujarnya.
Lembaga PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, menyatakan memiliki cadangan makanan cukup untuk tiga bulan di Arish, Mesir. Tapi semua itu tak berarti jika izin masuk tak kunjung diberikan. Di Gaza, lebih dari satu juta anak kini hidup tanpa kepastian makanan berikutnya.
Sementara itu, lembaga medis kewalahan. Tidak ada ranjang yang cukup untuk menampung pasien, tidak obat yang cukup. Menurut data kesehatan, 17.000 anak menderita gizi buruk akut. Beberapa bahkan menunjukkan gejala kehilangan ingatan akibat kelaparan ekstrem. Dalam dua bulan terakhir, UNRWA mencatat sekitar 74.000 pemeriksaan anak, dengan lebih dari 5.500 didiagnosis mengalami gizi buruk akut, dan lebih dari 800 dalam kondisi yang membahayakan nyawa.